Cibadak, Mimpi Kacangan yang Tertunda

Cibadak, Mimpi Kacangan yang Tertunda

 

Siapa yang tidak tahu daerah Cibadak? Jalanan yang dibuat berbeda dan penuh makanan kuliner ini begitu menggoda mata. Asap-asap yang mengepul dari wajan, api yang menyala, wangi yang khas, dan kerumunan manusia menyantap kudapan. Apalagi lampu dari lentera warna-warni yang sempat tren di masanya.

Jalan Cibadak menjadi indah di malam hari lantaran lumayan dipercantik oleh pemerintah kota, kayaknya sih gitu. Saat saya masih kuliah, Jalan Cibadak adalah jalan yang sering saya lewati. Bagaimana tidak, jalan ini memesona mata. Setiap kali melewatinya selepas Magrib, rasanya ingin berdiam diri dan makan malam-malam. Bagi teman-teman dekat, mafhum jika saya tidak bisa pulang larut malam, apalagi hanya sekadar foto di antara lampion kuning di bawah temaram lampu.

Pernah saya bermimpi, mungkin suatu hari ada masanya tidak diburu waktu untuk pulang larut malam, atau makan di pinggir jalan. Pasti ada saatnya. Entah kapan, saya hanya bermimpi jangka panjang. Sungguh kacangan, pasti.

Apalagi saat teman-teman di sosial media beberapa kali mengunggah fotonya di bawah lampion Cibadak. Greget, sih. Namun, apa daya pasti hanya melewatinya saja.

Sekian lama selepas menjadi Sarjana, saya sudah jarang melewati Jalan Cibadak. Apalagi saat bekerja dan mulai hectic dengan waktu yang tidak berkompromi. Kantor saya yang berada di daerah pusat kota kini tak membutuhkan Jalan Cibadak sebagai persimpangan.

Mimpi kacangan itu seakan sirna dan terlupa dari memori. Oh ya, ada satu hal lagi yang agak penting. Kini waktu jam pulang mulai longgar, lantaran liputan dan rapat yang seringkali membuat waktu kepulangan lebih larut. Setidaknya tak lebih dari jam 22.00. Hal ini disebabkan oleh waktu piket kantor hingga pukul 22.00. Sehingga saya seringkali pulang ke rumah setidaknya pukul 20.00-21.00 an.

Mimpi Kacangan itu Terwujud

Alay sih, emang. Tapi kita tidak pernah tahu bagaimana latar belakang seseorang sehingga tidak bisa menghakimi begitu saja perasaannya, apalagi rasa senangnya. Teman saya mengajak makan ke tempat makan di Cibadak. Bukan karena Cibadaknya, tetapi tempat makannya. Agak berpikir panjang, saya menerima ajakan itu. HAHA

Kala itu saya masih lupa dengan mimpi kacangnya.

Kemudian, sampailah saya di sana. Cibadak begitu penuh dengan makanan. Apa saja ada. Semua tumpah ruah. Ok, asyik juga~

Setelah memesan dan selesai, singkat saja ya. Selesai aja pokoknya makan, bayar, lalu Salat Magrib.

Kemudian saya berjalan melihat kanan kiri. Saya berceletuk ingin difoto di antara lampu tersebut. Susah sih, karena banyak mobil yang lewat. Namun pada akhirnya saya difoto di lampu jalan yang lumayan terang. Bukan di bawah lampion itu. Mayan kok bagus fotonya. Wkwkw

Terus saya baru sadar, lho. Saya ‘kan pernah bermimpi suatu hari pokoknya ingin makan di Cibadak malam hari dan berfoto di lampu itu. ULALA. Dream come true tea, geningan.

Tak perlu menunggu lama dalam mimpi jangka panjang, ternyata beberapa bulan setelah menjadi wartawan, dan kenal dengan teman wartawan lain yang rasanya sudah berkelana itu, adalah rizki.

Dibantu dalam pekerjaan, ketawa haha hihi bikin ngakak sampai sakit perut, dan banyak insight adalah hal yang enggak bisa dibeli dan dipelajari di sekolah formal ‘kan? Makasih ya!

Akhirnya, Cibadak, mimpi kacangan seorang Fathia terwujud juga. Mungkin mimpi kacangan Cibadak saya lainnya adalah bisa makan satu-satu alias kulineran di Cibadak sampai larut malam. Sampai enggak ada lagi kendaraan lalu saya bebas berfoto di bawah lampion suka-suka.

Selamat Menjelajah Mimpi Lebih Jauh!

dijepret tangan teman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *