Nyobain Makanan Asli Thailand

Nyobain Makanan Asli Thailand

Waktu ke Bangkok, pemandangan di sepanjang jalan penuh sama buah-buahan dan minuman rempah. Kadang ada bau enggak jelas juga, entah dari mana. Malahan, ada semacam warteg yang terbuka di gerobak (hmm Indo juga ada keknya wkwk gatau deng).

Terus, jajanan macam sate-satean, entah sate apa, berjejer di pinggir jalan. Tukang jus, minuman rempah dari bunga rosela sampai jahe pun ada. Semua bau tercampur di udara. Panas yang menyengat membuat aku pengen masuk Seven Eleven (macem indomaret) supaya kena AC.

Bau Kota Bangkok itu khas.

Saking panasnya waktu itu disertai lapar, karena udah masuk makan siang juga, saya sama kedua teman yang sedang berada di wilayah turis memutuskan untuk makan siang. Tentu makanan yang dijual pun harganya agak enggak wajar. Lalu, Orange, temen warga asli sana, ngajakin ke resto di pinggir Chao Praya yang dapat aku lihat harganya tidak cuco di kantong aku. Namanya Navy Club. Eh apa ya, Navy gitu pokoknya.

Sungguh baiknya Orange, dia traktir kita dong. Pas lihat menu, harga makanan sekitar di atas Rp 40.000. Minuman pun dibandrol Rp 25.000 gitu. Nuansa biru restoran terpampang nyata di depan pintu masuk. Gerai ini berada di pinggir Chao Praya. Keadaan di dalam resto bukan yang mewah-mewah, kok. Cuma deretan kursi hitam yang berisi satu meja. Ada meja berempat, berdua, atau berdelapan. Enggak sebagus kafe di Indonesia menurutku.

Tapi Orange bilang, kalau resto itu emang andalan makanan khas Thailand. Kalau dia bawa turis, dia suka ke sana. Btw, Orange itu kursus semacam tour guide. Jadi dia setiap minggu suka bawa bule ke temple di Bangkok.

Akhirnya, Orange memesan makanan yang seluruhnya vegetable. Ada seafood juga, yaitu udang.

Pad thai

Jadi makanan itu semacam kwetiaw. Namanya Pad Thai, gengs. Pad thai adalah kwetiaw yang dihiasi dengan lalapan. Sungguh sehat rasanya. Karena saya suka sekali sayuran, makan kwetiaw versi Thailand sih lebih oke. Hehe. Ada tauge dan selada di pinggirnya yang bercampur kacang dan udang. Endes banget. Pokoknya, porsi ini lumayan besar untuk sendiri. Tapi gak bisa di makan berdua juga nanti bisa jadi kamu masih lapar.

Harganya menurutku di atas Rp 50 ribuan gitu.

Tukang Jus buah di pinggir jalan
Ikan goreng tepung

Nah yang satu ini semacam makanan wajib kalau keluarga besarku makan di rumah makan Sunda. Pasti ada ikan! Mau ikan bakar, ikan goreng, atau ikan digoreng tepung. Ini percis banget sama rumah makan yang suka aku kunjungi di belahan Jawa Barat. Rasanya enggak begitu gurih, ikannya melumat di mulut, dan tidak memiliki rasa yang kaya. Jadi sekadar balutan tepung. Sarannya, pake cocolan sambal sih mantap.

Pad Thai
Lalapan Thailand

Duh aku minta maaf ya ini aku lupa namanya. Udah aku ubek di chat juga lupa. Buat kamu pencinta sayuran, ini wajib dipesan ya! Jadi isinya tuh ada selada, timun, labu, paria, kol, terong, wortel, dan brokoli. Sambelnya mantap gengs. Jadi asam- asam gitu. Enggak pedes banget macam sambal Indonesia. Sayurannya enak!

Tomyum

Bucket list checked! Makan Tomyum di negeri asalnya. Sumpah, ini asemnya seger gitu. Enggak pedes kaya di Indonesia, jadi cuma asem seger deh. Isinya empat udang besar. Huhuhu. Ingin lagi. Bedanya tomyum di Indonesia sama di Bangkok, mungkin rasa asamnya beda. Asam tomyum ini kerasa lebih kecut, tapi segar. Bikin terus-terus nguyup airnya…

Markisa di gerobak pinggir jalan

Kaya yang aku ceritakan di atas, banyak banget pedagang es yang bikin menggoda. Panas terik tanpa hujan badai ini es ngagupayan~ (baca : memanggil).

Jus botolan yang ditaruh alias dipendam dalam es serut membuat dahaga semakin bergejolak. Lantas kami pun beli dan mencobanya sedikit. Harganya sekitar Rp 6000 an. Wajar.

Longan Juice

Waktu makan di gerai muslim, aku beli Longan Juice. Karena anaknya suka coba-coba, yaudah pesen jus ini. Aku saat itu emang sering denger Longan.Cuman enggak tau Longan itu apa. Eh pas diseruput, ih mirip buah apa ya. Eh pas ngeuh, Lengkeng cyinnn~

Harganya Rp 7000 an gitu. Lupa tepatnya, yang pasti tak lebih dari itu.

Kanom krok

Nah, camilan ini juga sering hadir di deretan jajanan pinggir jalan. Namanya Kanom krok. Sejenis surabi versi mini yang rasanya manis dan kelapanya sungguh terasa. Lembut, tinggal makan, dan enak dimakan hangat-hangat. Aku enggak tau berapa harganya karena yang beli temenku, Orange 🙂

Thai Tea

Ini emang enggak terlihat warna oranye khas Thai Tea. Belinya rada elit di tempat ber-AC gitu. Mirip Chatime lah ya. HAHA. Harganya sekitar Rp 30 ribu. Ukurannya besar dan enak dibawa. Belinya di tempat naik Chao Praya. Jadi, naik turun penumpang perahu Chao Praya itu banyak. Aku enggak hafal daerahku saat itu.

our breakfast at Orange’s house.

Karena Orange pusing kita makannya apa, soalnya aku nolak makan ayam dan sapi, serta makanan haram yang terjual bebas itu, lebih baik seafood aja atau telur biar aman. Akhirnya Orange ngasih telur rebus, roti, dan buah saja. Itu ada aneka macam teh dan susu juga. Endes juga sih. Keluarga Orange terlalu baik. Dia suka ngasih makan sarapan mulu! Oya, satu-satunya yang bisa Bahasa Inggris cuma Orange. Sisanya, kalau bercakap sama bibi-bibinya ya isyarat senyum dan ngangguk. Bahkan waktu makan sama adiknya saja, dia enggak bisa ngomong apa-apa. Cuman senyum, nyodorin nasi, kikuk, selesai.

Pentingnya belajar bahasa itu gitu gengs (kemudian meratap diri sendiri). Tapi senengnya melakukan perjalanan versi aku sih, kudu banget ada beberapa hari menyatu dengan keluarga asal, warga asli, alias pribumi. Rasanya bakal kurang kalau enggak melakukan hal tersebut.

Mimpi selanjutnya sih, bisa jalan sendirian (?) Hueheueheheu buat merayakan International Lonely Day. (emang ada Fath?)

Buat aja sendiri.

Mau jalan bareng aku? Komen yahahahahahah (ngarep)

Tapi keuntungannya banyak, bisa diajak gembelita rasa sosialita. Seenggaknya difotoin rada apik, tinggal bareng pribumi, dan ngerasain banyak hal atau sisi lain yang jarang tersentuh. wkwkkw

Selamat Menjelajah Lebih Jauh~

4 thoughts on “Nyobain Makanan Asli Thailand

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *