Menari Bersama Monita Tahalea

Menari Bersama Monita Tahalea

Matahari sudah di penghujung petang
Kulepas hari dan sebuah kisah
Tentang angan pilu yang dahulu melingkupiku
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama

Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu

Aku mencari
Aku berjalan
Aku menunggu
Aku melangkah…
Pergi…

Kaupun tak lagi kembali
Sebuah janji terbentang di langit biru
Janji yang datang bersama pelangi
Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja

Tak lagi sama
Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja

 

monita tahalea
Monita dalam konser Forestra di Orchid Forest.

Pada awalnya saya tidak begitu tertarik dengan Monita. Perempuan jebolan Indonesian Idol ini mungkin menghipnotis beberapa kalangan, apalagi anak muda. Lagu-lagunya yang mendayu dan menyentuh mampu menyulap hutan menjadi riuh.

Dari sana saya baru tersadar aura Monita yang memiliki suara hangat. Setelah didengarkan, dia mencipta lagu yang suka saya dengar. Kemudian, isinya menyemangati supaya tetap berjuang dan berjalan dengan tegar usai masalah datang.

 

forestra

 

Forestra kali itu adalah konser musik kedua yang saya ikuti setelah menyaksikan konser musik Marion Jola dan kawan-kawan di Trans Studio Bandung. Mungkin saya lebih menyatu dengan konser di alam terbuka. Orchid Forest memang pantas dikatakan Destinasi Digital. Anak muda dan gawainya dengan cepat membuat media sosial riuh bersama unggahan Orchid yang diliputi banyak lampu dan pepohonan.

Semua tenggelam bersama Monita. Dengan blazer merah panjang dan sweater berkerah yang pas di badan tidak menghalangi dinginnya cuaca Orchid Forest. Ratusan pengunjung merapat ke depan panggung sembari mengayun langkahnya dan bercuap di tengah nada. Tak ada sumbang, semua menyatu seirama.

Seakan nada mengalir pada nadi, Monita berulang kali menyanyi dengan suara ringan dan tipisnya yang khas. Semua bernyanyi tanpa jeda dan mengabadikan memori pada gawainya.

Rambut panjangnya terurai seperempat tangan. Pulasan rias tak begitu terlihat di mukanya. Monita menyapa penikmat di hadapan sembari mengayun langkah. Tak banyak, mungkin tak lebih dari empat lagu.Namun, keindahan semakin sempurna saat Pusakata berduet dengan Monita setelahnya. Sore itu Orchid Forest semakin dipenuhi massa. Kali itu, Orchid adalah hutan paling bahagia.

 

Maka, konser musik di Forestra kali itu benar-benar berhasil memukau mata. Aromanya membuat rindu, iramanya mengalun deras, tak ada lagi makian hari itu harus berhadapan dengan malam. Namun, setidaknya saya berterima kasih pernah berdiri di tengah ramai yang tak membuat pening.

Satu hal, Monita juga mengajarkan untuk tidak lagi membicarakannya di hadapan manusia yang sama-sama menyukai dirinya. Lantas lebih baik mengasingkan diri dan menepi dari riuh-riuh itu. Saya bisa temukan keramaian sendiri.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *