-9 : Why Does It happen? Because It Happens for you.

-9 : Why Does It happen? Because It Happens for you.

Banyak hal yang tak sesuai dengan harapan. Kerap menganggu, pastinya. Mulai dari waktu yang tak bersahabat, derap langkah, cuaca kota, musibah, idealisme, dan penyakit lupa. Atau juga semu yang menertawakan impian yang entah kelam di alam bawah sadar, lantas terlupa oleh kefanaan.

Segelintir pertanyaan bertubi-tubi masuk ke dalam otak kemudian dirasakan oleh diri. Mengapa itu terjadi padaku? Sesuai judulnya, itu terjadi buat kamu. Gemuruh angin kencang melebihi semestinya terus melaju di saat semangat mulai goyah. Orang-orang yang dipercaya, atau seharusnya dihormati tidak lagi jadi pandangan. Sekelebat hilang, kemudian menyiksa perlahan.

Syukurlah, perasaan bahagia dengan sugesti yang sudah dicanangkan dalam kepala memang tak sulit dikendalikan. Ia datang bagai desiran angin saat petir menyambar. Bukankah seseorang akan takut? Tapi aku tidak. Justru ia menyejukkan, sekaligus memekakkan kepala.

Tak ayal, ia berulah sepersekian detik. Seperti sudah menghujam dalam kepala dan hatinya, yang entah terbuat dari apa, atau mungkin hanya sebesar tempurung lutut. Ia lupa akan jadwal-jadwal. Pantaskah aku diam dan melupakan dering ponselnya.

Kali ini rencanaku makin gila, ku coret saja nomornya dengan tinta hitam pada tombol layar. Namanya kini sudah jadi gelap dalam kepala. Seakan tak ada lagi sisa kehormatan yang bisa diberikan. Entah apa untungnya, entah apa maksudnya.

Tapi itu terjadi, karena itu terjadi untukku.

Mungkin, atau Ya, aku terus mengeluh. Untungnya hanya sekejap pada orang-orang yang bertengger di kolom ponsel. Setelah itu sudah. Tetapi, bagaimana mereka dapat menjawab keluhan baik dengan solusi, sekadar menenangkan, atau pernyataan.

Mereka kembali mencoret jadwal tidurku yang aku susun sebelum pukul 12.00. Nyatanya, mereka membuat aku semakin bekerja keras. Tanpa ada pemberitahuan satu pun dalam ponsel, aku matikan saja semuanya.

Aku memang bukan seorang pendendam ulung, atau menaruh rasa benci dan sakit yang berlama-lama. Esok pagi, sepertinya, sudah kembali sedia kala. Meski aku bisa yakinkan, pagi ini akan lebih berturut-turut. Sebuah sugesti yang naif.

Mungkin akan banyak cerita yang menyertai tulisan ini di kala kepergian pada sebuah cerita setahun lamanya yang menguras emosi. Baik bahagia, sedih, tawa, kasih, cinta, dan dosa.

Ada baiknya aku berhenti sejenak, menaruh kalimat hasrat pada dunia ini di belakang, mungkin aku akan bangunkan hasrat itu nanti. Jika datang waktunya, atau tidak sama sekali. Sepertinya tak perlu penilaian manusia. Biar saja aku mencintai tulisanku sendiri.

2/4/2019
1:45 AM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *