Kok Jalan-Jalan Terus, Emang Kerjaannya Apa?

Kok Jalan-Jalan Terus, Emang Kerjaannya Apa?

Enggak satu dua orang yang bertanya, gimana caranya bisa rajin traveling. Hai hai pemirsa, ini memang pertanyaan lazim yang biasa ditanya oleh warganet. Apalagi bagi mereka yang kerap melihat media sosial kita di Instagram penuh dengan foto luar kota, luar negeri, atau di kota sendiri. Percayalah, tidak semua travel blogger atau travel instagramer bisa ujug-ujug traveling gratis atau liburan borju.

Pada umumnya, warganet kerap men-generalisasi sesuatu dari media sosial dari keindahan yang ditampilkan . Tidak salah jika mereka menilai seseorang dari media sosialnya. Namun, ada satu pemahaman yang mesti diketahui oleh pengguna media sosial.

Pengguna media sosial cenderung menampakkan kebahagiaan, sisi positif , kesenangan, dan informasi.

Setiap pengguna akan menilai dari sudut pandangnya masing-masing. Ada yang menilai sebuah akun menjadi sumber inspirasi, informasi baru, pengetahuan, bahkan menjadi bahan julid. Tak heran, pertanyaan akan datang dari berbagai sisi.

“Kok bisa traveling terus, kerjaannya apa sih?”

“Ih, pasti gaya hidupnya tinggi, glamor abis,”

“Enak ya dia, kerjaannya jalan-jalan mulu,”

Tapi, ada juga pengikut yang memang melihat sebuah akun secara positif.

“Kak, kalau ke sana gimana caranya?”

“Kak, edit pakai aplikasi apa?”

“Kak, apakah bisa melewati jalan ini menggunakan bus?” dan lain-lain.

Orchard Road, Singapura
Nusa Ceningan, Bali.
Kampung Senyum, Subang.

Pernah seseorang bertanya pada saya, kenapa bisa jalan-jalan terus, gimana caranya, dan lain-lain. Dengan santai, saya bercerita. Banyak jalan menuju negara sebelah dengan usahanya masing-masing. Ada yang dari tuntutan pekerjaan, pendidikan, program, dan uang pribadi.

Dulu, waktu SMA, saya ingin sekali pergi ke luar negeri gratis untuk mendapatkan pengalaman dan nilai (experience and value). Apalagi saya rutin membaca sebuah blog seorang pelajar yang berhasil ikut program pertukaran pelajar ke Amerika. Alhasil, saya ingin sekali ke sana. Karena ingin merasakan tinggal bersama warga lokal, bercampur baur dengan warga dengan bahasa dan budaya yang berbeda, serta lingkungan negara yang berbeda dari negeri asal.

Baru saja seleksi pertama, saya sudah gagal. Namun, keinginan saya yang terus berada dalam otak (udah di alam bawah sadar kayaknya), terus mencari cara bagaimana bisa berbaur dengan warga lokal di negara lain.

Pertukaran pelajar memang opsi yang membutuhkan kecerdasan dan bahasa inggris yang lumayan dong ya. Karena saya anaknya agak kurang percaya diri sama kemampuan buat pergi ke luar negeri dari prestasi akademik gitu, saya yakin pasti ada cara.

Keinginan pertukaran pas kuliah juga udah sirna gitu aja. Sibuk kuliah-kerja paruh waktu buat saya udah pupus aja ikutan program apapun yang bisa ke luar negeri. Anaknya yang enggak terlalu suka berjuang sama seleksi-seleksian gitu bikin saya hmmmm, kudu cari cara lain. Nabung aja ah.

Saya bekerja jadi reporter internal sebuah yayasan yang dibayar tiap bulan. Tahun keempat kuliah, saya sudah merencanakan untuk menabung dari awal tahun. Rencana itu akan saya telurkan di akhir tahun usai sidang sarjana. Jadi, saya punya cara menabung ala Fathia yang super maksa dan nekat.

Menuju Bali se-RT! Berenam supaya tiketnya murah. Ini salah dua orangnya aja.
Kampung Jodipan, Malang.
Gunung Bromo.

Googling tiket pesawat ke daerah Asia Tenggara aja dulu, eh ternyata murah juga. Gak se-wow yang saya bayangkan. Jadi, setiap bulan saya nabung untuk mewujudkannya. Mulai dari buat paspor yang datang ke Imigrasi jam 05,30 WIB, bulan kedua beli tiket pergi, bulan ketiga beli tiket pulang, bulan keempat bisa pesen hostel 300ribuan, bulan selanjutnya nabung Dollar Singapura sama ringgit.

“Ah si Fathia mah duitnya banyak pasti”.

Ah elah, hellow, ya. Emang gak akan ada habisnya perjulidan. Barangsiapa yang udah melemahkan dirinya sendiri, ya enggak bakal mampu.

Saya menabung hasil kerja sendiri. Saya sisihkan uang mulai dari menukar 800ribu, sejuta, sampai 1,2 juta aja ke Money Changer tiap bulan. Haha. Malu emang, orang lain mah antre buat nuker puluhan juta :,) Bukan cuma dari kerjaan aja, karena uang itu juga hasil jualan daring juga.

Tapi dari situ, saya juga jadi udah yakin bakal pergi, toh udah ada tiket di tangan. Setiap bulan saya susun mau kemana aja, jalan pake apa, gimana rutenya, dan lain-lain. Saya juga udah mencanangkan kapan saya pergi. Jadi, saya terdorong buat segera sidang sarjana. Kepanikan yang dibuat sendiri jadi bagus kan. Lantaran sudah memasang tanggal pergi, kalau sidang bulan itu enggak mulus, wah rencana gagal dong.

Pertama kali naik pesawat dan pergi ke luar negeri yang rada hemat banget membuat saya enggak makan nasi di Singapura (mahil ih ya Allah aku mah beli makan di Seven Eleven aja). Siapa coba yang mau unggah itu di Instagram? Tahunya kan Fathia foto-foto cantik aja di gang-gang kece, instagramable, makan eskrim lucu (padahal murah), terus foto-foto pake editing yang oke.

“Oh jadi sampai gitu ya? Bukan liburan borju?” lanjutnya.

Mana ada sheyeng. Oke skip.

Kembali ke dalil awal, media sosial cenderung memperlihatkan sisi baik, positif, dan kebahagiaan. Lah memang iya, karena instagram saya diniatkan untuk menjadi referensi perjalanan dan bisnis. Jadi, buat orang-orang yang stalking dan julid, biarlah jadi angin lalu. Lantaran kita bisa melakukan hal yang kita sukai untuk menjadi profesi kita.

Contoh, jika Anda ingin menjadi dokter, apa yang anda lakukan? Tentu kuliah di Fakultas Kedokteran, sebelumnya bimbel dulu, bayar praktek, kudu ngekos kalau jauh kampusnya dari rumah, dan lain-lain. Nantinya jadi dokter buat profesi kan? Buat pekerjaan, membantu orang sekaligus menjadi ladang penghasilan?

Begitu pun saya yang ingin serius menjadi travel blogger berusaha mewujudkan langkah itu dengan membuat konten dari pribadi supaya bisa dikenal dan dipercaya oleh perusahaan lain. Barangkali nanti bisa diajak kerjasama dalam hal perjalanan dan pariwisata. Kemudian jadi profesi dan menjadi ladang nafkah di samping memberikan informasi lewat instagram dan blog pribadi. Tak perlu disebut, sejak keluar kuliah, mungkin dua tahun ini, sudah ada beberapa yang mempercayai instagram dan blog saya untuk diajak kerjasama.

“Wah liburan terus ya instagramnya,”.

Kadang saya enggak boleh ketawa sama pertanyaan di atas. Pengen jawab, ya iyalah atuh sheyeng kan instagram saya dibuat untuk jadi referensi perjalanan. Kalau unggahnya lagi di laboratorium, di rumah sakit, atau di markas militer, ya beda profesi (?). Tentu liburan terus, toh unggah foto pas jaman-jaman liburan kemarin. Fathia emang anak latepost, jadi dikiranya pas aku unggah, saat itu aku pun lagi liburan! WKWKWK. Oke, self-branding aku belum maksimal, ya warganet.

“Jadi, kok bisa liburan terus?”.

Alhamdulillah, rajin nabung aja. Bukan cuma nabung, tapi dirinciin aja nabungnya. Terus, kalau mau murah ya ajak sharing sama yang lain, ikut banyak lomba jalan gratis, dan berkecimpung di dunia blogging. Apalagi setahun terakhir saya menjadi seorang wartawan yang kerjanya jalan-jalan. Serius! Tiap hari beda tujuan, beda tempat, dan beda ketemu orang. Mulai dari liputan serius, santai, main-main, dan bikin jangar sudah dilewati. Meski setahun, setidaknya saya jalan-jalan full setahun di Bandung Raya. Alhamdulillah.

Wisata Mangrove pakai perahu di Nusa Ceningan, Bali. Rp35k aja.

“Iya, postingannya makan enak mulu, di hotel, ngafe, ngopi mahal aja terus. Gaya hidupnya terlalu glamor!”

Hai, percayalah. Itu mah kebanyakan makan gratis undangan liputan 🙂

Terima Kasih, dan selamat berjalan lebih jauh supaya bisa belajar banyak hal dari banyak kejadian, peristiwa, tempat, dan sosok supaya hati dan otaknya lebih lapang. Semoga kita sama-sama terus diberi kesempatan. Aamin!

Makan Enak di Hotel Savoy Homann karena undangan blogger.Yihiw!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *