Wartawan Berkacamata dan Hari Kartini di Wyata Guna

Wartawan Berkacamata dan Hari Kartini di Wyata Guna

Saat itu redaktur menyuruh saya untuk mencari informasi soal keberlangsungan Ujian Nasional siswa SLBN – A Cicendo pada tahun 2018. Suasana keredaksian masih begitu hangat, penuh hasrat, dan keinginan besar untuk menulis yang sesuai dengan hati. Selain rekdatur saya waktu itu adalah seorang perempuan yang begitu unik, mengayomi, dan menuntun dalam dunia jurnalistik di era digital, saya pun masih benih yang ingin tumbuh-tumbuhnya.

Saya bergegas menuju SLBN-A Cicendo yang terletak di Jalan Pajajaran, Kompleks PSBN Wyata Guna. Seketika saya menghubungi Humas PSBN Wyata Guna, Pak Suhendar supaya saya bisa diarahkan untuk melihat proses UN. Sayangnya, saya terlambat. Hari itu adalah hari terakhir ujian, dan anak-anak sudah pulang sejak pukul 10.00 WIB.

“Duh gimana ya, kasihan, mau berita apa ya?” ujar Suhendar.

Suhendar menyarankan saya untuk meliput aktivitas anak-anak PSBN Wyata Guna dalam merayakan Hari Kartini. Pagi tadi, mereka sudah ramai berkompetisi modeling dengan kostum dan make up terbaik. Nanti siang, usai zuhur, mereka akan lomba memasak.

“Oke siap Pak, saya habis zuhur ke sana ya,” jawab saya.

Setelah salat zuhur, saya kembali lagi ke Wyata Guna. Saat menuju aula, tiga meja telah berjejer rapi dengan kompor di atasnya. Para peserta memasuki ruang aula diikuti oleh para guru yang berperan sebagai juri. Beberapa peserta pun masih ada yang mengenakan kostum lomba modeling. Wajahnya pun masih berdempul bedak yang warnanya hampir tak senada dengan lehernya. Gincu merah menutupi seluruh bibirnya, meski sudah ada yang tidak tertutupi sebagian akibat habis makan siang.

Tiga siswa tunanetra PSBN Wyata Guna tengah memasak goreng tahu.

Saya melihat mereka antusias dalam mengikuti lomba ini. Juri memberikan produk tahu sebagai penganan utama yang mesti diolah. Dari 6 kelompok, mereka bergiliran menggunakan kompor. Sehingga terdapat dua sesi memasak yang membuat mereka harus bersegera mengiringi waktu yang tersedia.

PSBN Wyata Guna mewadahi para tunanetra yang hendak mengasah kemampuan sebagai bekal, misalnya pijat. Jadi, mereka adalah tunanetra yang sebagian masih bisa melihat meskipun tinggal beberapa persen lagi penglihatan. Adapun yang buta total. Sehingga, mereka memasak dengan keadaan mata yang tidak sempurna. Namun, kemampuan dasar memasak adalah hal yang wajib dipelajari di sana. Sehingga memasak adalah pelajaran yang biasa.

Selama kompetisi berlangsung, saya bercampur baur dengan para guru dan para peserta. Saya bertanya soal masakan apa yang mereka buat, menggunakan bumbu apa, hingga beli di mana. Di sana saya meyakini bahwa saya hanya wartawan seorang diri. Oleh sebab itu, kebebasan itu benar adanya. Saya bisa melihat dan tidak kikuk dengan keadaan tersebut. Wajar, wartawan baru kalau ada wartawan lainnya seringkali saya lebih baik agak mundur. Melihat situasi dan kondisi saja.

Para guru menilai rasa dari sajian makanan di kompetisi memasak.

Salah satu peserta ada yang bertugas menjadi MC. Dia memegang mikrofon sembari memandu acara. Tak lupa, ia sebutkan bahwa acara itu sedang diliput oleh saya, wartawan ayobandung, dan satu media lagi.

“Ya terima kasih karena acara ini didatangi oleh media dari ayobandung dan…. Antara,” ucap sang MC.

Sontak senyum saya berubah menjadi bingung. Siapa dia? Kok tidak ada orangnya. Terus, wow. Antara, kantor berita negara. Baru dengar ada di sini.

Seorang lelaki memakai kaca mata dan jaket biru sembari memanggul tas punggung datang menuju aula sembari membawa kamera. Saya tidak pernah melihatnya sebelumnya. Lalu saya tidak peduli dan kembali bercengkrama dengan para peserta.

Usai kompetisi, hujan turun sangat lebat. Akhirnya saya duduk bersama para guru di aula sembari menunggu reda. Pun lelaki yang saya tidak tahu namanya, tengah berbincang di luar bersama Pak Suhendar.

Hujan itu cukup lama turunnya. Sempat saya menengok ke luar, kemudian hujan masih turun deras. Sang wartawan dan Pak Suhendar masih saja duduk di teras aula. Entah apa yang dibicarakan. Sesekali lelaki itu membantu Pak Suhendar mengangkat telepon dari gawainya.

Ketika saya duduk di belakang dinding aula, lelaki itu menghampiri. Kaget, karena ia bertanya soal besok hendak liputan ke mana. Ia menawarkan agenda di sebuah rumah sakit di hari Sabtu. Setelah itu, terjadilah tukar menukar kontak whatsapp disertai namanya.

Seorang peserta tengah memasak.

Bulan April 2018 merupakan bulan ketiga saya menjadi seorang wartawan di lapangan. Saya belum tahu siapa saja wartawan, pun teman dekat yang bisa diajak bertanya. Wartawan Antara itulah orang pertama yang membantu kala saya kehilangan pernyataan untuk liputan Karnaval Asia Afrika, membantu menemukan dokter yang disuruh oleh redaktur (karena diajak ke rumah sakit untuk liputan), juga memberitahu soal seluk beluk kehidupan wartawannya yang mungkin tiga sampai empat tahun lebih awal.

Saya masih ingat, bincang panjang pertama di kedai kopi yang punya es kopi susu terburuk di Jalan Asia Afrika. Ia menjelaskan banyak hal soal liputannya di media sebelum Antara. Juga hal-hal yang saya agak belum paham dengan dunia ini karena baru saja belajar berenang di samuderanya. Namun, sampai saat ini, hubungan pertemanan kita sangat sangat baik. Kami saling mempercayai satu sama lain, membantu saat susah di kala liputan, saling traktir kalau ada kopi baru, juga rahasia dari bermacam-macam manusia yang sama-sama berada di lapangan.

Ya, bukan perempuan, karena kebanyakan saya sendiri liputan ke lapangan di 6 bulan pertama bekerja. Sahabat perempuan datang menjadi dekat setelah bulan ketujuh, kedelapan. Biasanya, wartawan perempuan kebanyakan berada di desk gaya hidup. Sisanya, mungkin di Gedung Sate. Bicara Balai Kota, ada perempuan. Tetapi kebanyakan ibu-ibu yang sudah mempunyai buntut di rumahnya. Jangan tanya soal Pengadilan Negeri, Polres, atau Polda Jabar, mereka kering dengan seorang pewarta wanita.

“Mau enggak cerita soal dunia kamu jadi wartawan?” pinta saya.

“Boleh, kapan deadline?” ujarnya.

“Akhir Maret,”.

Kemudian, pada tanggal 24 Maret 2019, ia menuliskannya untuk saya.

One thought on “Wartawan Berkacamata dan Hari Kartini di Wyata Guna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *