Mengenal Turki Lewat International Volunteer Program Garis Tawa

Mengenal Turki Lewat International Volunteer Program Garis Tawa

garis tawa
Garis Tawa dan Murat (General Manager of TOG)

Hampir satu bulan lamanya saya tidak menulis soal Turki yang sudah lama ditunggu oleh teman-teman, khususnya teman instagram. (pede amat). Padahal, ke Turki sudah satu bulan yang lalu, lho. Semoga saya masih ingat setiap detailnya, teman-teman.

Sebelumnya, saya mau memberi informasi kok bisa sih ke Turki. Ada acara apa sih? Kerjaan atau sekadar liburan. Sekalian menjawab pertanyaan teman-teman di Instagram, apalagi yang belum baca soal highlight Turkey di instagram saya, jadi bakal dijelaskan di sini.

Komunitas Garis Tawa

Teman semasa kuliah S1, Wine Anita Tesa, mengajak saya untuk bergabung mendirikan sebuah komunitas sosial Garis Tawa. Ia bermimpi untuk membuat komunitas yang bisa menyebarkan kebaikan dan kebermanfaatan secara langsung. Kami, (Wine, Dara, Nurul, Restu, Nurul Mbae, Fathia) berkumpul di sebuah tempat makan di Gegerkalong, dekat kampus kami Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. Di sana kami membahas program ke depan yang akan dilakukan oleh Garis Tawa.

Intinya, Garis Tawa menjalankan tiga program. Program mingguan itu BAGIMU (Berbagi Untukmu). Kami menyiapkan puluhan paket makanan yang siap disantap oleh para pengemis, pengepul, tukang becak, dan orang-orang tanpa tempat tinggal yang hidup di pinggiran kota Bandung.

Program bulanan adalah BERJAMU (Belajar Bersamamu). Kami mengajar anak-anak pesantren duafa bernama Al Furqon di Cisarua, Lembang. Di sana kami mengajar mata pelajaran seperti Matematika dan Bahasa Inggris. Beberapa kali kami juga mengajarkan aktivitas softskill seperti memasak.

Program tahunan kami adalah BARUMU (Bangun rumah untukmu) yang berkolaborasi dengan sebuah komunitas membangun rumah di Aceh. Sampai saat ini, kendala kami adalah pendanaan. Sehingga kami tengah berupaya mengumpulkan dana bantuan lewat orang baik di beberapa platform crowdfunding. (Kalau kamu berminat menyumbang dana untuk bangun rumah seorang keluarga, kontak Instagram @garistawa_ ya! Plus yang mau gabung komunitas ini, cus ikut aja kalau ada program Bagimu. Kalau Berjamu (ngajar), ikut pas rekrutmen relawan ya.

Jujur, saya sudah tidak aktif di komunitas ini sejak lulus dari S1. Kesibukan bekerja dan dilarang keluar malam oleh orang tua (program Bagimu itu after 7 PM) membuat saya terbatas berkontribusi tenaga. Jadi, saya ikut BAGIMU bisa dihitung jari. Kayaknya sih tiga kali, haha. Tapi aku masih ingat, saat Bagimu kedua, saya yang mesen makanan haha! Mana waktu itu hujan~ jadi ribet kan nurunin makanan pas hujan wkwk.

Kalau Berjamu, aku cuman datang tiga sampai empat kali ke sana. WKWKW. Pas buka bersama dan pas awal-awal menyusun skema atau ritem Berjamu di Pesantren Al Furqon.

Namun, komunitas ini bertumbuh dengan baik. Dulu, kami sulit menemukan relawan. Saat ini, relawan untuk mengajar saja sudah diseleksi! WOW. Belum lagi relawan yang giat menyebarkan makanan di malam hari. Semua semakin tertata rapi. Good job team!

International Volunteer Program

Suatu hari, founder kami, Wine membagikan infomasi terkait International Volunteer Program (IVP) di grup besar Garis Tawa. Ia menjelaskan bahwa Garis Tawa yang diampunya akan menggelar IVP ke Turki. Tentu orang-orang yang ingin ikut IVP mesti diseleksi. Mulai dari seleksi lewat pengisian google form, pembuatan presentasi, hingga wawancara via Skype.

Tak menyangka, saya yang anaknya “maju aja” diterima sampai tahap wawancara. Sejujurnya enggak pede sih soalnya generasi bawah sudah ahli banget kayaknya soal internasionalan gitu ahaaaahah.

Setelah mendapatkan personel usai pemilihan tahap akhir, sunnatullah atau hukum alam pun terjadi. Satu per satu orang yang sudah terpilih mengundurkan diri. Kami tengah berada di fase “Fundraising”.

Jadi, program ini self funded alias bayar sendiri. Tapi, kami difasilitasi untuk mencari dana atau sponsor bareng-bareng. Sulit? TENTU! Makanya, pas wawancara, Wine nanya mau ngapain nih strategi fundraisingnya?

Intinya, kami terus cari dana buat bisa pergi ke Turki. Rincian dananya tentu akan dibahas di tulisan kedua ya!

IVP ini adalah reward yang diberikan untuk relawan Garis Tawa yang sudah berkontribusi di sini. Wine menjadi jembatan untuk terlaksananya kegiatan ini. Bukan cuma “vacation”, Wine menjembatani kami dengan dua komunitas sosial di Turki.

Pertama, kami janjian sama TOG. Kedua, kami janjian ketemu sama Siyamder Istanbul. Kedua komunitas tersebut tentu telah lama berdiri di Turki. Kami, sebagai komunitas sosial yang baru berjalan dua tahunan ingin menggali pengalaman dari kedua komunitas tersebut.

Rencana kami di Turki yakni ke Istanbul-Pamukkale-Cappadocia. Pamukkale dan Cappadocia memang jadi daftar vacation, Istanbul memang sebagai pusat kota dan tempat kami bertemu dengan dua komunitas tersebut.

Toplum Gönüllüleri Vakfı (TOG)

General Manager of TOG, Murat

TOG (dibaca tog, bukan te-o-ge), adalah sebuah Non- Governmental Organization (NGO) di Istanbul, Turki yang telah berdiri belasan tahun. Berawal dari tujuan mengumpulkan pemuda Turki supaya sama-sama membangun Turki lebih baik, dari segi pendidikan, kemanusiaan, kebencanaan, dan lain-lain.

When talking about TOG to someone who has never heard of it before, or when trying to recruit volunteers, I can quite confidently tell them, “Would you like to create visible change in your life?”

Intinya, orang yang pengen jadi relawan di TOG selalu ditanya, “apa yang mau kamu ubah dan apa rencana kamu?”. Oh ya, TOG juga punya program pelatihan kerelawanan, sustainable social responsibility, Youth council, dan masih banyak lagi. TOG pun sudah berdiri menjadi yayasan juga. Keren!

Siyamder

Kami bertemu dengan tiga anak muda seumuran kami dari Siyamder. Mereka menjadi perwakilan dari Siyamder Istanbul untuk menjamu kami. Kesan pertama bertemu Siyamder sangat hangat dan ramah. Mereka menjamu kami sebagai tamu yang luar biasa. Koordinatornya, Barre (kalau enggak salah), memberi kami turkish delight yang lezat. Juga segelas Turkish Coffee sebagai minuman wajib saat ke sini.

Kami memang tidak banyak berbicara soal Siyamder karena Barre sangat antusias dalam menjamu kami. Kami kurang lebih seperti teman yang lama tidak bersua dan seperti berbagi budaya dan makanan tentunya.

Zizah membawa banyak makanan khas Indonesia sehingga ia memberikan dua snack yakni keripik pisang dan keripik cireng. Mereka juga mencicipi keripik beling yang super pedas! Tak lupa, kami juga presentasi soal Garis Tawa baik kepada Siyamder atau TOG ya~ HAHA.

Wine dan tiga perwakilan dari Siyamder Istanbul

Pertemuan kami bersama Siyamder dan TOG memang menjadi pengalaman berharga. Tentunya kami berharap next IVP akan menjadi lebih baik dan terencana soal pertemuan bersama NGO.

Oh ya, kami bertemu mereka di sebuah kafe ala-ala perpustakaan. Harga makanannya masuk akal lho! Kayak harga makanan di Bandung-Jakarta aja. Harga minuman Rp 30,000- an dan makanan Rp 50,000-an ke atas yang porsinya besar!

Alhamdulillah, sudah diberi kesempatan untuk menggal ilmu dari mereka. Buat kamu yang mau ikut selanjutnya, yuk kontribusi jadi relawan Garis Tawa! Langsung aja kepoin instagramnya ya~

garis tawa
Garis Tawa dan Siyamder Istanbul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *