Toko Kopi Tuku : Oase di Tengah Padang Pasir

Toko Kopi Tuku : Oase di Tengah Padang Pasir

Mungkin cukup berlebihan membaca judul di atas. Tapi, siapa yang enggak tahu dengan Toko Kopi Tuku fenomenal di area Jabodetabek? Rasanya, ia pantas disebut oase yang memang meluluhlantahkan dahaga di tengah panas dan keringnya Jakarta atau BSD.

Kalau sudah lama mengikuti saya di Instagram @fathiauqim, saya sering membagikan pengalaman menyeruput kopi di berbagai kedai Kota Bandung. Bisa dibilang, kedai kopi di Bandung sudah sangat menjamur. Layaknya Indomaret dan Alfamart: setiap tikungan ada!

Teman saya pernah mengatakan, kalau ke Jakarta, coba mampir ke Tuku. Es kopi susunya enak pisan! Oke, saatnya saya daftarkan dalam rencana panjang jika bertandang ke ibukota. Begitu pun sahabat saya yang tinggal di Tangerang, Toko Kopi Tuku -lah yang mampu membuat ia senang dengan rasanya yang creamy dan rich. Itu rasa jenis apa Fat? Entah, kamu bisa mengalaminya saat meneguk Toko Kopi Tuku di tegukan pertama.

Toko Kopi Tuku di BSD

Toko Kopi Tuku BSD

Pertama kali membeli segelas es kopi tuku yang dibanderol Rp 18,000 ini cukup membuat tenggorokan saya terobati. Hal ini dalam rangka setelah hampir 3 hari tidak menemukan kopi yang pas di lidah saat di Lebak, Banten. Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan sahabat saya bernama Fathan. Hanya melalui media sosial, ia mengajak saya untuk segera ke BSD atau Jakarta supaya dapat mencoba Es Kopi Tuku bersamanya. Setelah melalui percakapan cukup alot, karena Fathan sempat membuyarkan rencana saya, kami putuskan pada tanggal 17 April 2019, Fathan akan menjemput saya di Stasiun KRL Rawabuntu.

Saya menaiki KRL dari Rangkasbitung lalu turun di Rawabuntu. Perjalanan tersebut hanya sekitar 1,5 jam. Alhamdulillah, saya selalu duduk di gerbong perempuan dengan nyaman dan tenang hingga tujuan.

Setelah sampai, saya pun dijemput menggunakan mobil oleh Fathan dan kakaknya, Teh Nesya, untuk pergi ke BSD. Sesampainya di kawasan jajanan BSD, Toko Kopi Tuku nampak menarik perhatian. Interior minimalis yang berpadu dengan warna abu-abu dan putih menjadi corak merek Tuku yang sesungguhnya. Tak lupa, terdapat dedaunan hijau merambat di dinding, disertai gaya kedai metropolitan. Soal harga, es kopi tuku masih dapat dikatakan wajar.

Tadinya, saya ingin mencoba Mocca Peppermint. Sayang, Tuku BSD belum siap untuk membuatnya. Pasalnya, selain es kopi susu, saya juga sangat tertarik untuk mencoba mocca dari berbagai kedai untuk membandingkan rasa demi rasa. Tapi, karena enggak ada, saya jatuhkan pilihan pada es kopi tuku saja.

Es Kopi Tuku pertama!

Tak lama, es kopi kami datang seiring pelanggan yang mulai berdatangan. Di tengah panasnya BSD, kedai yang berlantaikan dua ini justru memberikan cukup kesejukan karena ruangannya ber-AC. Untuk yang ingin merokok, kedai ini punya halaman balkon yang cukup luas dengan pemandangan dari atas.

Di barnya terdapat aneka kue seperti banana cake yang siap menjadi teman ngopi. Ada pula coklat ready to drink di chiller, sedotan stainless yang dijual, serta air putih dan gelas yang disajikan untuk para pelanggan. Semakin siang, para penikmat kopi pun mulai berdatangan. Kasir mulai antre dan saya sudah menikmati es kopi ini sekejap saja.

“Haus dan suka akutu, tan. Udah tiga hari enggak nemu es kopi susu yang enak. Akhirnya,” kata saya.

Mungkin sekitar 30 menit, kami duduk di lantai pertama untuk menikmati segelas es kopi tuku. Rasanya yang creamy dan kopinya yang cukup kuat membuat Toko Kopi Tuku layak dijadikan es kopi susu yang harus dibeli.

“Waktu itu sih Tuku kemarin lagi aneh, sekarang mah bener,” kata Fathan.

Suasana kasir di Tuku BSD

Toko Kopi Tuku Pasar Santa

Selain bertandang ke Tuku di BSD, saya pun berkesempatan untuk menemukan oase lainnya di tengah hiruk pikuk perdagangan Pasar Santa. Awalnya, niat saya memang ingin berkuliner ria ke Pasar Santa untuk mengetahui seperti apa bentuk Pasar Santa. Setelah dilihat dan dikelilingi hampir 3 kali, Pasar Santa mirip sejenis Pasar Ancol di Karapitan, jika dilihat dari bentuknya.

Pasar ini punya sekitar tiga lantai, atau dua lantai ya? HAHA. Di lantai pertama, banyak pedagang baju, lampu, bunga, dan macam-macam dagangan lainnya. Naik ke lantai dua, ruko-ruko pedagang makanan dan minuman bertebaran. Mulai dari batagor, dimsum, ayam geprek, kopi, sampai seniman craft!

Beberapa ruko kuliner di lantai ini menghiasinya dengan sejuta cara. Ada ruko yang terlihat estetik, elegan, biasa saja, indie, dan kantin biasa. Semua mengemas rukonya dengan caranya sendiri.

Seperti kopi Diselatan Jakarta. Saya memesan es kopi susunya Diselatan Jakarta dengan harga kurang dari Rp 20,000. Saya lupa harga tepatnya. Meski di ruko kecil, mereka mendesainnya dengan unik dan menarik. Di pinggirnya terdapat banyak sticky notes warna-warni (tentu denga catatan masing-masing), meja bar yang penuh dengan kopi, kapiten beer, serta perintilan unik dan lucu. Belum lagi di luarnya yang diberikan sofa kecil atau tiga tempat duduk untuk sekadar duduk.

Kemudian, saya juga mampir ke Toko Kopi Tuku Pasar Santa. Mereka sedang bersiap-siap membuka gerainya pada pukul 12.00 WIB. Namun, mereka resmi beroperasi setelah jam 13.00.

Toko kopi Tuku Pasar Santa cukup unik. Rukonya yang dibuat unik dan menarik membuat para peminat tertarik. Mereka membuat kotak ruko menggunakan kayu. Tak lupa, karena rukonya tepat berada di depan tangga menurun, mereka hias dengan pot-pot bunga yang membuat garis antrean. Antrean itu khusus pesanan abang ojek online.

Di tengah ruko, tepat di depan kasir, terdapat air es dengan potongan jeruk. Siapa yang tahan untuk tidak menyentuhnya? Panasnya Jakarta akhirnya dapat sejenak hilang oleh segelas infused water gratis.

“Saya pesan mocca peppermint ya mbak,” ujar saya.

“Wah, enggak ada,” katanya.

Tampak depan Tuku Pasar Santa
Antrean Ojek Online untuk pemesanan Tuku

Sedih juga setelah dua Tuku tidak menyiapkan Mocca saat saya ke Jakarta. Akhirnya, saya pun mencoba Cappucino untuk dibawa pulang.

Tempat duduk-duduk santainya terbuat dari kayu. Ia simpan di sebelah kiri ruko yang sejalan dengan lorong pasar. Juga di sayap kanan ruko dan di bawah tangga. Mereka tetap dihiasi dengan pot-pot bunga supaya terlihat segar. Tuku memang menjadi ruko paling mentereng jika saya lihat. Ia adalah sebenar-benarnya Oase di tengah Pasar Santa, dan Jakarta.

Area nongkrong Tuku Pasar Santa
Pemandangan Tuku Pasar Santa
Infused water gratis

Kalau di Bandung, ada es kopi susu yang mirip kayak Tuku, enggak Fat?

Sejujurnya, Bandung memang paling favorit kalau soal ngopi! Selain di setiap tikungan ada, kedai kopi di Bandung punya ambience atau atmosfirnya masing-masing. Soal rasa, biasanya jadi nomor dua. Kalau aku, pasti soal rasa dulu, baru tempat. Kalau rasa enak tapi tempat enggak enak, ya cari alternatif lain : Go-Foodin aja! WKWKW.

Sampai saat ini, untuk mencari es kopi susu yang creamy bisa datang ke Ssst Coffee di Jalan Kliningan Buah Batu dengan harga Rp 18,000. Tapi, buat yang suka kopi, kamu harus pesan double shot espressonya sih.

Kedua, kamu bisa pergi ke Coffee Bawa di Jalan Anggrek kawasan Riau. Harganya juga Rp 18,000. Lebih terasa kopinya kalau ini, tapi masih tetep creamy.

Buat yang enggak suka kental banget, aku saranin Es Latte Imah Babaturan yang rasanya mancap meski es batunya sudah mencair (baca soal Imah Babaturan di sini ). Bisa juga Kozi Coffee di Jalan Progo, di dalam CMYK Unpad. Terus bisa ke Custom Coffee Garage juga di sekitar Masjid Al Ukhuwah, di gang pasar besi. Harganya? Rp 15,000 – Rp 20,000 aja.

Coba deh baca : 5 Tempat Ngopi di Buah Batu

Selamat menjelajah lebih jauh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *