Mengingat 5 Bulan Sebelum Hari Ini

Mengingat 5 Bulan Sebelum Hari Ini

25 April 2018, aku membuka kembali sengaja memori dalam kamera yang belum sempat diraba. Perlahan aku cari sudut kiri yang menanda tanggal di antara pertemuan tak menentu.

Kilau itu menyirat dari bola matamu. Menerawang pada embun di dua kaca bulat yang bertengger di wajah. Mengembuskan takdir yang membuat suram di kala hujan.

Kita tidak pernah berjanji. Semua terjadi seperti cepat berputar. Namun pasti, kau tidak akan pernah percaya, bahwa ada rasa yang kilat menyergap membuat aku harus mengunggah yang tersirat pada 25.

Seakan sirna dan payah. Aku tahu diriku sendiri. Yang sedikit mudah menyerbu sebongkah emosi, yang diisi sesuka hati. Yang diisi sebuah nyawa, yang tetiba mati tanpa permisi.

Aku juga tidak pernah tahu, bahwa ada kalimat yang tidak pernah berhenti hingga hari ini. Ada ribuan cerita menguap setiap hari. Ada tangisan dalam hati yang malu-malu menghampiri. Hanya takut menghantui, namun ini sudah pada titik, aku benar-benar menjatuhkan air mataku sendiri.

Pada pagi di tengah keramaian, aku membuka, aku membaca. Syair yang tidak pernah aku sangka. Kalimat merdu berisi nyawa. Aku bungkam, terdiam, terpatung dalam kerumunan. Sejenak, air mata itu tumpah, mengembun pada dua mata yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Adalah pertama, seseorang menulis begitu dalam. Tidak pernah menerima sebuah ketulusan dalam setiap percakapan. Tetiba hadir tanpa permisi, kalimat yang merangkum setiap emosi.

Begitu hebat kau luluhlantahkan dalam 20 detik. Tidak pernah terjadi sebelumnya dalam hidup, bahwa penantian ini akan menjadi panjang dalam sebuah keputusan.

Tuhan tahu, bahwa aku adalah manusia paling ogah membawa mimpi menuju abadi. Pada seseorang, yang sampai kini aku serahkan di tangan-Nya. Lantas hanya berangan-angan, bisa menari di bawah hujan pada petang, berkeliling kota sampai tengah malam, menyeruput kopi di sebuah kedai, dan berjalan jauh tanpa ada yang menunggu semalaman.

Sejak di bangku sekolah, aku tak pernah alpa menorehkan pena di atas kertas. Membuat rasa dari setiap paragraf untuk mereka yang aku tuju.

Kemudian, 22 tahun berselang, tak ada satupun yang bercerita mengenai aku dengan sebait rasa. Mungkin ibu, dengan rapalan doa ajaib hingga aku bisa berdiri sampai hari ini. Atau bapak, yang punya mantera, tanpa aku ketahui apa isinya.

Sayang, mengapa aku harus menemukan banyak judul dalam kenangan. Mungkin saatnya, aku harus benar-benar pergi dari kota ini. Jikalau kesempatan tak membersamai. Karena setiap sudut kota adalah cerita, yang tidak pernah sama setiap detik.

Di jalan utama, di kedai yang sepi hingga ramai, di bawah tenda, di atas aspal, atau bahkan tepat di depan rumahku sendiri.

Benar-benar tega. Semua tempat akan merenggut ingatan yang ingin dibuat amnesia.

Sesungguhnya, masih ada satu rahasia yang ingin aku bocorkan. Namun, biar waktu dan Tuhan yang rela membocorkan dari mulutku sendiri. Sebab menyangkut iman dan dunia yang fana, serta kefakiran yang masih ada di dalam jiwa.

Semoga Tuhan adil padamu. Pada jiwamu dan keluargamu yang tulus. Yang membuat waktu seakan selamanya, yang membikin tawa semakin melebar. Atau pada mimpi yang tak sempat aku raih, namun kau baca dan wujudkan dalam semalam.

Kita tak pernah ingin ada sirna. Tetapi, masih ada batas, yang rumit, yang wajib kamu mengerti. Aku hanya perlu waktu dan ilmu atau keberanian dalam penjelasan.

Aku mengamini apa yang kau rapal di setiap sujud. Ada keajaiban dalam semalam yang buat aku terpana. Ada kebaikan yang kau nyatakan dalam perbuatan. Semua kau terjemahkan dengan benar.

Lantas, aku hanya menunggu kebahagiaanmu, yang kau selalu sebutkan dalam setiap doa, atau pada tulisan-tulisanmu. Sebab kau pantas menerima seluruh dunia, dan kebaikan abadi pada kehidupan selanjutnya.

Babakan Ciparay, 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *