Kemping Ceria di Ulin Bareng Vol.2

Kemping Ceria di Ulin Bareng Vol.2

Libur sedetik itu nyata, gengs. Alhamdulillah, di tengah padatnya ombak yang menghadang (ceileh) akhirnya aku bisa menyempatkan diri untuk datang ke sebuah acara kemping ceria~ Waduh, kemping di mana tuh Fath?

Berbekal semangat dan sleeping bag murahan di tas merah marunku, aku melaju ke sebuah tempat yang belum aku kunjungi di Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sembari mengandalkan peta digital di ponsel, arahnya menuju ke Cimahi kemudian menembus ke Parongpong hampir sejauh 20 kilometer dari rumah. Terbayang, kemping malam ini akan mengasyikkan. Mungkin ada musik ala ala Novo Amor, atau Doel Sumbang, bisa jadi Pusakata gitu? hehe.

Butuh kurang lebih satu jam untuk mencapai Parongpong melalui jalan Cihanjuang. Kali itu pertama kalinya menuju Parongpong, KBB tidak melewati Jalan Sersan Bajuri kawasan Ledeng Setiabudi. Entahlah, aku manut pada peta digital, saat itu.

Waktu menunjukkan 15:06 WIB, akhirnya aku sampai di Detasemen Kavaleri Berkuda milik TNI AD di sana. Disambut oleh bapak TNI gagah di depan portal, ia bertanya hendak kemana aku pergi.

“Ok, masuk, tapi buka maskernya,” ujarnya.

“Siap pak, nuhun,” jawabku.

Kemudian aku mengendalikan kemudi menuju jalan yang sepertinya benar. Meskipun sempat hilang arah, seorang bapak 30-an yang sedang menggunakan Scoopy merahnya memberikan aku arahan menuju kavaleri berkuda.

Setelah mengikuti jalan aspal, akhirnya aku sampai di tempat tujuan. Motor-motor dan beberapa mobil terparkir di halaman. Suara musik yang didendangkan oleh disc jokey terdengar hingga aku memarkirkan motor.

Acara hari itu bernama Ulin Bareng Vol.2. Sebuah kolaborasi acara dari Dapur Hutan dan Super Generation yang menyatukan berbagai peserta. Kebanyakan dari komunitas dan beberapa orang yang saling mengenal satu sama lain. Puluhan tenda telah berjejer rapi di halaman. Panggung yang tidak terlalu besar memendarkan cahaya ungu, hijau, kuning, kala hari semakin larut.

“Tenda kita rembes!” kata Ambu, salah satu teman kemping yang satu tenda denganku. Sebenarnya itu tenda Ambu. Katanya, masangnya kurang pas sehingga tenda terkena basah.

Sore itu hujan semakin besar. Keadaan di luar sepi dan semua orang berteduh. Termasuk aku, Ambu, dan Nia yang satu tenda oranye bermuatan dua orang. Jadi kami masuk bertiga, gengs. Haha.

Sembari menunggu reda, Ambu bersikukuh untuk membetulkan tenda. Akhirnya ia, Nia, dan Radix membetulkan tenda kami saat langit sudah gelap dan hujan tinggal gerimis. Fathia menunggu di dalam sembari memberikan cahaya lewat senter.

Kami pergi ke acara Ulin Bareng Vol.2 sebagai media partner dari Genpi Jabar. Sebuah komunitas binaan Kemenpar RI yang bertujuan untuk mem-viralkan sebuah destinasi wisata dan kaulinan alias atraksi. Kami tidak mendapat tenda khusus karena tidak termasuk 100 pendaftar pertama. Namun, kami melihat tenda sebelah, dari penyelenggara acara, masih kosong. Kami mengecek, jika sampai malam tidak ada yang mengisi, kami akan pindah ke sana. HEHE.

Alhasil, pukul 22.00 -an, kami cek tenda tersebut masih kosong. Kami bermigrasi dari tenda oranye yang kecil ke tenda besar milik panitia. Tendanya sungguh luas dan tegap. Kami tidak akan kebasahan kalau hujan.

Tak lupa kami makan malam ala prasmanan yang disediakan panitia. Cukup kaget, lantaran makan malam kali itu adalah nasi liwet, ayam goreng, tahu, lalapan, sambal, dan JENGKOL. Are u serioooous? Acara besar seperti ini masih memikirkan kearifan lokal yah gengs. Salut untuk Dapur Hutan dan Super Generation!

Aku makan jengkol? Ya, tentu. Nikmatnya luar biasa dipadu dengan sambal yang tak cukup pedas serta lalapan kemangi hingga selada. Makan malam kali itu ditutup dengan Vietnam Drip ala Ipok Aleuh dan Coffee Drip bag ala Abraham and Smith. Sempurna.

Oh ya, satu hal yang paling menarik dari kemping bersama Dapur Hutan adalah stan makanan! Bayangkan, kemping ceria ini sungguh ceria. Selain ada stan jualan makanan mulai dari ketan bakar, cuanki, batagor, susu murni, dan kopi, terdapat juga papan skate yang terbentang di lapangan. Pemain skate dan in line skate mencoba keahliannya dalam skating.

Ada pula pemain sepeda gunung atraksi gitu dari atas bukit hingga ke bawah. Wow, cukup menantang sebab mereka banyak yang terjatuh-jatuh. Tapi itu kan seninya.

Ada juga panahan dan bermain boy-boyan. Sayang, aku enggak ikut semuanya. Aku hanya makan Cuanki Berkah Djaya sambil ngobrol di dalam tenda.

Arena Denkavkud sebagai tempat kemping cukup enak. Kamar mandinya bisa dikatakan baik. Area hikingnya juga lumayan bisa ditempuh awam. Jadi, acara ini emnag cocok buat semua kalangan.

Di malam hari, para pengisi musik mulai dari penyanyi dan pemain alat musik beradu di satu panggung. Sembari mengelilingi api unggun, semua menyatu dan mengayunkan badan, sesekali kakinya dihentakkan yang bersatu dengan tempo nada. Ada juga peserta dari luar negeri yang terlihat senang dan terkesan dengan acara ini. Mereka duduk di bean bag yang disediakan sambil mendengarkan lagu.

Ulin bareng ini memang merepresentasikan main bareng di sebuah kawasan hijau. Tak lupa, panitia menutup acara ini dengan menanam bibit pohon di kawasan tersebut. Para peserta kemping menggali tanah dan menanamnya supaya kelak bumi akan tetap hijau dan bersedia dijadikan landasan untuk kemping ceria kembali.

Selamat Menjelajah Lebih Jauh~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *