Berbagi Peran Sang Wartawan

Berbagi Peran Sang Wartawan

Wartawan Antara itu tak pernah habis cerita soal seluk beluk kantornya yang tak tahu diri, juga dia yang sangat diandalkan di kantornya saat ini. Belum lagi keluarganya yang menjadi tanggung jawab hidup yang harus dipikul.

Ia bercerita panjang soal bagaimana awal mula berkecimpung di dunia ini, dunia jurnalistik, menjadi seorang wartawan. Pada Mei 2018, atau akhir April 2018, ya setahun lalu, ia bercerita tentang dirinya bisa diterima di media bergengsi Antara. Kantor berita punya negara.

Tulisan ini merupakan kolaborasi yang didedikasikan atas satu tahun saya menjadi seorang wartawan di media lokal. Juga banyak cerita yang belum saya kupas, juga kepada masing-masing pribadinya. Sebelumnya, saya sudah bercerita soal bagaimana saya berjumpa dengan wartawan Antara satu ini. Tulisan ini bisa kamu baca di sini.

Tulisan Sebelumnya: Wartawan Berkacamata dan Hari Kartini di Wyata Guna.

Kini, kamu juga bisa menyesapi ceritanya, sama seperti setahun lalu ia pernah menceritakannya pada saya.

***

Entah kesengajaan yang diciptakan atau momentum yang tepat datang secara tiba-tiba. Doa itu akhirnya terjawab, pada suatu sore yang sendu.

Januari 2016, telepon dalam saku celana Jeans bergetar. Aku hiraukan begitu saja, namun tak lama getaran itu semakin panjang. Nomor yang tak dikenal muncul dalam layar kaca.

“Ini dengan Asep?”

“Iya,”

“Kamu diterima di Rakyat Merdeka Online. Besok pukul 9 pagi datang ke kantor,”

“Siap pak,” balasku.

Seperti mimpi, ia datang tanpa diduga. Cita-cita yang sebetulnya tak pernah terpikir untuk bisa menekuni secara serius bidang tulis-menulis.

Keinginan untuk jadi seorang pewarta sebetulnya sudah ada sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Kebiasaan menulis catatan harian, perjalanan, hingga curhatan-curhatan yang tidak penting membuatku terpikir enaknya menyalurkan hobi yang dibayar.

Masuk ke dunia perkuliahan, membuat keinginan itu semakin membesar, layaknya magma terhadap bumi. Ia menghangatkan tanah, menyuburkan kehidupan. Ditambah kebiasaan membaca buku mengenai perjalanan seseorang membuat diri ini ingin sekali bekerja sebagai wartawn

Pamanku, Edi, telah mencuri start jauh-jauh hari. Pada tahun 2015,ia telah berkecimpung di dunia jurnalistik sebagai pembantu reporter dari National Geographic.

Ketika ia pulang ke rumah dan aku selalu menyempatkan untuk bertemu, Ia selalu bercerita mengenai suka dan duka ketika mendapat tugas membantu liputan. Jarak antara hidup dan mati hanyalah sehelai daun, ia mudah rapuh dan rontok.

Hal itu tak membuatku mundur, justru api gelora semakin berkobar. Tapi pengalaman lain harus aku jalani terlebih dahulu menjadi seorang pengajar di SMA. Hampir setengah tahun, temanku di kampus kemudian mengajak untuk bersama-sama membangun sebuah perusahaan pers.

Tak perlu pikir panjang akupun mengiyakan ajakanya, meski pada akhirnya kekecewaan dan kepercayaan yang menemani setiap langkah kaki.

Aku kemudian memasukan lamaran keberbagai perusahaan pers, hingga seperti cerita di awal, diterima menjadi pewarta di RMOL Jabar merangkap pengisi konten di Jawapos dan JPNN.

Apa yang dikatakan Edi hanyalah bualan semata. Aku tidak menemukan apa yang sesungguhnya aku cari. Hanya berbagai kepentingan politis dan uang hadir mengisi keseharian.

Para Laskar FPI memantau sidang Rizieq Shihab di Pengadilan Negeri Bandung. (dijepret oleh wartawan Antara)

Desember 2016, aku ditawari untuk bergabung di tiga perusahaan besar sekaligus. Kembali lagi, apakah nasib baik sedang berpihak, atau rapalan setiap doa yang akhirnya dikabulkan.

Kantor Berita Antara, Kompas.com, dan Metrotv.com mengajak untuk bergabung, dan kamu tahu bahwa itu sungguh pilihan yang sulit. Berbagai masukan dan curhatan aku kumpulkan dan dengan perjudian, seluruh lamaran aku kirimkan ketiga perusahaan media tersebut.

Lama tak ada jawaban, pada akhir 2016 telepon seluler kembali berdering. “Sep bisa ketemu di cafe?”

Permintaan itu datang dari Teh Putri, seorang marketing, administrasi, sekaligus (bisa saya katakan) wakil Kabiro Antara Jawa Barat. Saya, Asep radar Bandung, dan Teh Putri berbincang. Ini mungkin tes wawancara pertama.

Dua hari kemudian saya dipanggil lagi untuk bertemu Pak Sapto -yang saat itu menjabat sebagai Kabiro Jabar- dan ditanya motivasiku bekerja di dunia jurnalistik.

Aku ingat waktu datang ke Kantor Antara Jabar pada hari Jumat sekitar pukul 15.00 WIB. Perbincangan berjalan hangat hingga pukul 16.00 WIB.

Aku pun memutuskan untuk kembali ke Gedung Sate yang seolah menjadi rumah kedua bagiku waktu itu. Belum juga duduk di pelataran Presroom Gedung Sate, Teh Putri kemudian menghubungiku bahwa aku diterima di Antara.

Rasa haru, bangga, dan tidak percaya bahwa ternyata aku bisa melanjutkan segala keingintahuanku akan dunia melalui Jurnalistik. Meski beban yang ku pikul tentu lebih berat dari perusahaan mediaku dulu.

Banyak hal yang sungguh aku dapatkan dari dunia jurnalistik, meski konsekuensi seperti tak punya waktu senggang, selalu dikejar deadline, tak bisa bertemu kawan lama hingga keluarga.

Pernah suatu hari, kawan kampusku asal Karawang, Rizki, menyampaikan melalui pesan singkat bahwa dia tidak rela dengan jalan yang aku ambil. Tak ada waktu libur, pertemanan menjadi merenggang, dan kesehatan yang harus benar-benar dijaga.

Namun aku katakan waktu itu, “Harus ada yang mengambil peran ini. Kita harus bisa berbagi peran. Siapa yang akan menjaga kelancaran arus lalu lintas ketika pada hari lebaran seluruh polisi, libur. Bayangkan saat musim mudik tak ada rumah sakit yang buka? Dan bayangkan apabila tidak ada wartawan yang memberitahu bagaimana kondisi dunia hari ini?”

Aku kira kita memang harus berbagi peran, harus ada yang tidak pulang untuk memastikan yang libur bisa menikmati hidupnya, bersama keluarga.

Dan kini di Antara, pengalaman serta pembelajaran yang didapatkan begitu luar biasa. Bukan hanya sebatas pekerjaan tapi melebihi profesi. Aku tak perlu kuliah untuk bisa bersimpati pada penyandang disabilitas, Aku tak perlu kuliah di jurusan ekonomi untuk tahu bagaimana inflasi terjadi. Dan jauh dari itu, lewat Jurnalistik aku bisa mengisi ruang yang kosong dalam pencarian kehidupan.

Foto jepretan wartawan Antara yang dikirim melaui surel untuk saya.

Manusia sejatinya memiliki jiwa yang berlubang. Lubang dalam jiwa itu menuntut untuk terus diisi, entah dengan pekerjaan yang menyenangkan, memiliki uang, teman, keluarga yang harmonis, keintiman bersama Tuhan, maupun cinta.

Bagi saya, lubang dalam jiwa itu adalah sumber dari segala hasrat manusia. Keinginan dan dorongan hidup manusia berakar pada upaya bagaimana cara untuk mengisi lubang dalam jiwanya.

Menurutku, justru lubang-lubang inilah yang membuat manusia untuk terus hidup memperjuangkan apa yang harus ia lakukan. dalam titik ini aku menyebutnya cinta.

Kini telah semakin berjalan jauh. Hal yang tak pernah terpikirkan yakni menjadi salah satu bagian yang dikontrak mengabdi pada negara. sebuah jalan lapang yang harus dilalui setiap incinya.

Semakin membuka mata akan dunia yang fana, semakin besar ketidaktahuan, dan semakin kerdil aku dihadapan-Nya.

Melebihi dari cita-citaku awal, suatu hari aku ingin menjadi seseorang yang berguna, bermanfaat dan mengubah hajat hidup orang banyak. Tanpa ada seorangpun yang mengingatku, selain anak dan cucuku kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *