Serangan Fajar

Serangan Fajar

Banyak sekali yang ingin aku keluhkan. Namun, rasanya tidak akan pernah sebanding dengan kesedihan rumah yang roboh dalam sekejap saat gempa menghadang. Atau ombak tinggi yang menghapus banyak nyawa.

Mungkin dari kemarin, sampai hari ini. Lantas, semua harus didasari rasa syukur supaya jiwa tetap hidup dan tak dikepung mati. Dari situ, setan akan mudah membelenggu meski hati sudah sangat ingin menangis. Tak ada artinya tangisan itu pun, sebab tidak berarti dari pada tangisan anak yang ditinggal ibunya di padang pasir atau dibiarkan mengambang di tepi sungau usai dilahirkan.

Setelah sedikit sedih sepanjang sore, kemudian dibuat menghela nafas dengan laku seseorang yang ditunggu sejak kemarin tapi tak kunjung datang. Kemudian rekaman yang hilang entah lenyap ke mana. Lalu listri padam di tengah sibuknya serangan fajar.

Aku hanya ingin tertawa dalam diam. Karena sudah tidak perlu lagi mengutuk hari. Kata ibu, ini adalah cerita yang perlu dinikmati setiap jengkalnya.

Lantas, aku hanya mencoba tersenyum. Menunggu pesan-pesan yang bertutur riang, bukan sedih berkepanjangan. Serta pesan -pesan para elit yang aku tunggu setiap saat.

Satu hal, aku pun ikut sedih ketika membuka pesan sosial di kotak emailku. Setiap katanya mengandung magis yang beberapa ku tak pahami. Namun aku tahu itu mengandung kepedihan. Karena sambil membaca, aku merasakan pedihnya menusuk sampai dada. Aku juga turut merapal doa, supaya dia baik-baik saja dan tidak selalu mengancam dirinya bahwa ia manusia tak ada guna.

 

Hayu main yuk! 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *