Observatorium Bosscha, Impian Usai Tonton Petualangan Sherina

Observatorium Bosscha, Impian Usai Tonton Petualangan Sherina

 

Petualangan Sherina menjadi salah satu saksi di mana aku tumbuh. Setiap hari selalu saja menyempatkan waktu buat nonton sebelun pergi Tk. Lantas aku selalu telat setiap hari. Aku juga agak bingung kenapa waktu Tk aku suka telat ke sekolah. Pasti telaaat aja. Soalnya dianter sama penjaga toko. Pas Tk, aku tinggal di Purwakarta soalnya.

Semua anak generasi 90 an mafhum, Shrerina jadi idola masa itu. Keluguan dan keceriannya mampu menyulap pikiran anak-anak supaya jadi seperti dia. Dari nyanyi di sekolah, pakai plester, dan momen diculik.

Percayalah, selama 20 tahun hidup di Bandung, saya enggak pernah menyambangi Bosscha. Kemarin, saya diberi kesempatan buat mengikuti Media Gathering Humas ITB, yang diikuti oleh sejumlah wartawan Bandung. Mereka juga diperbolehkan membawa anaknya. Haha akhirnya aku melihat kelucuan anak-anak dari para wartawan yang telah berkeluarga. Seperti anak teh Catur yang menggemaskan.

Di sana terdapat berbagai teropong dengan masing-masing fungsinya. Bukan berarti teropong besar yang kerap jadi ikon adalah teropong terbaik. Katanya, setiap teropong itu ibarat dokter spesialis. Jadi ya punya spesialisasi masing-masing lho mbaknya.

Mulai dari teropong stevia, surya, bamberg, zeiss, dan lain-lain. Biasanya mereka berada di rumah-rumah yang menutupi mereka. Tergantung ukuran, mereka juga pasti punya rumah yang disesuaikan sama badannya dong.

Oh ya, kami sangat disambut baik oleh tim Humas ITB. Dari penjamuan dan transportasi benar-benar mengesankan. Ada jamuan setelah datang ke Bosscha seperti bajigur dan bandrek, roti bakar, dan kacang-kacangan.

Tempat salatnya juga dipersiapkan dengan baik. Mereka menggelar karpet dan sejumlah sajadah untuk salat. Adapun mukena dan alat salat lain yang membikin kita nyaman.

Satu hal, meski rumah tersebut adalah bangunan lama, suasanya tetap hangat dan rapi. Ajaibnya, toilet laki-laki dibuat bagus sekali. Enggak kalah sama hotel-hotel gitu meski luasannya enggak terlalu besar. Tapi bersih dan rapi.

Kami dijelaskan oleh Kepala Observatorium Bosscha, Premana W. Premadi atau yang biasa disebut Mbak Nana. Beliau menerangkan soal fungsi dan segala hal mengenai penelitian Bosscha. Serta sumbangsih keilmuan yang dilakukan Bosscha untuk kemaslahatan umat. (wuooo)

Intinya, kalau mau berwisata ke sini boleh banget. Senin – Jumat buat rombongan sekolah. Kalau untuk umum ya hari Sabtu. Ada jadwalnya jadi enggak bisa sembarangan. Jadi, cek websitenya ya ke Bosscha.itb.ac.id

Harga masuk Rp 15.000. Kalian juga bisa menikmati peneropongan malam hari. Hanya saja waktunya terbatas. Lengkapnya cek jadwal di situs Bosscha ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *