Ku Temukan Kirana di Matamu

Ku Temukan Kirana di Matamu

Acapkali menghadapi hari kian perih, kita tidak pernah sadar ada satu hal yang semakin kuat. Baik dari punggung yang semakin kokoh yang tak lagi rapuh dibasahi hujan, atau kedua kaki yang semakin kuat menopang tubuh di bawah surya, atau mungkin tangan yang menderu mesin sepeda motor sampai habis nyawanya.

Semua orang mafhum kalau manusia ada angan-angan. Segala hal yang kita kira bahagia belum tentu sesuai prasangka.  Apakah kita prakirawan yang menunggu detak hujan tiba atau langit mendung seperti yang aku lihat di sudut matamu?

Semua ini tak pernah selesai sebelum jasad bertepi di lubang tanah. Tak sedikit manusia lupa bahwa hidupnya hanya sepanjang biji jagung. Kemudian ia dekap erat-erat mayapada pada nyawanya, hingga sesak sebab ingatan sejenak amnesia.

 

Sejenak aku memandangi,  lamat-lamat ada kirana dari matamu. yang tak sempat bicara dari segala keheningan akan impian yang didustai. Semua akan berjalan semestinya, seperti Tuhan yang merencanakan sebuah pertemuan.

Bukan, itu bukan mendung. Jika kamu tahu, kau menyuar dirimu sendiri. Kau tegakkan bahu dan kaki dari kirana di matamu. Dia tak pernah kau sadari namun aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.

Kamu selalu bicara pelita di gelap malam, di terik siang, atau saat fajar menjelang. Kau acuhkan dirimu sendiri. Padahal kau kirana untuk setiap pesan singkat yang berdentang setiap saat. Atau dering telepon genggam yang kita biasa dengar setiap jam. Bahkan ratusan pesan elektronik, namun yang diharap tak jua datang.

Bukankah kita bicara kefanaan? Untuk apa hidup jika semua tak dibawa mati. Kita percaya ada satu hal yang belum bisa tembus dan kita rasa. Namun, masih banyak celah yang perlu kita perlahan rasakan, seperti surga di bawah wangi ibunda, atau aroma tanah usai hujan melanda, mungkin wangi malam dengan aroma robusta yang kesepian.

Atau mungkin, kirana yang aku lihat di matamu usai jeda nafas yang kau embus.

ada waktu kita tak percaya pada diri. atau hal yang kita yakin akan jamin semua kehidupan, nahas itu bukanlah satu-satunya. Akal dan kesehatan serta panca indera yang baik-baik saja hingga saat ini mesti diberi asupan gizi dari lengkungan senyum dan ketulusan hati yang dilakukan tanpa basa-basi.

Sekarang aku percaya, kamu adalah kirana bagi dirimu sendiri. Aku dapat lihat dari kedua matamu yang berpendar hingga ubun-ubun. Kemudian menyala sampai menghangatkan jiwa yang resah, ketika ia tak tahu di mana harus bertepi.

 

selamat berjalan lebih jauh.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *