Tersayat Lisan, Atau Tidak Sama Sekali

Tersayat Lisan, Atau Tidak Sama Sekali

Benar ternyata pelbagai quotes di luar sana. Jangan katakan apapun jika itu tidak perlu. Diamlah tak usah banyak bicara karena yang dikeluarkan oleh lisan hanyalah ungkapan tanpa makna. Atau celotehan yang tanpa sadar dapat mengiris hati pendengarnya.

Sekarang aku sadar bahwa kata-kata positif yang keluar dari lisan (meski itu tidak sungguh-sungguh) tetapi benar-benar dikatakan setidaknya akan membawa perasaan bahagia dan tiada rasa sedih di hati. Sekadar ucap terima kasih, bagus, keren, lucu, dan tertawa bahagia. Atau sekadar ucapan hati-hati di jalan atau senyuman di akhir perjumpaan.

Dalam setiap kemenangan dan kesuksesan kita tidak dapat merasakan setiap detik orang yang berjuang. Di setiap jalan ia tempuh, atau kebahagiaan yang dibagikan lewat berbagai media sosial, lantas kita cap bahwa ia baik-baik saja. Bahwa ia bahagia-bahagia saja. Tidak pernah kita sadar ada ribuan sujud, rapalan do’a, lelahnya setiap perjalanan, rasa sakit hati, rasa ditinggalkan dan terabaikan.

Tidakkah kita sadar bahwa apa yang dibangun manusia di media sosialnya adalah wajah depan dan muka bertopeng? Siapa sudi bagikan rasa sakit dan kemiskinan yang melanda?

Di balik kuatnya seseorang, kita tidak akan pernah tahu betapa rapuhnya ia saat ditinggal ibunya. Di balik kebahagiaan yang ia cipta di setiap fotonya kita tidak pernah tahu bahwa ia dicampakkan. Benar, kita tidak pernah sadar dan mampu merasakannya.

Mudah, sungguh mudah mengucap kamu ini dan kamu itu. Rasanya belum cukup puas ucapkan rentetan kata negatif dari sebuah pencapaian. Pasti ada saja yang harus dijatuhkan. Ada saja..

Kini aku mengerti mengapa teman-teman begitu kuat. Di balik itu, mereka simpan tangisan amat dalam. Kecewa, rindu, haru biru, yang benar-benar dibentengi dengan senyuman dan hangatnya persahabatan. Seketika itu pecah saat ada waktunya tiba.

Kini aku mengerti mengapa susah sekali mengungkapkan rasa apresiasi. Meski sekadar ucap terima kasih atau senyuman manis. Atau ajakan makan siang atau nonton film di sore hari. Rasanya, sulit. Ketika kamu tahu mengapa ia selalu pergi kalau bukan menghidupi dirinya sendiri. ketika kamu tahu bahwa banyak sekali cobaan di meja kantornya dan harus menghadapi atasan yang tidak tahu diri. ketika kamu tahu bahwa di setiap tombol Lamar, ada ratusan CV yang tertolak. Ketika kamu tahu bahwa ada ratusan kilometer untuk mencapai sebuah cita-cita dan untuk rela disebut sebagai pekerja.

Ketika kamu tahu, ada jutaan sakit hati yang dipendam sendiri. ketika kamu tahu, ada banyak hal tersembunyi, tidur malam yang menanti fajar. Waktu yang menunggu email baru. Atau ucapan selamat dari ratusan lomba yang telah ia ikuti. Kita tidak pernah tahu mengapa ia memiliki rekening gendut. Kita tahu ia bahagia. Padahal kita tidak tahu bagaimana jatuh dan bangunnya untuk mencapai semua itu.

Kita jarang sekali menghargai proses. Kita jarang sekali bahagia di atas bahagia. Mengapa selalu mencari celah “kamu masih salah” dalam sebuah hasil yang membahagiakan?

Ketika kamu disakiti dengan kata-kata

Ketika kamu tahu disakiti dengan kata-kata

Ketika kamu tahu kamu disakiti dengan hujaman kata-kata remeh tapi sakit.

Sakit

Ia tidak pernah tahu, karena tidak mengetahuinya

Tidak mampu merasakannya

Tidak mampu membelanya

Karena bukan apa-apa

Ia tidak pernah sadar bahwa dirinya lelah menempuh ratusan kilometer

Menempuh banyak perjuangan

Menempuh rasa sakit hati yang sangat banyak

Mereka tidak akan pernah tahu

Karena ada orang yang tidak ingin memberikan pengetahuan itu. Cukup dirinya sendiri. cukup dirinya obati dirinya.

Mereka tak akan pernah mengerti

sepertinya untuk kali ini dan sampai nanti tak usahlah berbagi kebahagiaan jika akhirnya hanya menuai kepedihan.

Mungkin, hanya motor, jalan, dan polusi sebagai teman terbaik untuk menumpahkan semuanya. Mungkin esok hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *