Pernah Salat Idul Fitri Sendirian Sambil Ngetik

Pernah Salat Idul Fitri Sendirian Sambil Ngetik

14 Juni 2018. Lapangan Gasibu saat itu masih kosong, tepat sekitar pukul 05.30 WIB. Speaker besar berjejalan di sepanjang lapangan. Tali rapia menjuntai dan memanjang merekat di lapang hijau serta area lari. Gedung Sate masih cantik merona kelap kelip lampu ungu yang berpendar menjadi oranye, merah muda, kuning, dan hijau. Lampu-lampu kecil di bawah taman Gasibu pun masih remang. Langit belum memunculkan warnanya, abu kegelapan.

Saya masih tercengang, idul fitri sudah di depan mata. Di hari ini, saya sendiri, tidak memakai baju kebesaran, muka sekenanya dengan polesan bedak dan gincu tipis, pun sepatu yang biasa dipakai bekerja. Jangan tanya, mungkin hanya kemeja putih menjuntai hingga lutut yang menjadi balutan simbol merayakan lebaran.

Tidak ada ibu, bapak, dan adik-adik yang biasa menenteng koran serta sajadah. Bahkan, mukena pun belum saya pakai. Mukena yang dibawa hanyalah mukena tipis biru parasut supaya lebih ringan dimasukkan ke tas. Melihat ke kanan dan kiri, semua sibuk dengan keluarganya. Berswafoto ria, sedang saya sibuk menata diri untuk segera mengetik cepat apa yang didengungkan khatib.

Lebaran kali itu menjadi penuh warna, sekaligus candu suasana. Usai salat, saya mengeluarkan gawai dan menekan tombol catatan. Setiap kalimat khatib, saya ketik segera. Belasan tahun sembahyang id, rasanya baru kali ini (terpaksa) memahami dan mendengarkan setiap perkataannya.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillaahil hamd,”.

Tak lupa, kutipan doa yang disertai jumlah penghimpunan zakat se-Jawa Barat. Tentu jumlahnya yang miliaran rupiah saya ketik dengan tepat. Lantas, buru-buru mengerubuni mantan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan yang baru saja purna dari tugasnya selama 10 tahun duduk di Gedung Sate.

Aher membawa sejadah dengan selendang putih di bahunya. Disampingnya, sang istri Netty menggunakan kerudung putih dengan senyum yang amat lebar. Ratusan orang mengantre meminta salam kepada dua tokoh besar Jabar. Mulai dari yang ajak berswafoto hingga mengobrol panjang. Belum lagi para tokoh yang sibuk menunggu Aher dan Netty bersalaman dengan warga.

Pun wartawan yang menunggu dua tokoh itu selesai bersalaman. Setelah menunggu berdiri, akhirnya waktu tiba untuk melakukan doorstop, wawancara langsung di tempat sembari menodong rekaman ponsel. tak lupa foto yang jernih lantaran cahaya matahari telah menyembul menyinari. Panas.

Di balik pohon di Gasibu, saya duduk di tangga marmer sembari mengetik apa yang tadi dibicarakan. Dua berita pun selesai dan saya segera melipir menuju tempat makan. Pendopo Wali Kota Bandung menjadi tujuan kedua.

Open House di Pendopo cukup ramai dengan para tokoh agama baik muslim, kristiani, buddha, hindu, dan katolik. Para aparat Dishub pun sibuk mengantre prasmanan untuk menyendok sepiring gulai dan ketupat. Juga sate yang menggoyang lidah. Sarapan pertama setelah sebulan tidak makan pagi di pukul 09.00.

Saya duduk, mengambil minum dan agar-agar, juga siomay dan bandros. Kemudian melihat orang-orang sibuk makan dan menyalami Penjabat Sementara Wali Kota Bandung, Solihin.

Solihin terus menyunggingkan senyum. Pribadi yang ramah dan bersahaja, serta santun kepada semua orang. Hal ini diamini oleh satpam pendopo yang mengungkapkan keramahan Solihin selama menjabat menggantikan Ridwan Kamil.

Solihin dan keluarga.

Solihin tak pernah alpa menyetok kopi dan mi di pos satpam, membuka jendela atau turun dari mobil untuk bersalaman dengan para penjaga, atau bertanya soal keluarga satpam di rumah.

Setelah Solihin berfoto dengan berbagai lini masyarakat, para wartawan pun mewawancarainya seperti biasa. Usai itu, saya pun pulang dan makan es krim ditawari teman.

Sibuk bekerja di hari lebaran adalah momen penuh rindu. Di sisi lain jauh dari keluarga, tak bertemu sanak saudara, atau mencicipi kue lebaran sepanjang meja. Namun, pengalaman adalah harga yang tak ternilai dari apapun yang bisa ditawar.

bandros

Seseorang pernah berkata, bahwa hidup harus berbagi peran. Ketika yang satu tengah damai di rumah, bercanda dan bersuka cita, sebagian orang pun tengah melayani mereka dengan mulia supaya manusia-manusia lain bisa tetap aman. Sebut saja dokter, suster, polisi, kasir supermarket, pelayan SPBU, dan wartawan.

Tidak munafik, selain membutuhkan uang untuk hidup, mereka pun bekerja dengan hati. Lantas tidak semena-mena mengeluh dan tak melayani baik para pelanggannya. Juga para wartawan yang tetap teguh untuk mengiyakan titah redaksi demi situs tetap terkini. Siapa yang mengetahui kondisi lebaran di kota ini dan itu? Bagaimana bisa mendapatkan informasi lalu lintas saat mudik di hari H?

Hidup itu berbagi peran, memang benar adanya. Lantas, tinggal manusia memilih.

14 Juni 2018, saya pernah mengetik di Gasibu, menunggu langit membiru hingga berkumandang takbir, dan pulang hingga lapangan bersih tiada manusia. Kota Bandung sepi sebab tengah berkutat di rumahnya masing-masing. Kemudian pernah mencari makan di Pendopo dan mencari informasi yang layak tayang di hari lebaran.

Salat Id tahun ini, saya kembali ke pangkuan keluarga. Mungkin akan sedikit rindu pada waktu di mana saya ditinggal seminggu di rumah. Tidak mencicipi aroma masakan nenek, serta lembutnya kue salju. Namun, saat itu saya bertekad, setelah mendapatkan cuti kerja, saya akan bertandang ke rumah nenek.

Keinginan itu pun tercapai. Januari 2019, saya cuti dua hari hanya untuk bertemu nenek di Banten. Setelah tidak bertemu setahun lamanya, lantaran tidak menjenguk di waktu lebaran.

Sampai nanti, sampai bertemu kembali di rutinitas penuh adiksi. Mungkin nanti, atau tidak sama sekali. Tetapi masih berharap untuk berada di waktu-waktu seperti itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *