Tentang 24

Tentang 24

Tepat satu bulan tidak menulis di sini. Rasanya bukan platform yang tepat untuk berkeluh sudah 30 hari tidak produktif di laman sendiri. Tetapi, aku masih produktif di laman orang lain : pekerjaan sendiri.

Tentang 24 yang abu-abu, saat aku masih 18 tahun, bahkan masih sekolah dasar. Aku ingat, saat itu masih lari-lari di halaman sekolah SDIT Anni’mah yang dindingnya dominan berpulas abu-abu dan putih. Tak heran, baju olahragaku saat itu juga berwarna abu.

Saat itu aku berpikir, bagaimana aku besar. Bagaimana aku dewasa dan kuliah lalu bekerja. Sesuatu yang terlampau jauh dan abu-abu seperti dinding SD-ku. Apa ceritanya sesulit cinta di FTV SCTV? Atau nanti aku akan bergaya seperti anak muda yang asyik dan penuh canda tawa? Semua pernah terlintas di benak saat usia SD. Kemudian, aku kembali berlari dan bermain di lapangan buat main egrang dan menghafal lagu serta gerakan Akademi Fantasi Indosiar.

6 tahun padahal waktu yang sangat lama. Dari sana aku beranjak pergi meninggalkan Kota Bandung dan teman-teman SD yang rata-rata pergi ke SMP favoritnya. Sehingga mereka bertemu kembali di sekolah yang serupa. Aku? Hilang kontak dengan mereka. Karena dalam pikiran, aku akan asyik mengembara diam di satu tempat bersama teman-teman baru di Ciparay, Kabupaten Bandung.

6 tahun, dari SMP hingga SMA, aku tumbuh dan berkembang di sekolah berasrama dengan dominan keagamaan yang baik. Tapi, jangan sangka, lingkungan yang homogen dengan pendidikan agama baik tak juga tercelup dengan kenakalan atau cunta cinta yang memilukan. Kalau bicara generasi setelahku, aku bisa saja menangis dengan apa yang tengah hadir di sekolahku dulu. Penjagaan Allah memang patut disyukuri bahwa aku masih diberikan teman-teman dan keluarga yang sangat baik. Syukur tiada tara.

Selama tinggal di sana, tak ada hal buruk di kepala terkait dunia setelah gerbang sekolah terbuka. Aku lolos ke kampus nun jauh di Sukasari, Kota Bandung. Sekolah formal pertamaku yang berada di Kota Bandung. Pasalnya, sejak TK hingga SMA, aku bersekolah di kabupaten Bandung. Malahan, TK di Purwakarta. Padahal, tinggal di Kota Bandung~ skip lah ya.

Kemudian, empat tahun tepat aku bisa menyelesaikan studi sarjana. Kaget, was-was, dan aku sudah lulus kuliah! Lalu, mana cerita lucu di tengah koridor kampus membawa buku dan baju yang mentereng? Atau, makan cantik di kantin tanpa antrean dan bermain bersama teman kampus. Rasanya sulit untuk sekadar membeli minum ke lantai 1, sebab kelasku di lantai 6. Kemudian, susah mencari kursi di Kantin karena mahasiswa dan anak-anak SMP dan SMA di UPI bersatu padu.

Kemudahan yang Allah berikan begitu luas. Orang-orang sulit mencari dan pergi ke sana kemari untuk sebuah pekerjaan. Lalu aku yang kurang dari lima kiriman CV ke beberapa perusahaan, akhirnya jodoh bertemu di tempat dan profesi impian; saya Fathia wartawan ayobandung.com pak, boleh wawancara ?

Tak semudah itu, Ferguso~ pekerjaan yang rasanya dinamika tinggi dan bisa di mana saja sungguh melelahkan. Memang tak ada yang tak lelah untuk bekerja ya, nona. Namun, banyak sekali pelajaran dan teguran keras dari ketidakbersyukuran, ketidaktahuan, kepolosan, dan dunia yang sungguh terbuka lebar. Semua berawal dari pekerjaan ini.

Banyak hal baru, orang-orang baru setiap hari, dan semua yang harus saya ungkap di tulisan episode lain. Mungkin beberapa bulan lagi, hehe. Setahun menjadi seorang wartawan membuat aku belajar untuk tidak tertutup pada dunia, terbuka dengan pikiran, dan menyaring segala hal yang dianggap tidak sesuai, namun berdamai dengan keadaan. Doa adalah kuncinya.

Masalah, tekanan, juga perasaan terus datang berlawanan arah. Kanan kiri atas bawah depan belakang, bak setan yang menggoda supaya aku terjerumus dalam kekufuran nikmat. Namun, satu hal yang diingat dan paling membentur diri sehingga jadi titik balik di usia 24, petuah ibu yang amat luas.

Dari sana, aku berkaca, kembali mengkaji, membaca dan menonton hal-hal, bertanya, dan berdiskusi. Tak lupa, berdamai dengan beberapa manusia, hati, juga menetapkan keputusan yang amat tidak mudah. Usia semakin tinggi, masalah pun semakin rumit. Tetapi, kalau sandarannya bukan Dia, mungkin kita sudah kalah.

Segala puji bagi-Nya. Kesempatan untuk mengaktualisasikan diri serta bersandar penuh pada-Nya ada di waktu 24. Sulit mendeskripsikan, tetapi banyak hal yang harus disyukuri. Kini, aku tak pungkiri lagi ketika doa membanjiri; jodoh, sukses dunia, dan akhirat. Tiga hal yang berulang diucapkan oleh orang-orang terdekat.

Dulu, sempat berpikir, kenapa orang selalu saja berkata soal jodoh, apa tidak ada doa lain seperti sehat dan tercapai menjadi seorang dokter, dosen, atau bisa punya toko ? Soal do’a konkrit yang kita pikir bisa meminta-Nya pada Allah. Nyatanya, pikiranku sesempit itu.

Jodoh bagi mereka adalah arti yang luas. Jodoh terbaik bukan hanya soal pasangan di masa depan untuk memberikan keturunan saja. Bagaimana jodoh itu ternyata dengan kematian, berjodoh dengan universitas yang kita inginkan, berjodoh dengan pekerjaan yang diidam-idamkan, juga berjodoh dengan sujud yang panjang dan bisa usir malas dari waktu sepertiga malam. Juga berjodoh dengan mesin cuci dan setumpukan baju yang selalu siap sedia aku bersihkan.

Semoga, do’a teman-teman terkabul untuk kebaikanku, kebaikanmu, kebaikan kita semua. Rasanya, Allah yang pantas membalas do’a itu untuk kembali pada teman-teman dan saudaraku semua. Di usia 24, hadiah Allah kepadaku adalah sebuah kesadaran. Sadar akan pentingnya Allah di hati, di jalanan, dan sangat butuhnya aku sama Allah. Juga air mata yang mudah sekali mengalir di usia 24 ini. Mungkin do’a ibu dan bapak serta saudara dan teman-teman ibu bapak terkabul saat ini. Aku tumbuh jadi perempuan yang ingin selalu dekat dan selalu butuh sama Allah. Dan sepercaya itu, sama kehadiran-Nya. Yaa, karena jaman dulu, kayanya Allah cuma ada di mulut, bukan di kepala dan hati.

ya, sekarang aku menangis lagi, HAHA. Makasih ya teman-temanku!

2 thoughts on “Tentang 24

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *