Berbincang dengan Sahabat Karib Prabowo

Berbincang dengan Sahabat Karib Prabowo

Tidak, bukan tentang siapa yang saya dukung atau tidak. Lagi-lagi, suasana memanas perihal hitung suara presiden yang memekakkan mata, telinga, otak, dan hati para manusia membuat saya ingin mengingat memori kemarin. Saya pernah berkesempatan untuk mewawancarai Teddy Kardin, yang dikenal sebagai “Raja Pisau” alias pembuat pisau ternama.

Kalau bukan disuruh pemimpin redaksi di mana saya pernah bekerja di media lokal, saya mungkin tidak akan mendengar kisah mahal Teddy yang bertualang sebagai geolog ke hutan-hutan di Indonesia dan membantu perang di Aceh, Timor Timur, hingga Irian Jaya. Teddy bukanlah orang yang membawa parang atau senjata untuk memusuhi lawan. Lewat kecerdikan dan pengalamannya sebagai geolog, ia menjadi orang yang memetakan strategi untuk mengepung musuh. Tentu hal ini tidak diajarkan di bangku kuliah saat ia menempuh pendidikan di ITB. Ia dapatkan saat bekerja untuk beberapa perusahaan besar sebagai Geolog tersebut.

Kisahnya yang panjang tentu tidak langsung serta merta menceritakan pengalamannya menjadi teman baik Prabowo. Ia bercerita soal mahalnya pisau hutan yang berfungsi untuk penjagaan diri di hutan serta bagaimana awal mula ia bisa berbisnis di ranah pisau ini. Namun, yang paling seru dari cerita panjang sekitar satu jam itu, saya ingat Teddy mengatakan tentang Prabowo.

“Prabowo itu orang pintar, cerdas sekali, dia sahabat saya,” ujarnya, di Hegarmanah, Bandung, pada bulan April 2019.

Teddy tidak mengenal Prabowo. Namun, lewat temannya, ia pernah diminta untuk mengisi pendidikan soal navigasi kepada para peserta didik militer.

Namanya pun akhirnya tercium kepada Perwira Tinggi Militer Indonesia saat itu, Prabowo. Calon Presiden 02 itu pun pernah meminta langsung supaya Teddy bisa membantu navigasi untuk mengepung musuh dalam peperangan. Lewat Teddy dan ketangkasan para TNI, musuh-musuh pun bisa dikepung lewat strategi navigasinya.

“Selama perang, saya tidak dibayar, saya menolak bayaran karena saya Wanadri, ini SAR,” ujarnya.

Teddy berkisah banyak soal Prabowo yang tak pernah lupa kepadanya jika bertandang ke Bandung. Prabowo selalu menyempatkan waktu untuk bertemu meski hanya pada waktu makan malam saja.

Oleh sebab kiprahnya dalam membantu pertahanan keamanan Indonesia dalam perang, ia pun mendapatkan lencana dari negara dan puluhan prestasi lain yang memenuhi dinding rumah produksinya di Hegarmanah.

“Sekarang saya berburu babi hutan aja, di Lembang, atau di mana, buat makan doggy,” kata Teddy.

Teddy kardin

Bapak dua anak ini masih gagah, Setiap pagi, atau siang, ia masih menyalakan mobil landrovernya yang berjejer di Hegarmanah. Sekadar berputar ke Ciumbuleiut supaya mobil gagah itu tetap bersuara.

Kini, anaknya yang mengurus Teddy Knives. Usaha pembuatan pisau yang sudah lama berjalan. Meskipun permintaan menurun, Teddy tetap membuat pisau. Mulai dari pedang untuk samurai, pisau dapur, pisau golok, hingga pisau hutan.

“Ya kan orang-orang udah tahu gimana buatnya. Ada yang dari sini terus keluar, dia buat di luar,” jelasnya.

Teddy memang sudah tua. Tapi perawakan dan suaranya tetap gagah dengan sebatang rokok di tangannya yang habis dimakan api. Obrolan kami menguap bersama kepulan asap rokok dan teh panas di gelas besar. Kemudian, saya pun segera menghabiskan teh yang sudah disajikan sedari awal atas titah Teddy Kardin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *