Pergi ke Malang dan Hampir Tertinggal Kereta Api

Pergi ke Malang dan Hampir Tertinggal Kereta Api

“Qim, jalan yuk kemana gitu habis sidang skripsi,”

“Hayu, kemana? (mikir duit)” 

“Kemana ya, Malang, Bromo yuk!”

hayu, hayu Insya Allah. Liat nanti ya”

Oke. Percakapan dua insan ini adalah percakapan mahasiswa kangen liburan dan ingin melepas penat. Pastilah semua orang mau kan jalan kemana gitu, selepas ngurusin segala hal yang sudah membuat diri lelah dan jenuh. Kalau buat mahasiswa akhir namanya “Skripsi” yang suka dipelesetin jadi skripshit, skripsweet, skripik, dan lain-lain.

Sebenernya aku agak geleuh (aneh atau jijik) gitu sama plesetan tersebut. Makanya aku gak pernah pake ketiga kata di atas. Apalagi yang sh** dan sweet itu. Agak-agak gimana gitu. Jadi ya aku menyebutnya skripsi aja. Atau skrispi, krispi renyah gitu (?) ok skip.

Suatu hari aku cek traveloka. Lalu scrolling tab kereta api. Harus aku akui bahwa hobi aku kali ini adalah cek tiket kereta, pesawat, hostel baru di berbagai tempat, dan paketan pesawat plus hotel. Entah mengapa itu jadi kesenangan tersendiri. (Liat dompet, liat rekening, hiks hiks). 

Aku yakin di setiap gawai yang hobi dan ingin jalan-jalan biasanya pasang aplikasi traveloka. Soalnya mudah dan paling terkenal aja gitu. Ia ada dalam satu genggaman untuk berbagai fitur. Yup, harus aku akui ya. Makanya kaget juga beberapa waktu lalu kalau traveloka punya fitur pembelian tiket kereta api! Wuidih, ajibnyaaa.

Lalu aku coba memesan tiket kereta api Bandung-Malang dan Malang-Bandung sebulan sebelum keberangkatan. Mengapa se-nekat itu hingga H-30? Karena biar persiapan uang, mental, dan GAK TAU MENGAPA ITU KERETA API EKSEKUTIF Bandung – Malang lagi diskon cuma Rp 150.000! Yasalaaam, cobaan apa ini. Mana aku lagi gak ada uang cukup di rekening.

Ambil gawai, dan yak! Aku meluncur untuk chat temanku di atas. Oke sebut ia Mawar, eh, Hilda. Ya, namanya Hilda gengs. Dengan hati-hati aku mengetik ..

“Hil, traveloka lagi promo ke Malang 150k aja coba! Pesen yuk. Tapi hiks, boleh gak kamu talangin dulu. Awal bulan aku bayar aslii 🙁 huhuhu. Belom gajian hiks hiks.”

Hayu Qim. Kalem. Beli aja”

Aslina. Huwaaa makasih Hil. Aku pesenin yaa!” 

Gunung Bromo di pagi hari.

Traveloka : Partner Resmi Kereta Api Indonesia (KAI)

Akhir cerita aku langsung pesan tiket return Bandung-Malang. Keberangkatan tanggal 23 Oktober, kepulangan tanggal 26 Oktober. Saat aku pesan, itu masih sebulan lagi menuju keberangkatan, haha. Sebenarnya aku masih agak was-was gitu, ini gimana caranya ambil tiket lalala dan check in seperti itu. Takut ribet gitu lho karena kita kan belinya bukan di website KAI langsung.

Tapi, ke-was-wasan ini berakhir ketika sore itu (hujan deras, sungguh) aku menunggu Hilda yang tak kunjung datang padahal kereta berangkat 20 menit lagi. Hilda terjebak hujan besar dari kosannya. Dengan ke-sok tahuanku, aku pun langsung mengarah pada sebuah tempat bernama “Check In Counter” dan langsung melihat orang yang mencetak tiketnya sendiri. Mereka mengetik di layar check in sambil melihat sebuah kode di gawainya.

–tik tik tik– 

Kemudian aku mengetik kode booking traveloka. Deg! Kok katanya gak ada. Belum berhasil dan melihat kondisi di belakangku menunggu, aku pun meninggalkan layar check in.  Aku scroll ulang dan mempelajari orang lain dari jauh. Setelah tempat check in agak kosong, aku mencoba ulang pelan-pelan mengetik kode bookingnya, dan muncullah ..

  1. Fathia Uqim xxxxxxxxxxxxx
  2. Hilda Sri Rahayu xxxxxxxxxxx

Alhamdulillah. Keluarlah dua tiket kereta api menuju Malang. Eh, sebentar. Hilda mana?

Tadinya aku nunggu Hilda buat bareng-bareng check in karena aku agak katro soal kereta api. Karena terakhir naik kereta api tahun 2011 ke Yogyakarta. (PARAH BANGET GAK SIH). Itu juga yang beli tiketnya bapakku dan langsung ke stasiun gitu.

Sambil bawa tiket kereta di tangan, aku nungguin Hilda di depan jalan. 15 menitan sebelum kereta berangkat (Kereta Api Mutiara Selatan udah dipanggil-panggil), Hilda datang dengan membawa 3 tentengan layaknya mau mudik.

Menunggu Hilda hingga hujan reda.
Menunggu Hilda di depan pintu masuk keberangkatan.

“Hildaaaaaaaaaaa, hayu!”

Tanpa babibu, aku membantu Hilda dan langsung masuk untuk cek tiket dan kartu identitas. Akhirnya, kita segera menuju kereta api eksekutif yang sudah lama aku idam-idamkan.

Sejenak setelah selesai dari urusan ketegangan dan ke-was-wasan ini, aku pun duduk tenang dan mulai bercerita kepada Hilda. Bahwasanya aku sendiri check in untuk pertama kali dan ketegangan ini pun sirna sudah. Traveloka beneran terpercaya sih. Nyatanya aku bisa check in dan lolos untuk duduk di kursi eksekutif ini. Nyaman, dapat selimut, kursi bisa disesuaikan, dapat bantal juga. Duh, enaknya Rp 150.000 ini. Eh, fakta menariknya tau gak? Harga tiket pulang Rp 200.000 dan itu kursi ekonomi. Malah lebih mahal, bu!

Pulang ke Bandung : Pertama Kali Naik Kereta Api Ekonomi

Pemandangan dari dalam kereta.

Sebelumnya aku gak nyebayangin kalau naik KA Ekonomi untuk perjalanan 17 jam ini bakal sungguh melelahkan. Kursi yang tegak, berdepanan bersama penumpang lain, agak awkward sih. Tapi untungnya, setengah perjalanan ini kami lalui tanpa ada 2 penumpang didepan kami! Alhasil dua kursi ini kami jajah. Satu buat Hilda, satu buat aku sendiri. Kami tidur masing-masing satu kursi.

Tapi kereta api ekonomi itu jauh lebih baik dibandingkan 6 tahun lalu ketika aku naik KA Bisnis ke Yogyakarta. Dulu, kereta api bisnis sama seperti kereta api ekonomi sekarang. Justru ekonomi sekarang lebih bagus daripada yang dulu. Stasiun bersih, semua tertata rapi, pokoknya terbaik-lah ini KAI. Aku takjub dengan perubahan yang besar dari KAI. (Nyesel jarang naik kereta api).

Meski 17 jam di kereta api ekonomi, aku dan Hilda menikmati perjalanan sambil makan cemilan, dan nge-charge baterai gawai! Itu yang paling penting. Ih pokoknya gak bakalan mati kutu deh di kereta api soalnya ada colokan. Jadi selama perjalanan aku bisa main gawai sepuasnya.

kiri ke kanan : Fathia – Hilda, selepas menikmati sunrise dan berhenti di pasir berbisik.

Ini cerita sebelum pulang ke Bandung. 6 jam sebelum kepulangan, aku sama Hilda menyempatkan diri  ke stasiun Malang buat check in earlier supaya gak was-was, takutnya ada apa-apa kalau check in terlalu mepet. Dengan percaya diri aku pun check in. Komputer check in yang tersedia tidak sebanyak di stasiun Bandung. Akhirnya, aku bisa deh print tiket pulang. Alhamdulillah.

Tuntaslah perjalanan ini dan  aku semakin percaya buat pesan tiket kereta api di traveloka lagi kedepannya. Sejak itu aku sadar bahwa aku harus jelajah pulau Jawa pakai kereta! Selepas dari Malang, besoknya aku cek-cek tiket kereta ke Semarang lah, Yogyakarta lah, Jakarta, dan lain-lain. Gara-gara ketagihan naik kereta dan begitu mudahnya zaman sekarang booking kursi kereta api hanya dengan satu aplikasi, yakni Traveloka. (oke, lanjut nabung lagi.)

Selamat Menjelajah Lebih Jauh!

Gunung Bromo, 25/10/17

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *