Pengalaman Couchsurfing di Malaysia #1

Pengalaman Couchsurfing di Malaysia #1

Bagi para pelancong, apalagi yang on budget  pasti mencari jalan bagaimana supaya living cost  se-rendah mungkin. Ada yang pernah dengar couchsurfing? Sebuah situs dan aplikasi yang menguhubungkan para traveler dan bertujuan untuk travel like a local. Begitu sih tagline nya. Semua para CS (singkatan dari Couchsurfing/Couchsurfer) baik Host atau surfernya sudah paham bahwa CS  hadir  untuk membantu para traveler dengan menyediakan sebagian ruangan di rumahnya untuk tinggal. Semua tergantung dengan keadaan si penyedia / host tersebut. Jika kamu mendapatkan host yang beruntung, maka dia akan memberikan kamu kamar pribadi. Jika tidak, setidaknya  host sudah mengizinkan kamu untuk masuk ke dalam rumahnya. Hehe. Biasanya host akan memberi tahu keadaan rumah di kolom home profilenya. Ada yang sistemnya sharing room, shared sleeping surface atau bahkan boleh tidur di sofa ruang tamu. That’s why its called couch.

Couch sendiri artinya sofa. Jadi ya istilahnya kita numpang tidur di sofa orang. Hal yang terpenting dalam couchsurfing sebenarnya adalah bagaimana kita bisa mengenal orang lokal lebih jauh, berbaur dan mempelajari budayanya. Meski kita sangat berbeda budaya dengan host, sopan santun sebagai manusia dan menjaga diri amatlah penting. Host bukanlah penyedia ruangan gratis. Mereka adalah orang yang berbaik hati bersedia menerima stranger ke rumahnya dan ingin mendapatkan insight atau wawasan dari para surfer.

Saya menawarkan diri (sudah tentu menawarkan profile CS kita) kepada banyak host baik di Singapura dan Malaysia. Alhasil hingga waktunya tiba, hanya 3 orang yang dapat menerima saya dan fixed. Mereka yang akan nge-host saya  berada di Melaka, Petaling Jaya (Selangor), dan Johor Bahru. Sebenarnya yang di Johor adalah kawan sebentar di Bandung. Untuk kawan di Johor, nanti ada bagian tulisannya lagi ya hehe! Yang pasti dia bukan dari CS. Artinya yang pure dari CS ada di Melaka dan Petaling Jaya.

 

Couchsurfing di Melaka!

Gideon tengah menjelaskan bagaimana pertumbuhan sebuah biji.

Di Melaka, kami diterima oleh Pak Joseph. Beliau sepertinya salah satu CS yang aktif di Melaka dan memiliki banyak references / referensi. Jadi setiap pemilik akun CS akan memiliki referensi dari seseorang yang pernah bertemu dengannya, atau pernah menjadi surfer /  host. Saya melihat akun Pak Joseph ini penuh dengan referensi dari orang lain. Ia pun menaruh informasi yang lengkap tentang dirinya, keluarganya, dan rumahnya (plus the rules) di akun tersebut.

Saya pun memberanikan diri dengan menyampaikan itikad baik untuk menjadi surfer di rumahnya.

Aaron (baju hijau) & Gideon (baju coklat)

Kami berbincang melalui whatsapp dengan Pak Joseph. Ia benar-benar disiplin dan ingin mengetahui seluk beluk stranger yang akan hadir di rumahnya. Wajar saja, siapa pula yang berani untuk membawa masuk orang baru dikenal ke rumahnya. Lantas bapak lulusan kedokteran di Medan ini pun meminta saya untuk mengirimkan foto paspor.

Pak Joseph adalah seorang bapak yang dikaruniai 3 anak. Istrinya bekerja di sebuah perusahaan di Melaka. Ia adalah sosok ayah yang tanggung jawab kepada pekerjaan di rumah dan anak-anaknya. Semua pernyataan ini bermula karena cerita di bawah.

Tidak menyangka setelah bertemu di meeting point, kami dijemput dan dibawa ke sebuah Mall. Ia bersama Aaron saat itu. Anak laki-laki bungsunya  yang pemalu saat pertama kali kami bertemu. Aaron berumur  7 tahunan dan baru masuk sekolah dasar.

Mereka hendak membeli peralatan di toko MR DIY. Sebuah toko perkakas serba ada. Kalau di Indonesia macam ACE Hardware lah ya. MR DIY ini hampir memiliki cabang di tiap daerah di Malaysia. Termasuk Melaka pastinya. Mall tersebut tidak semegah mall di Johor atau  Kuala Lumpur. Nampaknya sedang-sedang saja.  Kami pun melihat ada museum Toy dan aquarium mall di dalamnya. Sisanya toko-toko macam mall pada umumnya. Nampak lengang karena mungkin hari kerja. Setelah Pak Joseph dan Aaron keluar sambil membawa balon kuning di tangannya, kami pun pulang dan masuk ke dalam lift untuk menuju parkir mobil.

 

Aaron tampak fleksibel saat memegang balon kuning. Saya pun memulai untuk bertanya dan mengajak Aaron berbincang. Meskipun Aaron masih saja tersipu malu dan membuat ayahnya kesal lantaran balon kuningnya menghalangi spion mobil.

Di mobil Pak Joseph pun meminta izin untuk menjemput Gideon, anak keduanya yang sedang les Bahasa Tamil. Setelah dari Mall, kami pun meluncur untuk menjemput Gideon. Gideon anak yang pintar dan selalu ingin tahu. Anak berumur 11 tahunan ini pun bertanya dari mana asal kami.

“She’s from Indonesia” seloroh Pak Joseph sebab Gideon bertanya pada ayahnya.

Gideon anak yang cerdas!

Keluarga ini bercakap bahasa Inggris dalam keseharian. Tetapi, mereka pun masih bisa paham Bahasa meski tidak sefasih para melayu. Namun Pak Joseph selalu berusaha berbicara Bahasa Indonesia  dan melayu pada kami. Tapi kami berusaha berbicara bahasa Inggris meski  tak jarang pula kami bercakap dengan bercampur bahasa tersebut. Melayu, Indonesia, Inggris.

Pak Joseph pernah berkuliah di Fakultas Kedokteran di Medan. Saat ia mahasiswa, pemerintahan berada di bawah Soeharto.  Ia menceritakan pengalaman kuliahnya. Nyatanya, ia lulus tanpa mengikuti persyaratan ujian kesetaraan sarjana yang disebabkan tengah heboh pemerintahan Soeharto.  Itu adalah hal menarik yang baru saya tahu. Ia pun menceritakan saat ia ko-as di Sumatera dan menyatakan perbandingan pelayanan rumah sakit di Malaysia dan Indonesia.

Mengenai Couchsurfing, platform luar biasa hebat ini mengajarkan kita untuk belajar memahami dan mengerti keadaan lokal. Selama di perjalanan menuju suatu tempat di Melaka, saya berusaha menampilkan citra diri saya  sebagai seorang pelancong yang baik dan menampilkan citra diri seorang warga negara Indonesia plus seorang muslim.

Selama di mobil, kami berbincang soal pengalamannya sebagai host, politik hingga ekonomi. Yang pasti, ia sangat bertanggung jawab dengan surfer yang akan tinggal di rumahnya. Pak Joseph, Aaron dan Gideon mengajak kami ke suatu tempat dimana turis jarang sekali pergi ke daerah tersebut.

Kira-kira mau kemana ya? Kisah ini berlanjut di post berikutnya 🙂

Mr. Joseph

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *