Menjawab Tantangan Kompas : Menuju Bandung 19.000

Menjawab Tantangan Kompas : Menuju Bandung 19.000

Stasiun Bandung pagi hari

 

Ide gila macam apa ini. Teman saya yang hendak pulang ke Bandung mengirim pesan lewat Whatsapp.

“Fath, masih di Rangkas gak?”

Setelah muncul pesan tersebut, kami melalui obrolan yang panjang. Ia mengajak saya untuk pulang ke Bandung dengan cara ngeteng-ngeteng. Sayangnya saya sudah di Bandung saat itu. Setelah beberapa lama bercakap-cakap lewat whatsapp, dan saya tahu kalau Kompas memiliki liputan mengenai “Menuju Bandung 19.000”, saya kirim infografisnya kepada teman saya. Tara! Muncullah rute teman saya dan rute saya sendiri (jika dari Bandung-Jakarta-Bandung) untuk dijelajahi. Gak waras emang.

Teman saya berencana pulang ke Bandung tanggal 3 Januari. Lalu saya juga sama-sama gak tau diri, memesan tiket KA Bandung-Jatinegara dibanderol dengan harga 100.000. Sayangnya yang 80.000 sudah habis. Tapi karena saya punya kupon Traveloka 75000 hasil lomba blog #JadiBisa nya Traveloka, saya pakailah. Akhirnya saya membayar tiket 25000 saja memakai kereta bisnis 1 Argo Parahyangan.

Jam 7.35 saya berangkat melalui stasiun Bandung hingga Jatinegara. Kereta bisnis yang nyaman ini sempat membuat saya salah tempat duduk. Karena masih pukul 7, kereta belum dikasih nomor. Jadi saya kira bisnis yang saya duduki adalah Bisnis 1. Ternyata Bisnis 2 saudara-saudara!

Tiket BD-JTN

Setelah 3 jam di kereta, saya turun di Jatinegara. Lalu setengah berlari dan was-was banyak KRL lewat, saya segera keluar stasiun. Saya berjalan cepat dan masuk stasiun kembali. “Cikarang pak,”

Di luar Stasiun Jatinegara

14000 harganya, 10.000 jaminan kartu, 4000 harga Jatinegara-Cikarang. Setelah saya tap masuk, waktu menunjukkan 10.50. Saya bertanya pada penjaga KRL, katanya jam 11 masuk KRL ke Cikarang. Saya berhenti sejenak, menghembuskan nafas pelan-pelan dan mengetik di papan gawai. “Saya sudah di Jatin, sudah beli karcis ke CIkarang”

Posisi teman saya sedang berada di Kemayoran. Ia membeli KA Walahar Ekspress menuju Purwakarta. Rencananya setelah saya sampai Cikarang, saya akan membeli tiket KA Purwakarta tersebut. Namun, malang nasibku. Entah mengapa di Tambun lama sekali KRL berhenti. Lalu saya mendengar bahwa KA Lokal Purwakarta akan melewati Tambun. Tapi saya diam saja, menunggu KRL ini berhenti di Cikarang.

Tiket KRL THB

Saya berlari tergopoh-gopoh, menaiki tangga satu persatu dari stasiun Cikarang yang nampaknya masih baru. Tangga keluar padat sekali. Saya mencoba mengambil arah tangga orang turun dan berlari dengan orang lain. Loket Lokal, oh! Saya menuju ke loket dan menukar kartu, padahal ngga niat karena ingin beli karcis KA Walahar. Tapi kata petugasnya, loket KA ada di bawah dekat parkiran motor. Sontak saya berlari lagi. Cikarang, panasnya luar biasa.

Di dalam KRL

Loket Istirahat

Saya terdiam, termenung beberapa saat. Saya menatap lamat-lamat bacaan istirahat dan loket ditutup.

“Mba, mba. KA Walahar ?”

“Oh ada lagi jam setengah 6 mba,”

“Udah pergi ya?”

“Sudah mba,”

Entah apa di pikiran saya saat itu. Lemas, pasrah, hareudang dangdut. Muncul sosok ibu-ibu 30-an yang bertanya.

“Mau ke Purwakarta juga neng? Udah tutup?”

“Iya bu, ada lagi jam setengah 6”

“Walaah, hayu naik primajasa aja”

“Hah? Ada ya bu?”

Percakapan kami berujung pada kesimpulan, bahwa kami akan naik bus Primajasa jurusan Cikarang-Bandung. Ibu tersebut yang tidak tahu siapa namanya, sebut saja ibu Mawar.

Ibu Mawar, penyelamat saya

Ibu Mawar mengajak saya pergi naik angkot dan turun di jalan yang gersang, becek, pasar dan penuh kios. Katanya bakal ada bis Cikarang-Bandung yang bisa kita naiki. 30 menit kemudian primajasa ekonomi pun datang. Kami menaikinya dan melewati banyak orang yang sudah duduk sejak awal. Peluh saya bercucuran. Sempit, juga tentu tak ada AC. Namanya juga ekonomi.

Cikarang

Tempat duduk formasi 2-3 ini membuat jalan di tengah sungguh sempit. Primajasa ini tidak sebesar yang biasanya, tetapi dinikmati saja sensasi angin gelebugnya. Saya masih membenarkan tempat duduk. Setiap orang lewat, saya mendapatkan benturan entah dari tangannya, tasnya, bahkan pinggul atau pantat manusia yang sedang mencari tempat duduk. Malangnya.

Ibu Mawar hendak turun di Klari, Karawang. Tidak lama ibu itu turun. Selama perjalanan kami berbincang soal bis yang penuh copet, tidak nyaman, perjalanan si ibu di kereta, dan lain-lain. Tak terasa ibu Mawar turun dan tinggallah saya seorang diri di kursi tersebut.

Pemandangan dari dalam kereta api

Kurang lebih 4 jam akhirnya saya datang ke Leuwi Panjang. Teman saya tentu tengah menikmati kereta api Cibatu menuju Bandung. Saya sampai duluan di Bandung, lalu segera memesan ojek online. Lelah dan sedikit kecewa ini menghantarkan saya untuk pulang dan ingin segera berbaring.

Teman saya berangkat dari Purwakarta pukul 15.45. Ia datang ke Bandung pukul 18.30. Meskipun kami berada di jalur yang berbeda, dan Allah tidak pertemukan di tujuan yang kita rencanakan, bersyukur sekali Allah telah selamatkan kami. Pada akhirnya, esok hari kami sengaja bertemu untuk bercerita soal kebodoran 3 Januari.

 

rute saya

( KA Argo Parahyangan) BD – Jatinegara 25000

( KRL ) Jatinegara -Cikarang 4000

( Primajasa) Cikarang – Bandung 30000 

Selamat Menjelajah Lebih Jauh!

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *