Ada Rindu di Stasiun MRT Jakarta

Ada Rindu di Stasiun MRT Jakarta

Setelah bertahun-tahun melewati ibukota, baru kali ini saya bisa berjalan kaki dengan bebas di trotoar besar sekitaran Bundaran HI. Pasalnya, sedari kecil, saya tumbuh dalam keluarga yang punya nenek jauh dari Kota Bandung. Nenek yang tinggal di Lebak, Banten kerap kami kunjungi di hari libur sekolah dan lebaran. Oleh sebab itu, rute menuju Lebak selain lewat Bogor, seringkali melewati DKI Jakarta.

Ibukota adalah jalan utama menuju Lebak. Alhasil, gedung-gedung pencakar langit, Monas yang terlihat dari jalan raya memutar, serta mal-mal megah adalah impian sejak dulu untuk dijamah. Entah kenapa, saya lebih suka suasana kota dengan hiruk pikuknya ketimbang melancong ke gunung dan pantai.

Saya sangat senang dengan berbagai macam gedung, wisata kota, berjalan kaki, menaiki transportasi umum, dan duduk di warung atau kedai untuk menyantap kuliner khas kota tersebut. Saya punya semangat lebih untuk itu. Pun dengan Jakarta, yang tetap menjadi daftar panjang kota harus dijajaki.

Lengangnya MRT di Jakarta menuju Lebak Bulus pada waktu 19.00-an di hari libur panjang.

MRT Membuat Heboh

Suatu hari, MRT Jakarta heboh di linimasa. Teman-teman saya mengunggah banyak foto dan insta-story terkait MRT. Juga teman-teman wartawan yang meliput pembukaan MRT Jakarta yang sedemikian indahnya serta menjadi wahana baru bagi penduduk lokal.

MRT Jakarta juga jadi magnet untuk saya supaya segera hengkang sejenak dari Kota Kembang. Setelah menyusun rencana sejak sebulan sebelum keberangkatan (juga rencana menabung dengan judul jalan-jalan ke ibukota), akhirnya rencana ini terwujud juga.

Stasiun MRT Bundaran HI yang terletak di depan Pullman Hotel.

Selama dua hari, saya melancong di ibukota. Daftar panjang dalam otak terkait makanan yang harus saya makan, tempat yang harus dikunjungi, serta seluruh transportasi di Jakarta yang harus saya tunggangi sudah dihafal lekat-lekat. Saya akui, dalam rangka mengikuti kehebohan linimasa, maka MRT di Jakarta menjadi satu hal yang harus saya nikmati.

MRT, sebuah gerbong kereta yang lumayan cepat dan terletak di bawah tanah ini menjadi terobosan anyar di Indonesia. Meskipun kalah lama dari negeri tetangga, tak apa, yang penting transportasi ini bisa memudahkan banyak orang.

Sejujurnya, MRT pertama saya adalah saat pergi ke Singapura pada September 2017 silam. Sebuah transportasi impian yang saya harap ada di negeri sendiri pun ternyata berhasil jua. Meski berharap ada juga di Bandung untuk menyambungkan rute Kopo-Cibiru.

MRT di Jakarta membuat memori saya kembali berputar saat di Singapura. Interior dan tata letak bangunan di bawahnya yang hampir mirip dengan MRT di negeri singa membuat saya seperti di kota lain. Saya masih ingat, font tulisan yang digunakan sebagai penunjuk arah stasiun hampir sama dengan MRT di Singapura. Saya bisa katakan, MRT di Singapura dan Jakarta hampir mirip soal tata ruang dan desain. Mungkin bisa dikatakan sepenuhnya mirip. Pun seperti di Kuala Lumpur, Malaysia.

Seorang bapak menunggu kereta MRT datang.

Saya masih ingat pertama kali kebingungan cara keluar dari Bandara Changi, Singapura. Kemudian akhirnya bisa turun ke area lebih bawah dari bandara dan bertemu loket MRT. Di sana saya segera mencari tahu bagaimana penggunaan MRT di Singapura. Mulai dari membeli kartu EZ-Link seharga $12 (harga 2017), kemudian tap pertama untuk membuka jalan menuju pintu MRT, serta belajar membaca rute yang cukup awam sebagai orang Bandung.

MRT di Singapura adalah pelajaran pertama saya bisa membaca peta transportasi lainnya. Baik peta bis kota di Singapura atau LRT di Malaysia. Sekarang, saya pun bisa lebih mudah membaca rute di Jakarta.

MRT Jakarta membawa rindu pada pertama kali saya bisa melangkah dan bersesakan dengan para pekerja di Singapura. Saya rasakan embusan angin di antara celah gerbong. Menahan kaki sepanjang perjalanan dengan tangan yang berpegangan pada tuas. Lalu belajar sabar dan mengantre saat ada yang hendak keluar dari gerbong, atau segera keluar supaya pintu gerbong tidak segera tutup.

Saya masih ingat bagaimana para warga melangkah dengan cepat di lorong-lorong stasiun yang terkoneksi dengan beberapa gedung. Baik perkantoran, mal, atau trotoar utama di tengah kota. Semua ditata dengan apik dan bersih.

Tak kalah, MRT Jakarta juga berdesain elegan, berwarna abu-abu dan putih, dan beroperasi sampai sekitar pukul 22.00 WIB. Di setiap pintu masuk dan keluar stasiun yang mengarah ke trotoar, terdapat satpam yang menjaga dengan baik. MRT Jakarta baru saja hadir satu rute, yakni Bundaran HI – Lebak Bulus. Mereka menyambungkan beberapa daerah yang saya tidak hapalkan. Saya hanya ingat beberapa pemberhentian seperti GBK dan Istora. Saya turun di Istora dari Bundaran HI yang dihitung kira-kira hanya 10 menit saja.

Saya menaiki gerbong kereta MRT di waktu usai Magrib. Hari itu memang libur panjang, sehingga Jakarta dikatakan sepi, pemirsa! Begitu pun MRT yang lengang membuat saya bisa duduk leluasa.

Kursinya berwarna biru muda disertai gagang tangan di atas kepala berwarna abu-abu. Semua nampak rapi dan bersih. Para petugas di dalam MRT pun tidak terlihat, mungkin ada di gerbong sebelah, atau memang tidak ada? WKWKWK

Sepanjang perjalanan, saya mendengarkan suara mbak-mbak MRT yang menunjukkan di mana rute saat ini dan akan ke mana selanjutnya.

Cara Naik MRT di Jakarta

Percayalah, sangat mudah untuk naik MRT di Jakarta. Supaya lebih mudah lagi, apalagi bagi yang ingin tawaf transportasi cem saya, belilah kartu sakti bernama E-Money dari Mandiri misalnya, atau tap cash, Flazz, dan lain-lain yang biasa digunakan untuk busway atau KRL. Niscaya, hanya dengan satu kartu, anda bisa menggunakannya di sini.

Dengar-dengar, jika kamu tidak punya kartu sakti tersebut, bisa membeli tiket sekali jalan atau pulang pergi misalnya, di loket sebelum masuk ke arena MRT di bawah. Nanti kamu tinggal beli aja sih, seperti halnya kamu beli kartu sekali jalan menggunakan KRL. Tapi, karena aku tidak ingin ribet, pinjam saja kartu teman, atau kartu yang biasa digunakan buat masuk Tol juga kan bisa. Lebih aman, pokoknya kartu keluaran bank seperti BNI, Mandiri, BCA, gitu.

Setelah itu, tap kartumu maka palang kecil akan terbuka. Lalu, tunggu kereta datang dan tunggu orang yang mau keluar dulu ya. Baru langkahkan kaki anda untuk masuk ke MRT. Duduk dengan baik dan sopan. Kalau MRT sedang penuh, prioritaskan kepada ibu hamil, lansia, disabilitas, dan ibu menggendong anak, ya.

Turunlah di stasiun yang kamu inginkan. Setelah menuju pintu Exit, tap kembali kartu, dan Ta-Daaaa kamu sudah sampai di tujuan!

Selama bulan April 2019, tarif MRT diskon 50%. Kalau bulan Mei, kayaknya udah harga normal. Katanya, tarif MRT ini bisa mencapai Rp 14,000. Entah sekali jalan atau rute terpanjang kali ya. Kalau salah, boleh dikomen di bawah ya hehehe. Barangkali ada yang punya info lebih lengkap.

Selamat Menjelajah Lebih Jauh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *