Dimsum House Kesukaan Fathia

Dimsum House Kesukaan Fathia

Selama berkegiatan di Masjid Salman ITB, rasanya tidak pernah sengaja menengok tenda dimsum yang berada di Gelap Nyawang. Sampai akhirnya, tahun ketiga saya berada di Salman.

Kajae, kakak panutanqu dan cubat sepermainan di Salman pernah bilang, kalau dimsum di Ganyang (Gelap Nyawang) punya sambal yang enak sekali. Saat itu kami sedang berada di PvJ, melipir ke sebuah resto dimsum. Kajae bilang, dimsum di sini biasa aja, kalah sama dimsum belakang Salman.

“Fath kamu harus coba, enak banget parah. Apalagi sambelnya,” ujar kajae, setahun silam, sepertinya.

Saat itu Fathia baru mencoba dimsum pertama di sebuah resto dimsum PvJ. Karena anaknya penasaran, akhirnya saya merencanakan makan dimsum bersama Kajae. Agak lupa pertama kali Fathia makan dimsum sama siapa. Soalnya berkali-kali gitu. Entah sama Kajae atau orang di Salman pernah traktir. Duh, lupa.

Ah, intinya, menu Dimsum House ini cocok di lidah dan cocolannya paripurna.

Dimsum House

Ada sekian menu dimsum basah dan goreng. Harga per porsi Rp 13.000. Favorit aku Dimsum yang isinya seafood seperti udang atau crab. Baik yang bentuknya siomay, kulit lumpia, atau hakau. Pun yang digoreng.

Katanya, Dimsum House ini ada dua cabang. Satu lagi di Saparua. Harganya lebih mahal, Rp 18.000 per porsi. Kasir Dimsum House di Saparua adalah teteh-teteh, istri sang owner. Suaminya bertugas di Dimsum House Gelap Nyawang.

Ada minuman juga kaya teh manis atau milo. Harganya sekitar Rp 5000-an ke atas.

Tak heran, Dimsum House tidak pernah sepi pelanggan. Selalu penuh bahkan kehabisan. Kalau bukan Bulan Ramadan, Dimsum House sudah dijejali massa usai Magrib. Padahal baru bisa mesen jam 19.00 WIB, kata pegawainya.

“Tunggu 40 menitan gapapa?” katanya.

Makan Dimsum House di Bulan Ramadan

Tadi sempet makan dimsum usai berbuka shaum. Pukul 18.30 masih ada bangku kosong yang saya duduki. Tidak perlu terlalu berdesakkan seperti hari biasa, tapi tetap saja Dimsum House punya massa paling penuh dibanding warung tenda lain.

Kalau bulan Ramadan, mereka membuka pesanan mulai dari jam 18.00. Dimsum mulai siap pukul 18.30. Berdasarkan riset di instagramnya, mereka buka setiap hari di bulan yang suci ini! Bahkan porsi dimsum diperbanyak dari hari biasa.

Meski tidak seramai hari biasa, (tapi tetep penuh juga sih), saya sebagai penikmat Dimsum House bersyukur lantaran menunya masih kumplit. Terus masih bisa kebagian tempat duduk juga. Mungkin orang-orang lebih memilih tempat berbuka yang ada nasinya ketimbang ini, jadi enggak terlalu berdesakkan banget.

Kulit lumpia udang

Catat: Kamu adalah orang penting jika diajak Fathia ke Dimsum House

Setiap orang yang saya kenal, pasti ujung-ujungnya diajak ke tempat makan enak, yakni Dimsum House. Tapi enggak semua orang juga yang dikenal bisa diajak ke sini. Pasti kamu adalah orang terpilih, wkwkw

Seperti lingkaran teman di Salman, kantor, teman se-profesi, dan se-hobi. Biasanya, tempat ini jadi referensi tempat makan asik sambil rumpi bersama mereka, lingkaran teman terdekat.

Dimsum juga bisa berarti jembatan, layaknya kopi. Menyatukan berbagai cerita dari perut yang kelaparan usai seharian berada di ruang yang berbeda. Makan dimsum di malam hari di antara konsumen lain, menjadi ruang asik sendiri, meski kudu agak sedikit gogorowokan kalau lagi dengerin atau bercerita.

Di Dimsum House, Fathia mendapatkan banyak cerita, melebur rindu, dan kekenyangan akibat pesen 3 porsi.

Siomay crab

Pernah suatu hari sudah lama tidak bertemu Kajae, disebabkan kesibukan Fathia yang so sibuk, dan Kajae dengan segudang desainnya nu teu anggeus oge. Mungkin ada sebulan tidak bersua, bahkan lebih.

Fathia memulai chat duluan sebab mau memberitahu ada film bagus.

“Fath kemana aja ih udah lama enggak ketemu, kangen”.

Seketika aku pun menjawab.

“Iya ih sama, dimsum yuk!”

Dimsum jadi kosa kata paling ampuh buat ketemu orang untuk saling bertukar sapa dan bercerita.

Dimsum juga jadi kosa kata kangen supaya bisa ketemu manusia lainnya.

Di Dimsum House juga jadi alat saling traktir.

“Hayu traktir abis gajian, dimsum”

Atau, orang yang beralasan habis ketiban duit kemudian gak mau nerima duit makan dimsum saya sendiri.

Selamat berkangen ria sama aku dimsum setiap hari!

“Fath, mau cerita, di mana yu,”

“Yuk, Dimsum Ganyang Belakang Salman!”

2 thoughts on “Dimsum House Kesukaan Fathia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *