Ada Cerita dari Solo

Ada Cerita dari Solo

Solo, ia dikenalnya. Namanya sih Surakarta. Tapi, biarlah orang menyebut apa. Perjalanan tiga hari dua malam yang mengambil libur hingga empat hari ini cukup menyita waktu. Ya, mengesampingkan segala aktivitas yang dirasa perlu memunculkan rasa rindu untuk berkata, “duh, kangen liputan”. Sejatinya, kalau kalimat itu telah muncul, aku sudah cukup berlibur.

Untuk mendapatkan kalimat mantra di atas, aku memerlukan izin dari dua minggu lalu supaya bisa rehat sejenak. Super random, aku bilang, karena perjalanan ke Solo bukanlah sebuah impian.

Suatu hari, aku bilang ke temen kampus dulu pas sarjana, sebut saja Hilda.

“Yuk liburan, ke mana ya? Semarang yuk Hil!” ajakku.

Hilda menyambut dengan baik dan semangat. Kami memantaskan jadwal dan tanggal lantaran aku harus mengira-ngira (alias ngasal), dan Hilda mengatur tanggal libur karena sebentar lagi ia masuk kelas pasca sarjananya. Lantas, Hilda memesan dua tempat duduk kereta api secara langsung supaya liburan kita jadi.

“Qim, ke Solo yuk, atau Semarang? Bebas sih” kata Hilda.

Aku sudah membuat list dalam otak bahwa aku ingin sekali ke Semarang. Karena selain lebih dekat, dia punya beberapa titik tempat yang aku ingin sambangi seperti Sampokong, dan masjid unik lainnya. Juga bertemu teman kartu pos yang belum juga sempat bersua. Oh ya, mimpi pergi ke Semarang sudah aku mulai sejak kuliah.

Tetapi, Hilda terus saja menggaung-gaungkan Solo. Aku pun belum pernah, ya, aku anaknya terserahan. Akhirnya Hilda pun menekan tiket dari stasiun Bandung ke Solo Balapan.

“Qim aku udah pesen, aku talangin pake uang aku. Solo, ya” ujarnya.

Sejenak aku kaget, wow se random itu. Tapi senang, lho. Rasanya pergi yang langsung sebut dan belum tahu di sana ada apa alias gak kebayang bikin perjalanan makin menantang~

***

Kami duduk di kursi premium yang harganya Rp 175,000. Berangkat sekitar pukul 18.00 dengan estimasi kedatangan sekitar pukul 04.00 subuh. Aku pertama kali lho naik kereta api premium dan ternyata seenak itu. Kata aku sih enakan suasana premium lantaran lebih modern dibandingkan eksekutif. Sejauh ini, eksekutif lebih punya sandaran dan kaki yang lega. Free bantal dan selimut juga.

Suasana kereta premium Bandung – Solo Balapan.

Kalau premium, kursi lebih apik, meskipun kaki tidak luas, tetapi suasana modern dan nyaman. Toiletnya pun luas, tak sesempit toilet ekonomi. Kursinya berwarna coklat dan sejajar untuk dua orang.

Setelah kami sampai Stasiun Solo Balapan, rasanya lucu juga. Wow, sudah di kota orang, jauh dari Kota Kembang. Hawa lebih hangat ketimbang Bandung sudah bisa dirasakan. Waktu azan Subuh pun tiba, tepat kami menginjak musala stasiun. Ya, musala besar ini sudah cukup, hanya terlalu terbuka untuk area perempuan.

Hilda (kerudung abu-abu) tepat di sebelah aku.
Selamat datang di Stasiun Solo Balapan.

Kami salat subuh sembari berpikir, mau kemana kita sekarang?

“Kita simpen aja tas di hotel, baru pergi-pergi,” kata Hilda memberi saran.

Kemudian kami pergi ke luar stasiun untuk melihat kondisi jalanan Surakarta yang lengang dan temaram. Belum ada matahari yang muncul, namun pergerakan warga sudah terlihat dari warung nasi di seberang stasiun.

Gudeg, lauk pauk, dan aneka sayur bersantan mengepul asapnya hingga ke atas tenda terpal. Sajian gorengan dari perkedel hingga bermacam-macam ikan lengkap disajikan di atas meja. Pemandangan yang cukup aneh saat melihat warga menyantap sepiring nasi dengan sayur bersantan dan pedas. Ini masih pagi lho, mas.

Di samping kanan, terdapat sekelompok orang yang membakar rokok di mulutnya. Kelihatannya mereka selesai makan pagi. Aku menelan ludah. Lapar dan bingung ingin menyantap apa.

Akhirnya sepiring nasi , bihun, dan tumis tahu aku taruh di piring. Sedikit sambal sepertinya tak apa. Ya, tidak jauh lah dari makanan Sunda. Namun, pagi-pagi sudah makan pedas rasanya aneh. Bihun dan tumis tahunya sudah pedas, nona!

Sepiring sarapan pertama di Kota Solo.
Suasana pagi di warung nasi tenda pukul 06.00 WIB.
Lengangnya jalanan pagi di depan Stasiun Solo Balapan.

Sarapan dengan segelas teh tawar serta nasi yang kusebut di atas hanya dibanderol Rp 10,000. Kemudian Hilda memesan Go-Car untuk pergi ke hotel yang kami pesan di tengah kota, yakni Jalan Slamet Riyadi. Hotel itu bernama Pop. Hotel di bawah manajemen Tauzia untuk versi budget dan milenial.

Pop Hotel Solo berada di jantung kota Surakarta. Saya merekomendasikannya buat pejalan yang ingin mudah pergi ke berbagai wisata kota karena jalan ini dekat ke mana-mana. Pelayanannya baik untuk ukuran hotel budget.

Harga Rp 197,000 / day (twin or double bed) *kami menggunakan voucher Traveloka sehingga harga lebih murah. Tarif ini belum termasuk breakfast. Namun kamu bisa memesan sendiri breakfast ala Pop Hotel di Pitstop Cafe yang interiornya pastel dan unik abis! Harga makanan beratnya sekitar Rp 25ribu sampai Rp 35 ribu. Ada kopi dan snack juga.

Perlu diingat, Pop Hotel tak menyediakan alat mandi kecuali handuk dan sabun/shampo. Selain itu, kamu bisa membeli di Pitstop Cafe. Satu lagi, Pop tidak punya kolam renang. Kalau kamu mau renang, bisa nebeng ke hotel sebelah yakni Harris Hotel dengan charge Rp 100,000 per orang.

Kami menyimpan tas sebelum bisa check in pukul 14.00 nanti. Kamu tinggal bilang ke resepsionis untuk meminta bantuan penyimpanan tas kamu dengan memperlihatkan kode booking. Setelah itu, kamu bebas pergi tanpa beban berarti.

Kamar di Pop Hotel Solo.

Let me have a rest

Saat itu kami langsung pergi ke Museum Pura Mangkunegara. Sebuah museum yang menyimpan barang berharga kerajaan sejak Mangkunegara pertama hingga saat ini. Foto-foto Mangkunegara dan istri juga terpampang di depan museum.

Tahukah Kamu?

Foto Mangkunegara saat ini dan beberapa periode ke belakang, pun foto istrinya, diambil oleh fotografer kelas atas, Darwis Triadi! Keren, ya.

Pemandu tengah menjelaskan asal usul gamelan yang sedang ia tunjuk di Museum Pura Mangkunegara.

Kemudian kami pergi makan ke Cafe Tiga Tjeret, angkringan modern terbaik di Solo! Pokoknya, kalian mesti pergi ke Tiga Tjeret sebab makanannya luar biasa enak!

Setelah itu kami berjalan ke Museum Pers Nasional, di mana arsip bersejarah jurnalistik dimuseumkan. Di sana juga terdapat ruang kerja Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta. Uniknya, kami melihat sekelompok bapak membaca koran di papan dinding berdiri di depan museum. Masih ada lho yang baca koran sambil berdiri.

Selepas itu, kami pergi ke hotel untuk check in. Rasanya merebahkan diri di kasur hotel sambil memasang AC adalah kenikmatan luar biasa.

cerita selanjutnya aku sambung tentang Museum dan tempat-tempat yang aku kunjungi ya!

Apa yang harus dibawa ke Solo?

Pakaian lengkap, alat mandi, riasan, kamera, snack ringan, totebag atau tas kain belanja, kaca mata (jika perlu), payung, dll yang kau rasa perlu masuk ke tas.

Selamat Menjelajah Lebih Jauh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *