Thoughts

Cita-Cita yang Kembali Datang [perjalanan menulis]

Sejak SD aku suka sekali membaca buku Kecil-Kecil Punya Karya karangan penerbit Mizan. Dari edisi pertama sampai entah ke sekian buku aku lahap dengan semangat. Dari sana aku mulai menyukai dunia literasi dari menulis cerita pendek hingga bercita-cita menjadi penulis buku beneran.

Semangat menulis buku fiksi belum luntur hingga aku masuk SMP dan SMA. Di sana aku sering mengikuti lomba menulis cerpen meski enggak pernah menang (ahaha). Pernah sih kayanya, waktu SD aku meraih peringkat 3 satu sekolah 🙂 Terus pas SMP aku meraih peringkat 3 se-Gugus kala pemilihan FSL2N.

Beranjak kuliah, aku pun terdaftar sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi di suatu universitas di Bandung. Dari sana, aku mulai untuk menjajaki dunia jurnalistik. Namun, kuliah hanyalah sebuah teori (prakteknya jarang). Praktek pun tidak mampu membuat melesat begitu saja.

Jujur, aku berlatih menulis sesuai EYD, runut, dan teknik menulis berita di sebuah yayasan masjid terkenal di Kota Bandung. Dulu, 2014, saat masih kuliah tahun pertama, aku melihat postingan teman di Facebook tentang tawaran menjadi jurnalis Ramadhan. Aku pun tertarik untuk mendaftar.

Tak lama, aku dipanggil oleh pemimpin redaksinya (yang mana masih mahasiswa jurnalistik di lain universitas namun sudah tingkat akhir). Di sana aku diwawancara dan dites sedikit soal nilai berita.

Ya, tak lama aku pun diajari untuk liputan. Disuruh wawancara, menulis berita, dan lain-lain. Sampai Ramadan selesai, aku pun ditanya apakah aku ingin lanjut di sini atau tidak. Tentu mau~

Dari sana perjalananku dimulai. Ditempa menulis oleh kakak kakak senior perjurnalistikan. Ditantang mencari ide tulisan, menjangkau narasumber, dan lain-lain.

Sampai akhirnya, aku pun mendapatkan banyak kesempatan untuk bertemu banyak orang hingga mengelola website dan media sosialnya. Sampai pada 2017, aku pun pernah mengurus 20-an lebih relawan untuk membantuku saat Bulan Ramadan. Ya, karena di bulan Ramadan itu banyak acara yang harus diliput 🙂

jurnalis ramadan
Lagi seneng-senengnya ngurusin media~

After Graduation

Aku pun lulus kuliah pada akhir 2017. Dari sana aku melamar kerja di sebuah perusahaan media lokal yang aku incar sejak skripsian. Alasannya karena kantornya dekat rumah dan besaran gajinya sudah sesuai UMR (haha lagi). Setelah dua kali melamar, aku pun diterima di lamaran kedua sebagai wartawan.

Pengalaman menjadi wartawan selama 1,5 tahun menjadi titik terbaik selama hidup. Bagaimana rasanya harus menunggu berjam-jam, dikecewakan, kehujanan, kepanasan, dimarahi narasumber dan atasan, dikejar waktu, ketinggalan agenda, menulis cepat, dan lain-lain.

View this post on Instagram

Pertama kali diriku kerja setelah wisuda sarjana bertakdir di sebuah media online yang bisa dibilang sedang berkembang di Bandung. Tahu enggak sih, loker sebagai reporter di media tersebut itu aku dapetin dari JobStreet. Tapi awal mulanya, aku bercita-cita jadi reporter di manapun. Tapi, aku langsung berdoa aja pengen jadi reporter di media online ini (sebut saja ayobandung) lantaran kenal dari objek penelitian skripsi temanku sendiri. (yg penting Bandung) _ Saat detik-detik mau sidang skripsi, gatau kenapa ada lowongan dari Jobstreet yang masuk ke email bahwa ayobandung menerima lowongan reporter. Kaget dong! Ini seperti jawaban dari Allah. Langsung aja diriku memberi surat lamaran ke kantornya. (gatau kenapa ga apply lgs via jobstreet wkwwk). Esoknya aku dapat panggilan wawancara, namun setelah itu tidak ada kabar baik. _ Hopeless tuh ceritanya. Eh pas detik-detik mau wisuda, tiba-tiba di kolom Jobstreet ada lowongan reporter di ayobandung lagi masa! Nggak pake lama langsung apply job via Jobstreet saja tanpa mengirim lamaran apapun ke kantornya. eh, tiba-tiba besoknya disuruh wawancara ke kantor Wow habis wawancara disuruh langsung praktek lapangan. Kemudian, gak lama langsung disuruh psychotest. _ Beberapa hari setelahnya, dapat telepon kamu keterima. Beneran deh, karir pertama aku usai lulus jadi Sarjana itu dari JobStreet dan pekerjaan itu menjadi hal yang aku mimpikan dari awal kuliah. Juga jadi profesi yang amat banyak pengalamannya. Ketemu orang nomor 1 di Indonesia, Jawa Barat, dan Kota Bandung. _ Ketemu orang baru setiap hari dari berbagai kelompok/kelas, juga belajar terus cara jadi makhluk tahan banting dari atasan dan narsum. PHP adalah makanan sehari-hari. Semua foto dijepret oleh tanganku sendiri. Caranya? Tangan kanan pegang hp untuk foto. Tangan kiri pegang hp untuk rekam suara. HP nya dua? YA. KEBUTUHAN 😑🙌 #IBecomeToday #BecauseofJobstreet

A post shared by Fathia Uqimul Haq (@fathiauqim) on

Belum lagi harus kreatif mencari isu dan melahap informasi yang membludak. Memahami berbagai aturan pemerintahan juga bersiap dengan pesan whatsapp yang banyak. Oh, satu lagi, ribuan kontak yang harus siap tampung dalam gawai. HAHa

Aku tidak menyesali pernah bekerja sebagai wartawan (bahkan nagih memang hahahah). Tapi harus berhenti karena suruhan ortu (tetep). Ya walaupun blogger kesukaanku bilang sampai kapan kita memutuskan hidup apa kata orang, kayaknya ya udah sampai lepas tanggung jawab ke orang tua mungkin aku bisa memutuskan jalan hidup sendiri(?).

Sekolah Lagi

Akhirnya aku daftar sekolah magister dengan jurusan Pariwisata Berkelanjutan. Singkat saja, karena biaya lebih murah dari jurusan lain (apalagi FIKOM) dan lokasi kampus dekat dengan rumah. Dari sana, aku tidak menyesali juga untuk S2. Meluaskan relasi dan mengenal banyak teman baru 🙂 Tentunya, jadi tahu ilmu baru soal Pariwisata.

sekolah magister pariwisata
kakak kelasku sudah sidang usulan riset

Selama kuliah, aku pekerja lepas sebagai penulis (baik menulis artikel, artikel SEO, berita, caption, dll). Sampai saat ini pun masih seperti itu. Cita-cita menjadi penulis buku pun perlahan pudar. Karena, wah cape banget lah nulis panjang. Aku pun jadi seringnya malah nulis berita dan hal-hal berbau marketing (jadi copywriter soalnya). Tapi, semua itu berubah sejak aku membaca buku berjudul “Kelana” karya Famega Syavira Putri.

Dari buku itu cita-cita SD ku menjadi kembali terlihat. Penulisan perjalanan Famega yang menarik membuatku jatuh cinta. Selain itu, pengalamannya menyusuri berbagai negara dari Indonesia hingga Afrika melalui jalur darat. Plus, ia menggunakan Couchsurfing. Sungguh relate dengan perjalanan keluar negeri pertamaku kala 2017. Aku pun jadi ingin menulis perjalananku seperti Mbak Famega.

Ya, di tulisan selanjutnya aku akan mengulas buku Kelana yang super indah itu. Tunggu ya!

menulis kelana

Baca juga ini : Pengalaman Naik Trans Siberian a la Pathfinder (Variety Show)

3 Comments

  • CREAMENO

    Wah cita-cita masa kecil mba Fathia bagus sekali 😁 ayo mba menulis buku, siapa tau bisa diterbitkan dan banyak peminatnya 😍

    Mungkin pengalaman mba di hari-hari kemarin, bisa membawa mba ke dunia baru yang sebenarnya adalah cita-cita masa kecil mba dulu. Selama memang ada sarana dan prasarananya, why not untuk dikejar 🤭 nanti saya bagian beli dan bacanya hihi. So, semangat mba! ❤

  • Suryani Palamui

    Btw aku juga waktu kecil punya mimpi pengen jadi penulis buku. Cuman ya ngga tau mau nulis tentang apa hehe. Tapi untungnya pas kuliah aku pernah patah hati dan cerita patah hatiku itu agak kufiksikan dan kujadiin cerpen. Eh, cerpen itu sekarang malah kudaftarin untuk gabung di buku antologi komunitas literasi di kotaku Mba. Jadi yah yang kepikiran mau jadi penulis buku, bentuknya yah jadinya di buku antologi. Mungkin rejekinya bisa dari buku antologi Mba. Coba aja ngeproject bareng temen-temen yang suka nulis juga. Trus bukunya nanti pake self publishing aja. Ga berat kok karena bayarnya patungan, hehe. Semoga membantu 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *