5 Tempat Liburan Murah Meriah di Pangandaran

Menurutku, Bali-nya Jawa Barat ya Pangandaran! Sebuah tempat yang dikelilingi banyak keajaiban alam dan keindahannya yang menyegarkan. Pantas saja, orang-orang Jawa Barat suka banget pergi ke Pangandaran hanya untuk sekadar short escape atau pergi liburan Idul Fitri. Kalau sudah banyak orang ke sana, pasti tempat ini jadi tempat liburan murah meriah dong?!

Jujur, sebagai wargi Jawa Barat, aku belum pernah ke Pangandaran selaam 24 tahun hidup. Keinginan ke Pangandaran juga enggak begitu kuat soalnya ngerasa kayak “biasa aja deh pantainya. Kayaknya mah pantainya sama aja kayak pantai lainnya”. Sebuah pernyataan dalam kepala yang terhempas begitu saja saat menyusuri Pantai Timur yang birunya seperti Pantai Pandawa, Bali!

Malu sih, oh ternyata ada juga sisi keren Pangandaran. Dua hari ke sana emang enggak cukup. Pasalnya, pergi ke Pangandaran ini bukan “liburan”, tapi “observasi yang dipepetin refreshing sejenak”. Tujuan ke Pangandaran membawa sebuah misi : Finding Geopark Site.

Enggak paham? Ya skip aja. Soalnya aku juga enggak paham banget soal misi yang disuruh oleh Guru kursusku. Jadi, aku mau membagikan beberapa tempat murah meriah di sana yang bisa kamu kunjungi lho.

Jogjogan Hills

Jogjogan Hills, Pangandaran.

Pergi ke Jogjogan ini mengandalkan Google Maps. Jadi, buat kamu yang suka nanya di DM Instagram atau komentar cara pergi ke sana, dengan singkat dan jelas aku jawab : pakai google maps. Aku pun menggunakan mobil pribadi yang mana akan jauh lebih mudah ketimbang ngeteng. Pasalnya, agak sulit juga kalau menggunakan transportasi umum di sini.

Jalur menuju Jogjogan Hills cukup menegangkan. Karena jalurnya hanya cukup untuk satu mobil, kemudian di sebelahnya langsung jurang ??! Takut jatuh dan hal-hal buruk lainnya! HAHA. Tapi, jalur ini masih bisa dilalui mini bus. Kata aku sih mendingan enggak. Lebih baik trekking dari belokan menuju Jogjogan, jadi parkir di sekitar rumah warga (kalau aku hitung ya 2 kilometer-an) . Meskipun mereka punya area parkir cukup luas ya.

Seperti biasa, kamu bakal melihat alam yang membentang luas, laut dari kejauhan, dan kesejukan pemandangan dari atas bukit. Kalau berjalan lebih jauh, kamu bisa ikutan rafting atau melihat Gua Lalay (kelelawar). Karena kami ke sana pada hari kerja (weekday), enggak ada wisatawan kecuali kami ber-5.

Toko-toko pun kosong kecuali tukang warung yang bersedia kami wawancara (buat tugas misi). Tourist Information Center (TIC) pun tutup. Sepi banget! Pengelolaannya pun oleh masyarakat. Waktu yang tepat buat ke sana, menurutku, pagi-pagi sebelum waktu zuhur, atau sore setelah waktu Ashar.

Harga Tiket : Rp 10,000 per orang

Area Parkir : Luas, bisa untuk 30++ mobil biasa.

MCK : tersedia

Warung kopi/makanan : tersedia

Musala : tersedia

Citumang Body Rafting

Citumang Body Rafting

Sebuah life time experience yang selalu aku ingat: Body Rafting di Citumang! Pasalnya, aku mampu mendobrak ketakutanku akan “ngajleng dari atas ke kolam air”. Aku paling takut loncat dari kolam renang. Nah sekarang harus loncat dari ketinggian 3 meter ke sungai yang airnya dalam! Meskipun pakai pelampung, aku takut hahahahah.

Tapi, karena harus segera loncat, aku pun loncat juga. Jujur, paling lemah sih soal adrenalin. Tapi enggak mau kelihatan takut. Jadi diem aja paling bener lah. Terus loncat deh.. Akhirnya.. mau nangis dengan keberanian diri ini.

Meskipun body rafting saat akhir pekan, keseruan menjajal aktivitas ini emang enggak ada yang mengalahkan. Destinasi ini memang sungguh masif. Banyak banget manusia di satu tempat. Kalau mau ke sini, mendingan weekday aja sih paling bener. Cuma, kalau suka sama banyak orang, ya akhir pekan jawabannya.

Ada beberapa loncatan yang harus kamu lalui. Mulai dari 3 meter, 2 meter, 1 meter. Terus, kamu juga bisa lihat gua sebelum melalui loncatan pendek itu. Kalau enggak mau, ya skip aja. Air sungainya yang begitu jernih membuat aku ingin kembali body rafting 🙂 Semoga, destinasi ini tetap bertahan mengusung misi sustainable tourism. Yakni, beberapa generasi setelah kita terus dapat mencoba wisata ini seperti yang kita lakukan sekarang.

Harga : Rp 75,000 per orang

Rp 100,000 per orang (plus nasi liwet usai body rafting)

Warung : tersedia

MCK : tersedia

Kamar Mandi : Rp 3000 (jumlahnya lumayan banyak. Maaf enggak dihitung. Lebih dari 10 wc pastinya)

Musala : tersedia

Penginapan : Hau Eco Lodges Citumang (pesan via situs pemesanan hotel)

Taman Wisata Alam Pangandaran (Cagar Alam Pangandaran)

Rusa di TWA Pangandaran

Pangandaran memiliki Cagar Alam seluas lebih dari 200 hektar. Pastinya, sebagai wisatawan umum, kita enggak bisa sembarangan masuk ke Cagar Alam. Tapi, kamu bisa mengunjungi Taman Wisata Alamnya yang memiliki 6 gua alam dan 1 gua Jepang.

Di sana juga terdapat Situs Batu Kalde. Ada batu sapi dan reruntuhan batu bekas kerajaan. Selengkapnya, kamu bisa mengetahui informasinya di sana. WKWKWK.

Selain pohon yang menjulang, kamu bisa masuk ke gua-gua alam tanpa bayar. Aku menjajal ke gua yang sempat menjadi lokasi syuting Mak Lampir. Gua ini menembus ke Pantai Timur Pangandaran yang kecenya Masha Allah!

Setelah mengelilingi Taman ini, saya dan teman-teman duduk sebentar mencoba kelapa muda di pinggiran (masih di kawasan TWA Pangandaran) seharga Rp 10,000.

Harga : Rp 16,000 per orang (Bisa naik harga kalau akhir pekan. Informasi dari teman, ia membayar Rp 21,000).

Musala : tersedia

MCK : tersedia

Pusat Informasi : tersedia

Penginapan : di luar TWA Pangandaran, banyak hotel-hotel yang berjejer. Seperti Grand Aquarium atau Horison. Kalau saya, menginap di Menara Laut dan Uni Beach. Hanya 5 menit menggunakan kendaraan.

Kalau di dalam TWA, ada penginapan (wisma). Biasanya, peneliti yang menginap di sana.

Pantai Barat Pangandaran

Karena saya dan teman-teman menginap di Menara Laut Hotel dan Uni Beach Hotel (bersebelahan), makanya kami bisa main di Pantai Barat Pangandaran. Lokasinya di Jl. Bulak Laut, Pantai Barat, Pamugaran, Pananjung, Kec. Pangandaran.

Di sepanjang jalan, terdapat banyak hotel dan penginapan. 100 meter di depannya adalah pantai. Jadi, hotel dan pantai terhalang oleh jalanan. Selain menikmati suasana pantai, kamu bisa beli ikan asin hahahaa. Ada juga horse-riding di pantai. Harganya, kurang tahu berapa karena temanku yang menaikinya~

Kalau malam hari, kamu bisa naik odong-odong. Sebuah aktivitas mengayuh pedal yang bisa dinaiki 1-4 orang. Odong-odong yang berwarna-warni ini disertai musik keras. Harganya, bebas. Entah mengapa si bapak-bapak ini pas ditanya katanya seikhlasnya. Tapi, dia akhirnya bilang Rp 20,000 aja (per odong-odong).

Desa Wisata Cikalong

Di Cikalong, Sidamulih, Pangandaran, ada sebuah desa wisata yang menawarkan kesejukan pemandangan sawah dan kolam besar yang jadi sumber mata air bagi ratusan hektar sawah. Di kebun tersebut, terdapat saung dan atraksi wisata yakni makan di kebun.

Katanya, mereka akan mengembangkan desa wisata tersebut dengan membuat saung-saung. Nanti, setiap minggu, bakal ada pasar yang menyajikan makanan tradisional.

Pas ke sana, kami disuguhi makan siang yang lezat. Pilihannya adalah ayam, ikan laut, atau ikan tawar. Kami memilih ikan laut saja. Teman makannya adalah lalapan terong dan timun, sambal, serta sayur gedebog pisang.

Sebuah pengalaman menarik, makan di tengah kebun disertai angin sepoi-sepoi. Sembari menyeruput teh panas, kami pun disuguhi getuk. Asyik banget~ Kalau ke sini, memang harus rombongan. Terus, kamu perlu menghubungi desa tersebut. Soon, aku bakal kasih tahu nomor kontak bapaknya ya.

Harga makan : Rp 30,000 per orang

MCK : tersedia, namun terbuka (pakai bambu)

Jajanan Tradisional : tersedia

liwet
Lunch at Cikalong Village

Selamat Menjelajah Lebih Jauh!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *