Pengalaman Couchsurfing di Malaysia #2 (How to Immerse and Adapt)

Pengalaman Couchsurfing di Malaysia #2 (How to Immerse and Adapt)

Inilah pengalaman couchsurfing aku di Malaysia untuk yang kedua kali. Couchsurfing kedua yang aku lakuin selama susur Malaysia bertempat di Petaling Jaya, Selangor, Malaysia. Masih dekat dengan Kuala Lumpur, ibu kotanya Malaysia. Kuala Lumpur jadi persinggahan aku yang terakhir setelah semingguan singgah sana-sini. Di KL, aku dapet keluarga muslim Malaysia yang sangat ramah dan memiliki 3 anak.

Irfan, Irsyad, Nabeeha. Mereka anak dari host-ku, Ibu Zar dan Bapak Zailan. Ketiga anak ini sudah familiar dengan ibunya yang membuka rumahnya untuk para CS-ers. Ibu Zar adalah pribadi yang sangat baik hati dan tulus melakukan aksi Couchsurfing ini karenaaaa, tau gak? Beliau sampai shalat istikharah dan berdoa untuk kebaikannya ini! Aksi yang super baik (cryy)

Ibu Zar sudah menjadi host hampir untuk 15 surfer dari berbagai negara. Ketika aku datang, ia menceritakan seluruh pengalamannya dengan para surfer dari Jepang, Algeria, sepasang suami istri dari Europe, dan lain-lain. Kami (aku dan temanku) bercengkrama hingga pukul 12.00 malam. Setelah ini aku bakal ganti kata “aku” dengan kami, karena aku emang pergi berdua hehe.

Pengalaman Couchsurfing : Pergi ke Dataran Merdeka

Jadi, hari terakhir di KL malam itu Ibu Zar nge-whatsapp kalau kita mau diajak buat dinner. Akhirnya kita bertemu di KL Sentral. Soalnya sehari sebelum balik Indonesia (dan pastinya hari terakhir di rumah Ibu Zar) kita emang keliling KL buat beli oleh-oleh sepercik~ LOL

Petaling Jaya (bulat orange) adalah rumah Ibu Zar. Garis merah adalah jarak dari KL ke Kajang. Kajang adalah sebuah kota di Malaysia.

Setelah bertemu di KL Sentral, kita dijemput Ibu Zar dan pergilah sekeluarga ke Kajang. Kajang sudah di luar KL dan beliau mau mengajak kami ke tempat favoritnya. Ibu Zar is foodie lover. Dia tau makanan apa aja yang enak dan yang lagi nge-hits di KL. Haha.

Selama perjalanan, itu kali pertama aku ngobrol sama bapaknya. Pak Zailan. Daripada sama anak-anaknya, aku malah akrab sama ibu zar and pak zailan. Pak Zailan nanya-nanya soal Indonesia, dari presiden ampe ngomongin OJK. Dia pun nyeletuk kata “kantor” dan Ibu Zar menyela, “What is Kantor means?”. Sontak aku dan Pak Zailan jawab “Office”. Dan ibu zar bertanya-tanya kepada suaminya, sejak kapan suaminya kenal Bahasa Indonesia HAHA.

Pak Zailan bercerita pada kami bahwa ia pernah dua mingguan pergi pelatihan dari kantornya ke Indonesia. Selama itu pun ia bercengkrama dan mengenal bahasa Indonesia, seperti kata “Kantor”, “Liburan”, dan lain-lain. Ibu Zar pun tertawa dan percakapan itu menghangatkan kita.

 

Bahasa Percakapan Sehari-Hari

Akibat dari pengalaman couchsurfing, aku jadi tahu kalau Malaysia memang dikenal dengan 3 kultur. Ada cina, melayu dan india. Ibu Zar asli seorang Malaysian dan ia bercakap dengan bahasa Inggris sehari-hari kepada ketiga anaknya.  Tentulah Irfan, Irsyad dan Nabeeha fasih dengan bahasanya tersebut.

Irfan sudah kelas 3 SMA, Irsyad masih SMP dan Nabeeha setara kelas 5 SD. Mereka terlihat sudah biasa dengan datangnya CS ke rumah. Ingat ketika kami baru pulang jam 21.00 ke rumah mereka, Irfan menyambut kami dengan memanggil ibunya “This is your guest mom”. Dan Irfan terlihat sudah fleksibel dengan hal itu.

Kami benar-benar berusaha untuk selalu immerse dengan mereka. Pertama kali bertemu dengan Irfan, kami pun ditawari bubur yang Irfan buat. Malam itu kami makan bubur dan bercengkerama dengan Ibu Zar hingga malam hari. Percakapan kami dari tentang Couchsurfing sampai Laudya Cintya Bella menikah dengan Engku Emran yang mana Engku tersebut teman sekolahnya Ibu Zar. Mantan Istri Engku adalah seorang artis (Erra Fazirra) dan berjualan kerudung. Ibu Zar bercerita bahwa ia suka kerudung buatan Rara (brand Erra Fazirra).

 

Nabeeha and me

Tingkah Nabeeha

Nabeeha, seorang anak SD yang tidak terlihat SD karena kalau kata orang Sunda mah “bongsor”. Alias badannya sudah besar, tetapi memang kelakuannya seperti anak SD pada umumnya. Ia adalah anak bungsu dan satu-satunya perempuan. Karena kedua kakaknya laki-laki. Nabeeha selalu membuat tingkah lucu ketika foto. That’s why ibu Zar kadang kesal ketika Nabeeha disuruh berfoto tetapi ia membuat funny faces or weirdos one. 

Selama di rumahnya, kami tidur di kamar Nabeeha. Kamarnya menjadi kamar yang dijadikan tempat untuk para CS. Ibu Zar bercerita ia sempat lelah karena tamunya sangat sering untuk request kepada Zar. Sempat ia bertanya pada Nabeeha, “Nabeeha, are u missing your room?” . Lalu Nabeeha menjawab, “Yes..”

Ibu Zar merasa sedih dan ia terlupa dengan kamarnya Nabeeha. Maka ia selalu memberi jarak waktu  untuk menerima CS datang ke rumahnya. Ia pun hanya menerima CS perempuan atau pasangan. Pengalaman couchsurfing beliau membuka mata kami saat mendengarnya.

Nabeeha menyukai Disney, Fairy Tales, all about fiction and fantasy. Namanya juga anak-anak. Kamarnya pun memang dibuat dengan nuansa pink putih seperti kamar barbie. Haha. Selama di Malaysia, setiap kamar setidaknya memiliki kipas angin (fan) atau AC. Karena Malaysia panas~

Jalan-Jalan ke River of Life, Dataran Merdeka, Malaysia

Foto-foto kami di sini bertempat di Dataran merdeka. Kami melihat sungai yang dinamakan River of Life. Lalu pergi ke KL Signature ( I Love KL). River of Life ini adalah sebuah sungai yang dirombak oleh pemerintah. Sebelumnya tentu tempat ini belum menjadi tempat publik dan belum layak. Akhirnya pemerintah Malaysia membuat sungai ini menjadi bersih dan dibangun dengan indah supaya menjadi taman publik. Pada malam hari setiap beberapa menit sekali, the river will show itselfs. They will make a fountain and blue light. its like smokey haze but it is not. It is really a water. Sungguh pengalaman couchsurfing yang membuat hati nyesss dan adem karena, oh ini mimpiku yang aku idam-idamkan pas SMA. LOL

Zar Zailan’s family 
Beeha’s signature post

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dreams came true

Pernah waktu SMA aku ikutan program pertukaran pelajar. Emang dari dulu aku interest banget sama culture, foreigners, dan pengen banget bisa engage dan menyatu untuk belajar budaya dan kesehariannya. Sayangnya emang gak keterima sejak eliminasi tahap awal, ya sudahlah. Di situ aku suka ngikutin pengalaman orang-orang yang keterima pertukaran. Untungnya mereka suka buat blog jadi pas SMA suka bacain keseharian mereka pas pertukaran ke Amerika. Mereka punya host yang baik dan rasanya seneng aja. Apalagi bisa practicing english with native.

Pas kuliah pun sempet cari-cari gimana bisa dapet pertukaran. Nyatanya emang ga  lolos juga. HAHA. Ga keotakan buat kaya gituan kali ya. Jadi aku baru nyari bener-bener gimana supaya bisa stay with locals, stay with family, and learning a lot from theirs.

Akhirnya kutemukanlah Au Pair, Worldpackers, WWOOF, hingga Couchsurfing. Dari program yang aku sebutkan di atas akan memungkinkan kalian untuk bisa stay with locals tanpa ada acara eliminasi, tahap tes tulis interview dsb. Ya mungkin aku ga pinter-pinter amat buat jadi exchanger student, jadi aku cari tahu tentang hal-hal di atas.

Setelah sekian lama aku riset, yang paling memungkinkan buat aku saat ini adalah Couchsurfing. Meski aku mati-matian buat nabung, but its worth! Aku pun gak segampang itu dapet host karena mereka pun akan memilah-milih kita.

Akhirnya aku dapet host di Malaysia, yaitu di Melaka dan KL. Menyenangkan! Mereka dari dua keluarga berbeda latar belakang so I have to adapt to different environments. Baca juga ya pengalaman couchsurfing :  kisah host aku waktu di Melaka di sini.

Wefie behind the river of life

Perkuat Lagi Mimpi-Mimpi Itu

Selama kamu cari tahu dan kuat dengan mimpi kamu, maka kamu wajib mewujudkannya. Dulu aku ngerasa ini hal yang gak mungkin, tapi aku jalanin dengan step-step yang aku harus lewatin supaya bisa mewujudkan mimpiku. Buatlah bucketlist mimpi dan jangan ragu. Biar orang berkata apa, it doesnt matter although it hurts sih. HAHA. Tapi yakin dan jalani dulu saja, ok.

Alhamdulillah, aku ngelewatin semuanya. Sesuatu yang gak kebayang sebelumnya dan cuma di catet di buku dan laptop, sudah terjadi. Semua yang nanya sama aku pada kaget kalau aku jalan cuma berdua dan bener-bener manual. Mereka kira aku ikut travel agen-an (yakali, ga ada budget segitumah) atau banyakan. HAHA. Tapi say thanks to Allah yang sudah melindungi kami dan to our parents yang udah deg-degan setiap hari dan ngizinin kami pergi.

Karena aku bukan orang yang dengan mudah pergi dari rumah, bahkan pulang ke rumah telat aja (jam 20.00) udah dimarahin lho. Semua temen-temen SMP/SMA aku udah mafhum soal aku hahaha. Gaboleh telat pulang malam padahal aku udah segede gini.LOL. i know they are really care because nowadays’s road is not really safe like when our parents was young. 

The point is, you should really handle everything to Allah and pray as always, take care of ourselves. dream higher and don’t look back.

Selamat menjelajah lebih jauh!

Nisa- Nabeeha- Fathia

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *