Teka-Teki Seorang Pewarta

Teka-Teki Seorang Pewarta

Masih ingat saat pertama kali disuruh untuk liputan ke Gedung Sate pada 2018 lalu. Itu merupakan kali pertama meliput acara Pemerintah Provinsi Jawa Barat tentang pemberian penghargaan kepada orang-orang berprestasi. Mulai dari guru, siswa, hingga masyarakat. Salah satu masyarakat berprestasinya adalah fotografer di tempat saya bekerja. Alhasil, saya mesti ke sana.

Tidak banyak yang datang ke acara itu. Selain sudah sore, acaranya sekadar pemberian penghargaan. Gubernur pada waktu itu juga merupakan Pelaksana Tugas (Plt) Iriawan, ketika Ahmad Heryawan atau Aher turun dan kekuasaan sedang di masa kekosongan.

Setelah pemberian plakat, puluhan peserta keluar Gedung Sate untuk berfoto di halaman depan. Kemudian, para wartawan mendekati Iriawan untuk sesi wawancara. Saya melihat para wartawan yang tengah door-stop, tidak ada yang dikenal, kecuali wartawan radio senior yang pernah bertemu di Terminal Leuwipanjang pada H-1 Lebaran 2018.

Wartawan radio senior itu pun memperkenalkan saya dengan Humas Pemprov, sekadar basa-basi, lalu bergegas menyantap hidangan yang tersusun rapi. Saat itu, di pikiran saya hanya ingin mewawancara beberapa peserta berprestasi untuk dibuat profil agar kuota tulisan harian saya terpenuhi. Selepas itu, saya pulang.

Beberapa hari kemudian, mungkin satu minggu setelahnya, nama seseorang menggelegar di telinga. (lebay Fathia). Maksudnya, nama wartawan lelaki itu sering disebut di hadapan saya oleh orang-orang. Entah itu siapa, saya tidak mengenalnya.

“Fat, ada salam dari A, B, C,” ujar salah satu teman, sebut saja Mawar.

Mawar berkata bahwa ada orang bernama, sebut saja Odoy, memberi salam pada saya. Sesaat dalam ingatan, “Siapa Odoy?”

Saya belum pernah mendengar namanya, apalagi melihatnya. Namun, Mawar berkata bahwa ia melihat saya saat liputan di Gedung Sate. Kemudian saya mencoba mengingat kembali siapa saja yang doorstop kala itu. Saya mengingat seseorang, apakah dia? Tapi wajahnya hanya sekelebat, tidak saya ingat.

Bukan hanya Mawar, beberapa wartawan lain pun menyebut hal yang sama. Mengapa hampir setiap teman-teman liputan yang lewat berkata seperti itu. Siapakah Odoy, dan yang mana dia?

Seiring waktu berjalan, Odoy pun aku bisa ketahui. Baik dari instagram, maupun bertemu di liputan yang sama. Itu pun mungkin dua kali, dan tidak ada tegur sapa. Selain belum pernah berkenalan secara langsung, dia pun hanya tertunduk diam.

“Dia teh suka liat instagram kamu, takut mau follow apa engga,”
“Dia minta nomor kamu,”.

Suatu hari dia sempat memberi pesan di Whatsapp perihal ajakan meliput sebuah agenda di hari Minggu. Namun, ajakan itu saya tolak karena Minggu adalah waktu libur saya. Setelah itu, tidak ada percakapan lain.

Di awal tahun 2019, mungkin sekitar bulan Maret, dia muncul di sebuah desk liputan yang sama. Kaget, ya. Namun, saya memberanikan diri untuk bertegur sapa walau sekadar hai.

Ia duduk di tangga halaman teras di depan ruang media, tepat di bawah jendela ruangan Wakil Wali Kota Bandung. Seperti biasa, menunggu narasumber datang sembari bertegur sapa dengan wartawan lainnya. Sampai dengan minggu kedua, kami hanya sekadar menyapa. Namun, karena kami berada di desk yang sama, tidak jarang saya mengirim pesan untuk sekadar meminta bantuan dalam pekerjaan ini.

Entah bagaimana, Odoy menjadi salah satu teman yang menjadi dekat dalam beberapa waktu terakhir. Bersama seorang pewarta perempuan yang sudah mengenal namanya sejak lama namun baru didekatkan pun di bulan Maret. Kami bertiga pun pernah berada dalam liputan yang sama dan berakhir di kedai kopi daerah Cidadap. Sejak saat itu, kami pun kembali mengagendakan ngobrol bersama usai bekerja. Mulai dari Norrdic, Skola, Makmur Jaya, hingga Imah Babaturan.

Ngopi dari siang hingga magrib, magrib hingga pukul 22,00, bahkan pernah hingga larut malam. Kami bertiga menukar cerita masing-masing. Katanya, seperti kenal sudah lama. Padahal kami baru saja dekat dalam hitungan hari.

Sekarang, Odoy dan teman perempuan saya menjadi cerita yang selalu dirindukan. Meskipun hanya saya yang pamit dari profesi ini, setidaknya saya selalu menghubungi mereka untuk sekadar berbincang di sore hari (walau mereka masih banyak tulisan yang harus diselesaikan). Kemudian, sebelum benar-benar resmi melepas atribut kewartawanan ini, saya pun meminta keduanya untuk menuliskan tentang perjalanan sebagai pewarta. Odoy mengiyakan.

“Aku sempat kaget pas tau ada yang kirim pesan minta sesuatu, lantaran sebelumnya aku kira yang diminta itu barang atau jasa. Eh taunya diminta tulisan, ya tentunya aku kaget, walaupun gak terheran-heran kaya si Abang yang makan daging anjing dengan sayur kol itu,” tulisnya dalam halaman pertama HVS yang ia kirimkan dalam bundelan surat beramplop coklat ke rumah.


“Mana tulisan?” tanya saya dalam pesan Whatsapp.

“Lah, belum sampe yaa?” jawabnya.

“Belum ih, ke email mana gitu?”

“Dikira udah sampe, wait aja dulu,”

“Lah kemana, ke email gak?”

“Bentar dicek dulu, aku lupa lagi, ke email atau ke mana ya” katanya.

Esoknya, ia pun bertanya, “Udah ada qim?”

Aku menjawab sudah.

***

Selepas dari luar, aku melihat meja di kamar terdapat sebuah amplop coklat bak ingin melamar kerja. Tidak ada bungkusan plastik seperti JNE. Dia utuh bertali yang mengaitkannya pada dua kancing. Kemudian, tertera nama saya dan alamat rumah di atas kiri.

“Apa ini?” ucap saya dalam hati.

Saat dibuka, terdapat banyak kertas HVS bertulis dari mesin tik dengan judul “Kesaksian Seorang Pewarta”. Terkejut, dan saya melihat belakang amplop yang tertera nama lengkapnya. Saya menghela napas lalu tersenyum. Saya tidak akan mengabarkannya kecuali dalam unggahan blog ini.

Dalam 7 lembar HVS itu, Odoy menceritakan perihal awal mula ia bisa terjun di dunia jurnalistik, suka duka menyelami profesi ini dengan beberapa media yang berbeda, serta cerita saat ini. Ia kemas dengan apik meskipun beberapa ia tak sebut dengan konkrit. Mulai dari mengikuti wartawan lain, diacuhkan oleh narasumber, sakit akibat bekerja, hingga berakhir di media kecil yang tengah ia lakoni.

Di kalimat akhir, ia menuliskan harapan serta doa pada saya untuk rencana dan cita-citanya.

“Tulisan ini didedikasikan untuk perempuan bermata bulat yang sejak mula jumpa, aku langsung terpikat. Dan do’aku untukmu yang akan kembali mengenyam pendidikan. Jadilah pembelajar yang tak lelah belajar. Bersyukurlah atas nikmat dan kenikmatan hidup yang telah diberi karena banyak diri-diri lain di luar dirimu tak mampu merasakan hal serupa. Terima kasih telah memintaku menulis tentang pengalaman-pengalaman yang terkadang terlupakan. Terima kasih telah bersedia dekat dan berdekatan. Semoga kita memiliki kedekatan.”

Kolong Langit, 10 April 2019

Iman Mulyono

2 thoughts on “Teka-Teki Seorang Pewarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *