Buram saja.

Buram saja.

Kita pernah merasa asing di kubik sendiri. Meracau lelah yang tertinggal dan terpupuk sendiri. Kita pernah merasa berduka dengan duka duka lalu yang telah dianggap semu, hari ini. Berharap tak ada lagi kata yang demikian indah membuat rupa kian jadi tanda tanya.

Aku tidak pernah membayangkan, bahkan sulit menemukan, mungkin semu. Berbeda, dari masyarakat kebanyakan. Berbeda soal diri, laku hidup, dan detik niat yang terlalui, terlampaui. Mungkin hidup akan menjadi selamanya bisu, terpaut dengan semayam dunia yang semu. Membuat indah, arogan diri, tak mampu lagi sujud atau menyembah, padahal matahari berotasi atas sebuah titah.

Sementara itu, kejadian yang terlihat, dan aku melibatkan diri, menjadi tampak asing, semu, fana, dan terlihat jelas mana kotak satu dan kotak lainnya. Kalimat kita semua tidak sama, tapi ada segenggam rasa yg menuju satu kekuatan. Asing, namun hadir.

Seperti kamu. Adalah manusia yg terlalu cepat atau bahkan penyebab. Mungkin jadi penyelamat, atau buat sekarat.

Soal dosa, aku tau rupa. Mungkin jika dunia menunjukkan ini, mati aku di bawah jalan, di setiap titik kota yg pernah kita jajaki. Kita pernah temui, atau telusuri.

Mungkin desahan di setiap malam akan selamanya menjadi keresahan. Ketakutan aku pada sakitmu, yang aku bisa rupa prediksinya. Aku tetap berharap menemukan segalanya tentang kamu dalam wujud lain, atau kisah yang tidak mungkin buram begitu.

Kali ini, aku tetap sendiri. Menyemai rasa sendiri, menahan sendiri dan mewarnainya perlahan.

One thought on “Buram saja.

Leave a Reply to RIZKA Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *