Sunset Emas dan Tubuh yang Melegam

Sunset Emas dan Tubuh yang Melegam

Waktu sekolah dulu, zaman SMP-SMA, saya sekolah asrama. Tentu memiliki banyak teman dari penjuru nusantara, meski teman-teman Pulau Jawa yang paling banyak. Tetapi, ada juga teman-teman dari Pulau Bali yang menjadi teman sekelas, adik dan kakak kelas.

Saya kira, saya tidak akan pernah bisa menginjak tanah pulau lain. Entah masih di Indonesia atau di luar negeri yang kaya dengan air laut ini. Lalu saya pernah berharap untuk menginjak Pulau Dewata. Pernah bermimpi, dan rasanya itu jauh sekali. Karena saya tidak pernah tahu harga tiketnya, dan jaraknya yang mengerikan jika menggunakan jalur darat.

Lantas, sejak saat itu saya ingin mengetahui berbagai tempat yang ada di Bali. Pantainya pasti biru, berbeda dengan pantai di Pulau Jawa. Sejak Sekolah Dasar, saya selalu diajak ke pantai jika liburan sekolah. Bersama nenek, saya sudah menyusuri pantai di perairan Provinsi Banten. Susur pantai, bisa disebut.

Katakan saja pantai apa yang ada di Banten, rasanya aku sudah mencobanya. Carita, Anyer, Tanjung Lesung, hingga Sawarna. Pantai Sambolo, Anyer sampai menyebrang ke pulau dekat sana. Entah apa nama pulaunya, yang jelas hanya ada satu keluarga yang menunggu. Kalau buang air harus bayar Rp 5000. Di dalamnya adalah hutan, tidak ada kegiatan menarik. Setelahnya, saya pulang lagi.

Asal kalian tahu, saya belum pernah ke pantai ter-hits se Jawa Barat. Pangandaran, ya itu dia. Belum pernah dan belum tertarik tapi kalau diajak ya mau aja hehe. Selama itu, saya belum pernah melihat sunset yang megah, atau air pantai super biru. Belum. Pernah di Tanjung Lesung. Airnya lumayan biru, tapi ternyata, ada yang lebih indah, biru dan menawan di Bali.

Melasti Namanya

Melasti, pantai paling bagus kata warga Denpasar, kata teman saya. Pantai itu lumayan jauh, tetapi hanya satu jam memakai motor dari Denpasar. Birunya, Masya Allah luar biasa. Belum banyak orang ke sana. Pasir pantainya berwarna putih semu coklat muda. Sedikit banyak monyet dan indah dipijak. Melasti, aku padamu!

Teman seperjalanan (kiri ke kanan : Hilda, Nadine, Syahida)

Kata Tante Ani, tante teman saya yang kita inapi selama di Bali (maafkan ya tante, dan Terima Kasih. Semoga pahala selalu mengalir ke keluarga), Melasti adalah  upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi oleh seluruh umat Hindu di Bali. Upacara Melasti digelar untuk menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan.

Tentu, saya bermain air dan berenang ria (kecipak kecipuk) di pantai. Sayangnya belum ada fasilitas kamar mandi. Ada bangunan toilet, tetapi belum bisa digunakan. Ada wc portable di balik karang besar, tapi harganya Rp 10.000. Demi enggak bayar, saya dan teman yang bernama Hilda bergantian mengganti baju di bangunan tersebut. Meski pastinya terlihat seperempat badan, akhirnya kami jongkok di balik kursi yang diduduki satu sama lain.

Hilda dan Fathia menyatu dengan pantai.

Kata Teh Dita, pantai di Bali semua gratis kecuali Pandawa. Pantai Pandawa juga sama biru. Lebih indah daripada Kuta atau Double Six yang sudah banyak sekali sampah bertebaran. Tetapi Melasti menjadi nomor satu di hati. Kedua baru Pandawa.

Seorang turis berfoto di Melasti.

Oh ya, di Melasti kami memesan bangku selonjor yang harganya Rp 50.000 (2 kursi di bawah payung) ditawar ya guys. Lalu Rp 50.000 untuk 2 buah es kelapa. Itu adalah es kelapa yang tersusah untuk saya serut pakai sendok. Pada akhirnya sendok (plastik) tersebut patah.

Di depan Pantai Melasti

Sunset Emas itu Ada

Setelah menjemur tangan dan muka akibat motorcycling, kami bergegas melihat sunset di Kuta. Katanya sih Kuta adalah pantai terbaik melihat sunset. Benar saja kawan. Meski Kuta adalah pantai terkotor (di Bali) yang saya lihat, tapi sunsetnya emas!

Sunset di Pantai Kuta, Bali.

Biar legam tangan dan muka saya, tapi pada akhirnya sunset emas itu datang.

Bali memang panas. Denpasar juga cukup macet. Tetapi Kuta lebih macet hehe. Kuta adalah sebenar-benarnya Bali. Kehidupan turis benar adanya, kawan. Waktu pertama kali mendarat di Ngurah Rai, tentu Denpasar menjadi destinasi utama. Jarang sekali lihat bule di jalan atau keanekaragaman yang berserakan. Beberapa hari kemudian, kami sengaja menginap di sebuah hotel bernama Cara Cara Inn (nantikan reviewnya!). Hotel terbaik yang pernah saya tempati. Lokasi tersebut di Kuta. Jreng jreng jreng….

Pantai Kuta membersamai sunset.

Kuta, adalah representasi Bali (menurut saya wkwk).  Pantai yang dekat, toko-toko berjejer serta pernak-pernik yang memesona. Tak lupa, ada dupa dimana-mana, hal unik yang tak pernah dijumpai di Bandung atau kota lainnya di Jawa. Dupa ada di tengah jalan, di toko, depan rumah, di setiap jalan. Menolak bala, katanya. Kata orang Hindu dong, hehe.

Selama di Bali, saya momotoran atau bahasa inggrisnya, motorcycling. Bali memang tak ada transportasi umum. Kata Bli Go Car, pernah dulu Bupati mengeluarkan transportasi umum, tetapi tidak ada yang naik. Lalu digratiskan, tetap saja tidak ada yang naik. Sudahlah, akhirnya ditiadakan. Jadi di Bali pada sewa motor, pesan ojek daring, atau mobil/ motor pribadi ya!

Informasi lain :

Sewa Motor : Rp 60.000/day

cari saja di Instagram @sewamotorbali / dll

Pandawa : Rp 18.000 (2 orang dan 1 motor)

Es Kelapa di Melasti : Rp 25.000

Tempat Duduk : Rp 50.000 (baik di Double Six atau Melasti, untuk lokal harganya segitu)

Cara ke Melasti : Google Maps, saja 🙂

Selamat Menjelajah Lebih Jauh!

Gapura Pantai Melasti,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *