Teman Baik itu Datang

Teman Baik itu Datang

Unggahan kali ini datang dari hatiku sendiri. Apa? Haha. Sekarang kita bahas Journo Story, alias kisah-kisah di balik satu tahun bekerja di media lokal yang sangat membekas di hati. Jujur, menjadi seorang wartawan adalah kisah manis tiada tara. Banyak suka duka yang tidak bisa orang lain dapatkan. Pekerjaan ini tidak bisa dibeli. Setiap harinya penuh kisah berbeda dan menebalkan lapis muka.

Saat-saat akhir menuju penghabisan waktu di masa kerja sebagai wartawan sebuah media lokal, aku bertemu dengan seorang teman yang namanya tidak asing sejak awal mula bekerja. Namun, perbedaan tempat liputan menjadi jarak sehingga aku baru dekat dengannya dalam hitungan jari saja.

Dalam satu waktu meliput gelaran Hackathon 2019 di kawasan Dago. Saat saya tengah mengantre untuk registrasi media, seorang peremouan berkerudung hitam dengan rok panjangnya menyapa dari belakang.

“Fathia, ini Fathia ya?” katanya.

“Iya, hehe Dini ya, halo,” jawab saya sembari tersenyum tipis.

Katanya, saat itu saya tidak seramah apa yang diceritakan teman perempuan wartawan lain. Lantas, ia mengurung niat untuk mendekati saya.

Kali kedua berada di acara UNPAD. Menteri Susi datang menjadi moderator sebuah acara besar. Saat itu, banyak wartawan yang datang, juga teman baik itu. Saya yang merasa sudah mengenalnya, menyapa dari kejauhan. Katanya, dia merasa aneh dengan saya yang “sok ramah”. WKWKWK

Pada akhirnya kami dipertemukan di sebuah acara peluncuran GO-Food Festival Bandara Husein Sastranegara. Karena di sana tidak menemukan teman sebaya, akhirnya saya bertemu dengan teman baik itu.

Peluncuran Go Food Festival di Bandara Husein Sastranegara.

“Eh, !”

Tak lama, kami bersama untuk mencari narasumber dan berbagai hal sembari mengelilingi stan kuliner. Setelah selesai, kami pun hendak pulang. Kemudian, hari itu saya disuruh meliput sebuah preskon di daerah tepat sejalan di kawasan Cikutra. Sembari menunggu, saya memutuskan untuk menunggu di indekos teman baik tersebut. Dari sana, saya mulai dekat dan asumsi kejutekan saya olehnya terpatahkan.

Liputan kedua yang menambah kedekatan kami saat berada di LIPI. Usai liputan, saya, teman baik, dan salah seorang wartawan lelaki memutuskan untuk bersantai di tempat ngopi. Dari sana, kami semakin erat dalam bercakap dan merasakan kenyamanan satu sama lain. Percakapan ini tak ubahnya seperti teman lama, padahal, kami hanya saling mengenal kurang dari satu minggu saja.

Semakin hari, pertemanan kami semakin baik. Lebih sering memberi kabar dan pesan, juga membantu dalam peliputan. Pernah saat saya harus meliput Isra Miraj di Masjid Raya, mereka menemani di Jalan Dalem Kaum menunggu saya selesai. Usai itu, kami masih bercengkerama di dalam transkrip dan berita.

Teman baik itu datang saat di akhir perjalanan menjadi wartawan. Mengemas luka menjadi suka, membawa duka jadi bahagia. Memberikan secarik kisah yang memperjelas garis sejarah. Sampai suatu hari teman baik itu pula yang khawatir. Sepertinya, baru kali ini punya teman baik yang terlalu khawatir pada temannya.

“Beb, bls wa. Aku jd hariwang kalauorang g bisa dikontak teh. Mana dua duana ceklis satu,” ujarnya dalam pesan Instagram.

“Hallo mimin postcard, tolong wa saya di sebelah jawab”

“Hahaha aku khawatir kirain lagi galau wkwkw”

“Hayu mau kapan makan jengkol Senin/Minggu”

Sesuatu yang aneh di pagi hari, dia mengajak makan jengkol yang sempat tertunda. Katanya, dikira aku galau.

Sebuah kalimat yang sering ia dengungkan, “Apapun asal kamu bahagia”.

Atau seperti percakapan bahwa ia rela menukar waktu kerjanya supaya bisa bertemu di warung favorit Jalan Kebon Bibit.

Dalam hati, saya sangat terharu. Setelah sekian lama, ternyata ada orang yang setulus itu datang menjadi teman baik. Belum sempat setahun bisa terus bersama di lapangan yang sama, namun darinya saya melihat banyak sikap yang mesti dipelajari.

Dari teman baik, aku belajar, bahwa hidup yang dijalaninya adalah takdirnya, sesuai porsinya, dan semampu dan semaksimal yang dilalui. Karena Tuhan sudah memberi jatah setiap manusia, tinggal dijemput tanpa khawatir.

Teman Baik itu datang di saat yang tepat dan tidak disangka-sangka. Dia yang berkelana lebih luas dan jauh soal pekerjaan ini menjadi satu cerita yang tidak akan habisnya.

Dini.

2 thoughts on “Teman Baik itu Datang

Leave a Reply to fathiauqim Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *