Belajar Berlari pada Seorang Perempuan

Belajar Berlari pada Seorang Perempuan

Semua orang memanggilnya perempuan tangguh. Ia berlari, setengah berlari, atau jalan santai menemui siapa saja yang hendak ia pinta ucapannya. Nada notifikasi dari ponsel terus berbunyi, lantaran detik terus melaju sedangkan surel belum saja dikirim.

Perempuan itu datang dari kota di Jawa Barat yang waktu tempuhnya bisa 3-4 jam dari Kota Bandung. Kabupaten Subang, tepatnya. Di mana sinar matahari menyembul di balik jendela kamar, serta padi yang kehijauan menghiasi dinding kotanya.

Kendati telah tinggal lama di Kota Bandung, mungkin sejak ia duduk di bangku kuliah, perempuan itu telah mencintai Bandung sepenuh hatinya. Dari angkotnya, kemacetan Bypass, Balai Kota dan tanamannya, atau Masjid Al Ukhuwah dan Gedung Sate. Oh, belum lagi Polrestabes Kota Bandung dan Polda Jabar yang kerap ia sambangi.

Sosok perempuan ini justru mengalami hal-hal baik dan mudah dalam pekerjaannya pada detik-detik terakhir sebelum meninggalkan media di mana ia bekerja. Memang, tak semudah menggambarkan tulisan ini. Pekerjaannya yang cukup membuat ia pening harus segera mengakhirinya.

Ia mencintai sudut masjid di Gedung Sate, serta Taman Sejarah yang selalu ramai ditempati agenda Bandung Menjawab ala Pemkot Bandung. Bersama wartawan lainnya, perempuan ini cukup mencolok. Ia lebih sering dikenal perempuan di antara laki-laki lainnya. Karena pekerjaannya yang mengharuskan ia menulis soal kriminal dan hukum lebih banyak. Atau, berita-berita yang banyak klik seperti keyword “Ridwan Kamil” misalnya. Supaya bonus viewer melenggang di kantong rekening bulanannya.

“Selama tiga bulan dapat bonus (gaji) akibat viewer yang cukup meledak. Kalau bukan soal RK, ya waktu itu soal Hoax Ratna Sarumpaet,” ujarnya.

Saat itu, kami bertemu di Bandung Menjawab. Itu hari terakhir di mana ia bekerja sebagai wartawan. Bersama dua ponsel yang ia selalu pegang, juga tas punggung dan kerudung pashmina, kami memutuskan untuk merayakan dengan semangkuk mi instan di tukang cuanki gerobak panggul.

Seperti biasa, sembari menunggu, kami berbincang di teras tangga dekat kantor Kesbangpol Pemkot Bandung yang menghadap ke Museum Kota Bandung. Tak banyak pertanyaan, perempuan itu fasih menjelaskan berbagai kemungkinan dan carut marut redaksi di media yang tersohor di Jawa Tengah dan Timur.

Kalau diceritakan kapan saya bertemu, saya masih ingat. Saat meliput rangakaian acara KAA 2018. Saya disuruh meliput Night at the museum, dan di sana ada Sifath, perempuan asli Subang ini. Meski hanya bersalaman dan bertegur bahwa dirinya selalu jadi bahan sebutan rekan kerja se-media, ia hanya tertawa.

Kali kedua kami bertemu dalam hari raya Idul Fitri. Saat itu saya bertugas ke Pendopo Wali Kota Bandung. Ia berada di sana.

“Udah dari pagi, udah makan juga,” ujarnya.

Kami sempat berfoto dan tidak banyak bicara.

Entah kapan sejatinya saya semakin dekat. Mungkin saat saya ditugaskan ke Balai Kota serta Hukum dan Kriminal. Menjajal riuhnya Pengadilan Negeri Bandung dan gersangnya Polda Jabar sudah mendekatkan kami. Tak lupa Masjid An Nur yang berada di dalam pengadilam menjadi tempat “ngadem” usai melihat putusan, vonis, banding, keterangan saksi, dan lain-lain.

“Ini maksudnya apa sih?” ujar saya yang belum tahu bagaimana cara menulis berita persidangan.

Belum lagi drama Bahar bin Smith. Kami menunggu hampir 12 jam di Polda Jabar untuk menemui sang Bahar. Ia dengan peci putih, sarung, dan koko putih turun dari mobil. Wartawan berjejalan untuk mendapatkan keterangan dan foto terbaik dari Bahar si rambut pirang.

“Rasanya bukan ingin meliput bagaimana Bahar berada. Aku ingin bertanya, bagaimana cara merawat rambut pirang ala Bahar bin Smith,” kata saya dalam hati, yang akhirnya terucap juga kepada Sifath dan salah satu wartawan.

Saya masih ingat bagaimana kami hanya dua orang perempuan wartawan di antara belasan wartawan lelaki. Ada yang menggunakan kamera TV, kamera DSLR, handy cam, atau hanya ponsel genggam.

Kami menunggu hingga pukul 20.00 WIB. Padahal, konferensi pers dari Polda saja belum mulai. Takut dimarahi ibu, akhirnya saya “nitip” kepada Sifath dan wartawan lain yang dikenal lantaran saya harus pulang.

Esok hari, saya tumbang. Saya izin tak masuk kerja.

Sifath adalah perempuan yang punya tekad kuat. Ia bisa menembus dinding Pengadilan dan ranah kriminal lainnya. Tak gentar ia masuk ke berbagai ranah mulai dari pemerintahan, olahraga, dan desk lainnya. Buat sebagian media, setiap wartawan biasanya memegang satu sampai dua desk. Untuk Sifath, dia memegang Jawa Barat.

“Aku kudu nelfon Kapolsek Sumedang,” katanya.

Sumedang cenah guys~ Bandung aja luas yha….

Selamat mengarungi kehidupan yang bermuara dari tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *