Tanjung Layar, Keindahan 2 Karang di Pantai Sawarna Banten

Tanjung Layar, Keindahan 2 Karang di Pantai Sawarna Banten

Tanjung Layar, Sawarna

Selama bulan Desember saya mendapati waktu yang kian berhimpitan dan mobilitas yang semakin padat. Setelah satu minggu menetap di Pusat Pendidikan Jasmani Cimahi, saya ditinggal keluarga ke Subang. Dampaknya saya pun harus menyusul mereka. Kata ibu, jangan menyusul ke Subang, langsung saja ke Rangkasbitung, Banten karena rencana beberapa bulan lalu kami sekeluarga besar akan pergi mengajak nenek ke Sawarna.

Pantai ini sempat menjadi trend pada tahun 2016-an, jika tidak salah. Namun hingga saat itu, saya belum pernah ke sana. Maklum, jika pergi berlibur ke rumah nenek di Banten, pasti kami akan mengunjungi pantai. Pantai Carita, Anyer, hingga Tanjung Lesung sudah khatam kami kunjungi. Apalagi Anyer, sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar, Anyer sudah jadi pantai favorit.

Sawarna terletak di Kabupaten Lebak, berbatasan dengan Sukabumi jika kamu terus menyusurinya. Alasan pergi ke Sawarna, selain kami belum pernah menjajalnya, ada mantan pacar nenek saya di sana. Konon, sang mantan tinggal di Sawarna. Kata nenek, mantannya itu sungguh dewasa saat berpacaran dengannya.

“Suka dikasih uang tiap bulan, bageur (baik),”

Namanya juga mantan, alias bukan jadi suami. Nenek saya pun salah tingkah. Tetapi setelah ditelusuri oleh paman saya ke Sawarna, mantannya sudah pindah ke Kuningan. Tetapi nenek saya bilang, mantannya sudah tiada. Entah saya harus percaya kepada siapa.

Pagi hari saya pergi dari Rangkasbitung menuju Sawarna via Pandeglang. Lumayan jauh, sekitar 3 jam perjalanan. Keindahan sejauh mata memandang, apalagi jika pohon kelapa sudah bermunculan. Maka pantai semakin dekat.

Sawarna Adalah Nama Tempat

Naik ke Karang

Di Sawarna, ada banyak pantai yang bisa dikunjungi. Ada pula goa-goa dan tempat asyik lainnya. Kami pergi ke Tanjung Layar, pantai yang harus ditempuh (secara paksa) memakai ojek. Jarak dari tempat parkir ke Tanjung Layar sekitar 2 kilometer. Ketika kami turun dari mobil, deru motor meraung memanggil bak kelaparan. Kami bingung dan rasanya agak risih.

Baru saja lelah dan ingin adaptasi dengan lingkungan, motor-motor mengepung kami. Karena kesal, akhirnya bapak saya mengintruksikan untuk naik motor yang mana saja. Di awal jalan, maka saya melewati jembatan kuning. Lalu ada pedesaan dan rumah-rumah kecil yang sedang dibangun oleh pemerintah. Kata mang ojeknya, rumah kecil itu adalah kios untuk unit kewirausahaan desa setempat.

Suasana di depan parkiran mobil.

Hanya cukup 5 menit saja, 2 karang besar di tengah pantai membelalakkan mata saya. Sejumlah warung berjejer, pasir pantai yang bersih dan karang-karang kecil bermuncullan di pantai. Bebatuan besar menumpuk di pinggiran. Pantai ini banyak karangnya. Tetapi kamu masih bisa berenang kecil atau berendam main air di tubir pantai.

Siang itu terik sekali. Lantas saya melipir ke warung dan meminum air kelapa muda. Dibanderol dengan harga Rp 20.000-an, haus saya pun usai. Baju-baju pantai dan kaos Sawarna bergantungan. Mereka tersibak angin dan muncul niatan untuk membelinya.

Harga bajunya sekitar 40.000-50.000 rupiah. Ada pula celana kulot, baju ukuran balita dan topi pantai. Deretan baju tersusun rapi. Di setiap sela warung, ada jalan kecil yang menghantarkan saya ke toilet umum. Toiletnya cukup bersih. Jika kamu hendak buang air, maka kamu harus membayar Rp 3000. Jika ingin mandi, bayar Rp 5000.

Menikmati Tanjung Layar dari siang hingga waktu Ashar menjelang. Di setiap warung ada tempat kecil cukup untuk dua orang sembahyang. Sore hari menjadi waktu yang tepat jika ingin pergi ke Tanjung Layar.

Ikon Tanjung Layar adalah dua karang besar di tengah pantai. Ia ibarat tanda antara pantai dan laut lepas. Namun tetap harus berhati-hati jika ingin pergi ke Karangnya. Karena jika pantai sedang naik, airnya bisa mencapai perut orang dewasa. Adapun imbauan yang ditempel di pinggir pantai.

Dilarang Naik ke Karang”

Spot foto di papan nama Tanjung Layar.

Saat kami hendak pulang, motor-motor mencegat kami layaknya buronan. Rasanya ini menjadi hal yang perlu dibenahi. Karena sistem ojek di sana belum rapi. Kasihan untuk ojek yang belum kebagian penumpang.

Jika saya tidak pergi bersama nenek, mungkin saya lebih suka untuk berjalan kaki. Karena kamu masih bisa untuk menempuh Tanjung Layar dengan berjalan santai dan menikmati jalanannya. Oya, harga ojeknya sekali naik Rp 10.000 ya.

Perjalanan Pulang, Melipir ke Kiri Jalan

Mobil kami berhenti di kiri jalan.
Sebelah kiri kami, saat berhenti di jalan.
Perjalanan pulang dan berhenti di jalan.

Selamat Menjelajah Lebih Jauh!

10 thoughts on “Tanjung Layar, Keindahan 2 Karang di Pantai Sawarna Banten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *