Yang lesu dan lelah.

Yang lesu dan lelah.

Kalau mereka bilang pekerjaan ini tak habis masanya. Mereka benar. Bisa pagi hari, tengah malam, atau 24 jam kau terbangun demi sebuah kalimat.

Ada rasanya capai, lelah, keluh kesah, dan segala ketidaksejahteraan yang melemahkan seluruh raga. Ada. Namun bagaimana sulitnya pergi berkelana bertemu pada sudut kota, mengawal bagaiamana supaya bijaksana.

Sebagian bercerita, ia terlena dengan pekerjaan yg melelahkan-dilihat orang-. Berkejaran dengan waktu atau teriakan orang kantor secara virtual. Tak akan habis pembicaraan, tak tahu pula bagaimana kesudahannya. Sebagian mundur perlahan, atau ditinggal kebinasaan.

Lalu, apa lagi yang dicari. Orang juga bercerita, ini bukan profesi yang diidamkan. Kesejahteraan bukanlah ruang yang hadir pada profesi ini. Namun celah sulit, wawasan, keterbukaan, keikhlasan hati, dan kekaguman akan hadir sepanjang waktu.

Kau harus mengimami jasadmu supaya tetap tajam tak terbawa arus. Bagaimana supaya langkah tetap maju, meski raga makin lesu terbawa angin malam. Atau derasnya hujan yang tak menentu, membuat makin payah ingin pecahkan tangis pada langit mendung.

Kemudian siapa yang mampu menahan ribuan notifikasi bak turun hujan meteor bertubi-tubi?

Lantas kau pening hari ini sayang. Bukan karena mengeluh, tapi benar-benar pening. Kepalamu berat bak dihujani durian runtuh. Ingin muntah, terlalu banyak frasa dalam otak. Mual rasanya.

Solihin, Penjabat Sementara Wali Kota Bandung, saat itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *